8 tahun cerpenmu

Cerpen Malam Yang Tidak Diharapkan (Part 1)

Spread the love

Cerpen Malam Yang Tidak Diharapkan (Part 1)





Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 12 June 2022

Dengan berbekal keyakinan, didukung ilmu yang aku peroleh selama menempuh pendidikan Diploma Agribisnis, aku memberanikan diri membuka Kafe Kopi dan Singkong di Simpang Lima. Sebenarnya tidak tepat betul di Simpang Lima, agak sedikit masuk kampung. Kafe ini terinspirasi bisnis yang dilakukan Mas Kaesang Pangarep, anaknya Pak Jokowi. Kaesang dengan pisangnya telah mengubah pisang dari biasa-biasa saja menjadi pisang yang luar biasa. Kalau pisang bisa, mestinya singkong bisa juga. Bukankah masih banyak masyarakat yang menyukai singkong? Apalagi dari singkong dapat diolah menjadi aneka makanan: singkong rebus, singkong goreng, singkong bakar, keripik singkong, getuk, tape, tape goreng, tiwul dan masih banyak lagi makanan singkong-singkong lainnya.

Sejak tahun ketiga Mawar dan Agus membantuku. Mawar lulusan SMK Tata Boga dan Agus lulusan SMK bidang Informasi dan Teknologi. Mungkin cari kerjaan di instansi pemerintah sulit, formasi yang disediakan terlalu sedikit dan saingannya sangat banyak. Keduanya masih relatif muda, kira-kira lima tahun dibawah usiaku. Atas saran mereka berdua kafe harus dikelola mengikuti konsep swalayan jaman now. Puluhan stoples yang berisi bubuk kopi dari berbagai daerah berbaris rapi di meja, di bagian ujung meja disediakan dua tempat pemanas air elektrik. Pada meja sebelah disediakan tumpukan gelas dan piring sekali pakai dan deretan kudapan aneka singkong.

Setiap akhir bulan, bertiga selalu melakukan evaluasi dengan melihat grafik pengujung setiap harinya. Hal yang menggembirakan grafik pengunjung selalu naik, hanya pada hari-hari hujan, grafik agak landai. Suatu hal sangat wajar, orang malas keluar rumah. Ide-ide baru harus selalu dikembangkan. Saat kuliah, aku selalu ingat topik persaingan usaha dalam mata kuliah ekonomi. Menurut Philip Kotler, embahnya ekonomi dalam berbagai buku eknomi yang dikarangnya selalu ditekankan bahwa tanpa ada pengembangan produk (baca: kafe), maka kafe tersebut akan mengalami kematian, kalah sama pesaingnya.

“Mas Juno, sebaiknya kafenya dua shift, shift pagi, dari jam 06.00 sampai 13.30 dan shift malam 18.30 sampai jam 22.00. Pagi saya yang bertanggung jawab dan malam Agus yang mengelolanya.”
“Ide yang bagus Mawar.”
“Mas Juno, perlu ada door prize setiap malamnya. Nanti diundi untuk 10 pemenang. Hadiahnya cukup sederhana, pulsa seharga Rp. 100,- ribu. Dijamin setiap malam terutama menjelang pengundian, pengunjungnya akan semakin bertambah.”
“Ide keren Gus.”
“Mawar dan Agus, bagaimana kalau ada organ tunggal pada malam hari. Nanti aku atau Agus yang memainkannya, bernyanyi atau mengiringi pengunjung yang bersedia nyanyi. Atau lebih bagus lagi kalau warga setempat ada yang bisa main organ dan nyanyi, nanti kita beri uang ala kadarnya. Sedangkan untuk siang hari cukup lagu-lagu ndangdut atau lagu populer yang diperdengarkan.”
“Bagus Mas.” Jawab Mawar dan Agus secara serentak.

Cukup banyak ide dari Agus, namun ide yang spektakuler, melayani pembeli secara online dengan gratis ongkos kirimnya. Dengan keahliannya dalam bidang IT., Agus mengembangkan aplikasi Jualan Singkongdan kopi. Ada tiga paket yang ditawarkan: paket 1, Rp 15.000,- berisi singkong goreng dan singkong rebus saja, paket 2, Rp. 25.000,- berisi singkong goreng, singkong rebus, tape dan tape goreng dan paket 3 Rp. 50,000,-. Berisi singkong goreng, singkong rebus, tape, tape goreng, tiwul dan keripik singkong.

Ide yang tidak kalah cemerlang disampaikan oleh Mawar.
“Mas Juno, sebaiknya kegiatan masak singkong di sini sekedarnya saja. Mas Juno tinggal kerja sama dengan warga desa setempat, mereka diminta untuk merebus atau menggoreng singkong. Kita siapkan minyak gorengnya saja. Penggorengannya menggunakan kayu bakar. Saya jamin rasanya pasti mak nyuuus.”

Akhirnya, setelah lima tahun jungkir balik, kini uang datang sendiri. Penggemar kopi dan singkong di Semarang ternyata bukan cukup banyak, tetapi sangat banyak. Penjualan secara online diluar dugaan, sangat menggembirakan, hasilnya relatif sama dengan penjualan offline. Pagi sampai siang hari, pengunjung didominasi tukang becak, tukang ojeg, sopir truk, pegawai yang belum sempat sarapan, sementara pada malam hari pengunjungnya didominasi muda-mudi dan tukang ojek. Murah, meriah dan enak plus suasana kafe yang nyaman merupakan daya tariknya.

Pada saat kafe tutup sudah langsung diketahui berapa penghasilannya pada hari itu, sebesar 2½ % disisihkan untuk warga sekitarnya yang tidak mampu, tukang ojeg yang mangkal di kafe, satpam atau sumbangan ke masjid. Sementara singkong yang masih ada dibagikan kepada tukang ojeg dan satpam.

Dari kuliner kopi dan singkong, kehidupanku menjadi mapan. Rumah di perumahan elite, mobil Mitsubishi Xpander selalu menemani kemana pun aku pergi. Namun, untuk berkeluarga, aku masih belum berminat. Ingin menikmati masa lajang, masa kebebasan dengan uang yang berkecukupan. Lagi pula memang belum ketemu gadis yang wajahnya mirip Dewi.

Ya… Dewi, cinta pertamaku selalu terbayang di ingatanku. Padahal, dia telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Tentu lelaki itu lebih gagah di matanya, atau lebih tebal dompetnya atau mahasiswa dari universitas terbesar di Semarang, atau yang lainnya, aku tidak tahu. Kata orang, cinta pertama itu sulit dilupakan dan itu memang benar. Aku merasakan sendiri. Di memoriku masih tertempel demikian jelas jejak digital kala memadu kasih. Jalan berdua sepanjang rel kereta menuju bioskop Sasana Budaya atau mbakso bareng di Suryani. Apalagi ciuman pertama di bawah pohon mangga di samping rumahnya. Kala itu habis nonton film “Pengantin Remaja”. Dengan ketergesaan ditopang kaki yang gemetaran, aku cium Dewi, gigiku bertemu dengan giginya. He…, he…, he… Kalau ingat itu, aku tersenyum sendiri. Beberapa foto kenangan bersamanya masih aku simpan, foto berdua kala berjalan diatas rel kereta selalu ada di dompetku.

Seperti biasa, malam Minggu setelah selesai undian dan pembagian pulsa bagi pemenang, aku dan Agus ngobrol berdua.
“Mas Juno, Agus tiga bulan lagi akan nikah.”
“Selamat ya…, gadis mana yang beruntung.”
“Gadis Kendal. Mas Juno masih senang sendirian?”
“Sampai sekarang aku belum berminat mencari gadis untuk teman dekat.”
“Mas Juno, kalau hanya ingin cari wajah yang mirip gadis yang diinginkan gampang sekali. Apakah yang seperti mantan atau yang seperti penyanyi atau bintang iklan, tinggal pilih. Mas Juno beli HP satu lagi yang kapasitasnya cukup besar, khusus untuk melihat gadis-gadis cantik. Gadis yang membuat status di instagram dapat dipastikan sangat terbuka untuk kenalan, atau malahan untuk diajak nikah. Nanti saya akan unduh foto-fotonya berikut alamat dan nomor HP nya.”

Satu minggu kemudian, Agus menyerahkan kembali HP yang aku berikan. Sebagai orang IT sepertinya sangat gampang bagi Agus.
“Mas Juno, saya terangkan sedikit ya…, di HP ini, ada foto 201 gadis yang berasal dari Semarang, Kendal, Demak, Kudus dan Salatiga, berikut nomor HP dan alamatnya. Untuk mencarinya, bisa sesuai abjad, bisa juga per daerah, misal Mas Juno kepengin lihat gadis Kendal tinggal ketik Kendal, nanti akan muncul foto-fotonya. Mas Juno tinggal pilih, kalau cocok tinggal kenalan, bisa di kafe ini atau tempat lainnya.“

Sejak saat itu, kerjaku hanya melihat gadis-gadis cantik di HP. Sungguh sangat menyenangkan, gadis-gadis cantik yang nilainya 80 ke atas, aku beri tanda untuk aku ajak kenalan. Ada Susi, Endang, Ayu, Ratih, Retno, Ida dan masih banyak lagi.

“Susi, datang yaaa, ke “Kafe Kopi Singkong di Simpang Lima,” jam 19.00. Aku pakai baju kotak-kotak dengan topi Pak Tino.”
“Oke, aku pakai celana jean dan baju hijau.”

Benar, gadis celana jean dan baju hijau, datang dan duduk seperti apa yang aku tulis di WA. Dari tempat dudukku, dengan jelas terlihat gadis tersebut tidak secantik fotonya. Segera, melalui WA aku kirim pesan.
“Susi, silahkan dinikmati kopi dan singkongnya. Maaf, saya tidak jadi ke kafe singkong, ada keperluan mendadak. Kopi dan singkongnya, nanti saya yang membereskan.”

Lain hari.
“Desy, kita kopi darat yuuk di Kafe Kopi dan Singkong di Simpang Lima. Aku pakai celana jean, kaos warna merah maron, pakai topi Pak Tino. Kita jumpa jam 19.30, setuju?”
“Oke Mas Juno, sampai ketemu nanti. Oh… ya…, aku pakai celana warna hitam, kaos warna biru laut dibalut dengan jaket warna coklat.”

Wajah Desy sama seperti yang ada di fotonya. Paling tidak Desy jujur soal wajah atau Desy sangat yakin akan kecantikannya. Aku dan Desy ngobrol apa saja tanpa arah sambil ngopi dan makan singkong. Asyik juga ngobrol dengannya. Tentu saja Desy tidak tahu bahwa aku pemilik kafenya.

“Desy, apa yang menarik dari kafe ini?”
“Bagus Mas, suasananya, bisa ngobrol santai, dapat mendengar lagu yang kita pesan. Penyanyinya pun suaranya lumayan. Juga aku lihat harganya relatif murah.”
“Desy mau nyanyi?”
“Untuk sementara, Desy pengin dengerin dulu. Nanti kalau ke sini lagi, Desy akan siapkan beberapa lagu, tapi Mas Juno yang main organnya kan..?”

Cukup banyak gadis cantik yang datang ke kafeku atas undanganku. Dengan cara sederhana, aku bisa mengetahui tingkat kepuasan para pelanggan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Blog / Facebook: Bambang Winarto
BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang 15 Juni 1954. Setelah lulus dari SMA Kendal, mengikuti pendidikan di Fahutan- IPB (1974-1978). Bekerja sebagai ASN di Kementerian Kehutanan sampai purna tugas (1979-2010). Memperoleh gelar Magister MM di UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik. Ia aktif menulis berbagai artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan Cerita Pendek. Cerpen-cerpen yang dikirim di CERPENMU masuk nominasi terbaik: Malaikat Keempat, Sepenggal Catatan (Part 1,2), Konspirasi, Menjemput Rindu. (Bulan Mei 2022). Pencuri Raga Perawan, Pita Putih Di Pohon Pinus.(Bulan April 2022).
Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, HP : 081316747515 Email: bambang.winarto54[-at-]gmail.com ;


Cerpen Malam Yang Tidak Diharapkan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Bambang Winarto, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Refianti Wihida

Panasnya terik matahari di pagi hari. Tak membuat anak-anak menjadi lemas tak berdaya. Mereka malah sangat bersemangat mengikuti upacara bendera Senin itu. “Sesyl, dari tadi aku perhatiin kamu ngelihatin




Oleh: Muhammad Riandy

Aku mungkin telah mengubah hidupnya. Aku mungkin telah membuatnya menjadi seseorang yang tidak pernah aku inginkan. Bandung, Jakarta, dan Medan. Semua tempat sudah kami kunjungi tetapi sama sekali tidak




Oleh: Fami Andrias T

Untuk kebanyakan wanita, Nichkhun adalah seorang pangeran yang sempurna. Siapapun yang dapat dekat dengannya dan menjadi kekasihnya adalah orang yang paling beruntung. Tidak ada yang tidak mengenal Nichkhun. Hampir




Oleh: Nurlely Damayanti

Berawal dari kisah ku 5 tahun yg lalu, waktu aku masih menduduki kelas 1 SMP. Aku mengenal seseorang lewat mimpi, ntah pertanda apa mimpi itu, hingga suatu hari aku




Oleh: Arif AlfanZa

Lihatlah ke arah pohon besar yang menancap di tanah itu, di sana terdapat bocah yang sedang memainkan seruling bambu dengan lambaian angin sepoi. Tanah yang disinggahi bocah berusia tidak



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: