8 tahun cerpenmu

Cerpen Mal di Hutan

Spread the love

Cerpen Mal di Hutan





Cerpen Karangan: Noli
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 5 May 2022

“Mal ini selalu ramai dan banyak pengunjungnya!”

Di sebuah jembatan, sebuah Van melaju kencang.
Di dalamnya, Jef, Ron, dan Vox tengah tertawa ria, melewati liburan mereka yang ‘gila’.
Mereka gemar berlibur dengan mengelilingi daerah ataupun tempat yang baru dengan mobil Van mereka, karena itulah cara mereka berlibur.
Namun liburan ini berbeda dari sebelumnya yang mereka lewati.

“Apa kau yakin ke arah ini?” Tanya Jef pada Vox yang sedang menyetir.
“Ya, orang orang berkata bahwa mereka menghabiskan libur yang menyenangkan. Lewat jalur ini, kita akan mencapai tujuan” sahut Vox dengan optimis.
“Aku tahu kau tidak akan menyia nyiakan tempat terbaik untuk kita” Ron percaya.
“Perjalanan ini akan menghabiskan waktu sekitar 6 jam, kalian bersantailah”

“Wah baik sekali, biasanya kau meminta salah satu dari kita untuk bergantian menyetir” Jef mengingat masa lalu mereka saat pertama kali liburan.
“Haha, dulu aku masih belum berpengalaman melakukan perjalanan panjang!” Vox menghela nafasnya.
Begitulah percakapan mereka, kemudian suasana menjadi hening karena mereka mulai terlelap.
Hari sudah siang, Ron tersadar dari tidurnya menyadari ada sesuatu.

Ron bertanya tanya dengan raut kebingungan Vox.
“Aku lupa melewati jalur yang mana…” Vox putus asa.
Seketika Ron terkejut dan marah mendengar jawaban Vox
Mendengar suara mereka yang besar, Jef terbangun.
“Ada apa ini, berisik sekali!” Jef keheranan.
Tidak mau membebani Jef, mereka berbohong.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik baik saja!” Jawab Ron.
“Tadi kenapa bicara keras keras???” Tanya Jef.
“Kami sempat berbincang, sepertinya kau terbangun karena kami berisik” Vox menjawab seadanya. Mereka masih melanjutkan perjalanan hingga sampai di dua jalur yang akan dilewati, dan salah satunya mengarah pada tempat tujuan. Jalur kiri tertulis “DAERAH ASRI” dan kanannya “DAERAH SUBUR”, mereka memilih jalur kanan…

Tak terasa sudah malam, Vox dan Ron mulai menyadari bahwa mereka menempuh jalur yang salah hingga sampai di sebuah hutan besar, bukan kota yang mereka tuju. Sialnya lagi mobil mereka hampir kehabisan bensin.

“Aargghh, kita tersesat!” Ron dan Vox merasa kecewa.
“Kalian, mari ikut aku!” Jef melihat sebuah cahaya yang menjulang ke atas.
Mereka menuju asal cahaya dan sampai di sebuah gedung besar, itu adalah mal yang anehnya terletak di tengah hutan.
Saat memasukinya, mereka terkejut mendapati bahwa di dalamnya sangat ramai dan terang.
“Sepertinya kita bisa membeli barang yang dibutuhkan” Vox merasa gembira.
“Sangat aneh ada tempat seperti ini di hutan, bukan begitu Ron?” Jef merasa curiga.
Ron mengangguk namun ia juga senang. Mereka kembali mengingat mobil mereka yang mogok, dan memutuskan untuk mencari bensin.

“Jef lihat, ada banyak bensin di sana!” Ron menunjuk ke beberapa bensin yang berserakan di sebuah toko.
Namun bukannya senang, Jef sangat curiga.
“Ron, apa kau tidak merasa ini janggal, bagaimana mungkin mal menjual bensin?!”
Jef lebih waspada.
Ron yang mulanya senang menjadi diam.

Jef mengamati keadaan luar mal dan melihat stasiun pengisian bahan bakar, apalagi mobil mereka tak jauh dari mal.
“Ron, mungkin kita bisa mengisi bensin di situ!” Mereka segera berlari ke arah mobil dan membawanya ke tempat itu untuk diisi bahan bakarnya.
Sementara Vox berjalan entah kemana, hingga ada seseorang di belakangnya tersandung.
Vox hendak menolong dan mengulurkan tangannya, namun tangan itu tembus…
Vox terkejut dan perlahan menjauh, ia bukan manusia.

Hantu itu mengejarnya, diikuti oleh banyak penghuni mal itu yang sadar akan keberadaan Vox.
Vox dikerjar habis habisan dan kelelahan, namun ia tetap harus berlari untuk mencari saudaranya.

“Dimana kau…” Para penghuni itu mencari keberadaan Vox yang sedang bersembunyi di bawah kursi, di sebuah restoran makan.

“Vox ayo ke sini” bisik Ron melambaikan tangannya di depan pintu parkir mal.
Vox perlahan menuju Ron, namun karena kecerobohannya, ia tersandung kursi di sana yang mengeluarkan suara besar. Mereka melihat Vox dan mengejarnya. Ron segera membantu Vox untuk kabur lewat lokasi parkir mal. Namun tidak mudah keluar dari sana karena mereka selalu dikepung, apalagi tempat parkir mal itu sangat luas seperti labirin. Tapi pada akhirnya mereka berhasil keluar kerena kekompakan mereka.

Dan diluar mal, Jef datang membawa mobilnya di waktu yang tepat.
“Ayo cepat masuk, kalian!” Desak Jef.
Mereka segera melaju kencang dari mal yang masih saja dikejar, hingga mereka sampai di sebuah jurang yang tinggi puncaknya…
Sementara para penghuni itu mulai meruntuhkan bangunan dan hutan, dibelakang cepat atau lambat akan ada badai debu yang siap menerjang mobil mereka.

“Mati kita, mati!!!” Ron emosi dan ketakutan.
“Jef, Ron maafkan aku mengantar kalian ke tempat terkutuk ini, sungguh ampun!” Vox seolah mengucapkan kata terakhirnya.
“Saudaraku, di saat seperti ini aku pun takut seperti kalian, tapi jika cara gila ini berhasil maka kita akan selamat. Cepat kenakan sabuk pengaman!”
Setelah itu, Jef memundurkan mobilnya dan melajukan mobil dengan cepat hingga melompat cukup jauh.
“Jef, kau gila…” Vox takjub melihat ke bawah.
“Haha, terkadang kita harus berani beresiko”

“Cukup mengerikan melihat ke bawah tapi pertama kalinya aku tidak takut ketinggian” Ron takjub juga.
“Tapi masalahnya kita tidak akan mendarat dengan selamat, kau idiot Jef!” Vox kembali jengkel.
Mobil mereka melayang cukup lama, hingga hendak mendarat di sebuah jembatan di kota asal. Mereka berteriak kencang.
“Jef bahkan sampai di akhirat pun aku tak akan memaafkan kegilaan yang kau buat!!!” Vox berteriak marah.
“Tapi pada akhirnya kita bisa kembali!” Ron membela.
Jef hanya diam…

Mereka ketakutan dalam hening…
Mobil hampir mendarat ke permukaan dan lucunya mobil mereka mendarat dengan sempurna, tepat di jalanan kosong yang sebelahnya macet…

Mereka pulang dengan mobil kotor, yang mengundang perhatian.
“Lihat ada mobil dari langit!” Seorang anak menunjuk ke arah mereka.
“Ada mobil petualang tampaknya!” Seorang yang lainnya terkejut.
Sementara, mereka lega dan bersorak gembira bisa kembali dengan selamat, apalagi sudah tersesat dan dikejar penghuni mal.
Mereka akan pulang dan berisitirahat dari liburan gila itu.

Cerpen Karangan: Noli

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 5 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Mal di Hutan merupakan cerita pendek karangan Noli, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Charissa E

Aku selalu menganggap bahwa kenangan seseorang dapat dianalogikan sebagai bintang. Alasannya? Entahlah, aku hanya tahu begitu aja. Setiap malam ketika aku memandangi bintang-bintang di langit dari kamarku, aku selalu




Oleh: Rio Oktonas

Masa-masa liburan sekolah telah tiba. “Time Is To Bored”, mungkin ungkapan itu lebih tepat direkatkan ke Albert. Dalam masa liburannya, ia begitu menginginkan seorang saja cewek yang setia mendampingi




Oleh: Lukmanul Hakim

Menjadi seorang Ayah bagi kebanyakan Pria memang sebuah cita-cita. Apalagi pada kelahiran pertama. Terkadang Ayah-ayah muda ini terlalu antusias. Belum-belum anak mereka lahir, mereka sudah membelikan ranjang tidur bayi,




Oleh: Ivana Angelita

Ginny namanya. Dia adalah penghuni Dunia Lolipop yang sangat cantik. Tapi sayangnya dia tidak bersifat cantik juga. Ia sombong karena kekayaannya yang melimpah. Kalian pasti belum mengetahui siapa namaku




Oleh: Yuunagi Kuzuya

Namaku Rin. Umurku tujuh belas tahun. Hobiku bermain game. Kegiatanku sehari-hari hanya seputar pergi ke sekolah, pulang, makan, main game, belajar, tidur.. dan seterusnya. Kehidupanku sama normalnya dengan jutaan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: