8 tahun cerpenmu

Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 1)

Spread the love

Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 1)





Cerpen Karangan: Lampeng
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Rohani

Lolos moderasi pada: 29 May 2022

Apa ini? Mengapa semua gelap? Orang-orang seperti tak melihatku. Hey tunggu dulu, itu kan aku! Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah aku sedang bermimpi? oh tidak tidak, saat ini aku dalam keadan terjaga. Aneh, mereka menangis semua mengelilingiku. Dan mengapa pula aku bisa melihat tubuhku sendiri. Baiklah lupakan sejenak tentang kejadian aneh ini, dan mari berfikir jernih ada apa ini sebenarnya. Dubraakk! Kenapa denganku ini, tubuhku menembus kursi yang hendak kududuki ini. Tunggu dulu, aku baru teringat kejadian semalam.

Dering ponselku berbunyi tanda notifikasi pesan dari Joni, “Dil, nongkrong yuk! Nanti aku jemput.” aku lupa malam ini aku ada janji dengan Joni dan Irwan. Tak lama setelah mendapat pesan dari Joni, aku bergegas mandi, jarak antara kost-ku dan Joni memang tidak berjauhan, hanya beda gang saja. Entah mengapa setiap kali mau mandi, rasa jenuh selalu mengahantuiku, ya, jenuh dengan gerakan mandi yang dari dulu itu-itu saja.

Akhirnya selesai juga mandi, tinggal menunggu si Joni datang saja. “Tiinnn tiinnnn…” itu suara klakson Joni. Pas sekali dia datang. “Mana si Irwan?” tanyaku pada Joni. Sambil memutarkan motornya, Joni menjawab seadanya, “Si Irwan gak jadi ikut, takut Dia katanya, belum siap Dia” Jawab Joni. Kegiatan malam ini memang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari, untuk memuaskan hasrat penasaran kami tentang kehidupan setelah kematian.

Penasaran kami ini bermula dari seringnya kami menonton dan membaca kisah-kisah tentang perjalanan waktu. Dari sanalah muncul pertanyaan-pertanyaan di benak kami. “Kemana akan dibawa jiwa orang-orang yang telah mati?” “Jika orang mati dalam kepercayaan tertentu, ada yang namanya Reinkarnasi, lantas apakah aku ini Reinkarnasi dari orang yang telah mati?” “Namun dalam kepercayaan lainnya, jika orang mati akan bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat semasa hidup, dan kehidupan setelah mati bagi kepercayaan ini adalah abadi.” “Apakah manusia ini memiliki sistem daur ulang alami, yaitu kematian” “Bagaimana orang yang membunuh dirinya sendiri? Apakah ada tempat bagi orang itu setelah kematian? Dia sendiri yang mengakhiri hidup, berarti dia sendiri yang tidak mau didaur ulang”.
Bahkan aku pernah mendengar bahwa orang yang membunuh dirinya sendiri tidak akan ada tempat untuknya setelah kematian. Akibat seringnya menonton film fiksi dan ditambah pengetahuan kami yang dangkal, munculah pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti itu. Maklum saja latar pendidikan kami tidak jelas, bukan hanya latar belakang pendidikan, latar belakang keluarga pun tak jelas.

Aku besar di sebuah panti asuhan setidaknya sampai usiaku dua belas tahun, kata pengurus panti aku ditemukan di samping bangkai kucing dengan tubuh yang masih dibalut tali pusar. Di usia dua belas tahun aku memutuskan lari dari panti karena aku ketahuan mencuri uang donasi untuk panti. Panti asuhan tempatku itu berbeda dengan panti asuhan pada umumnya, bahkan lebih mirip tempat eksploitasi anak. Sejak umur 6 tahun kami diajarkan mengamen dan ngasong, alih-alih diberikan pendidikan yang layak. Itu jugalah salah satu penyebabku pergi dari sana. Dan melanjutkan hidup di bawah jembatan sebelum akhirnya bertemu dengan Joni.

“Dil, bagaimana rencana kita?” Joni bertanya sambil menghidupkan sebatang rok*k.
“Rencana apa pula Jon?” Aku berlaga lugu menanggapi pertanyaan Joni.
“Itu loh Dil, katanya kan orang yang bunuh diri itu tidak dapat tempat di alam setelah kematian, dan jiwa mereka akan menggantung di dunia ini. Bukankah seru hidup dengan jiwa tanpa raga dan bebas melakukan apa saja di dunia ini tanpa takut merasakan mati lagi. Dan yang lebih enak masalah hidup yang kita rasakan sehari-hari akan hilang karena kita kan sudah tidak hidup.” Joni antusias menjelaskan teorinya namun sambil tertawa. Mendengar perkataan Joni itu, akupun ikut tertawa tapi dalam hatiku berkata ada benarnya juga perkataan Si Joni ini. Walaupun sambil bercanda namun Joni terlihat serius saat Dia berkata sudah lelah dengan beban hidup. Karena kehidupan Joni tak jauh beda denganku, sama-sama suram.

Joni kecil dipaksa harus berpisah dengan bapaknya, karena bapaknya harus menjalani vonis hukuman mati di penjara karena kasus penyelundupan nark*ba dari Bangkok ke Indonesia. Setelah bapaknya pergi Joni tinggal bersama ibunya, tak lama hanya dua tahun saja, atau sampai Joni berusia delapan tahun. Ibunya ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya dengan mulut penuh busa. Setelah itu Joni kecil dititipkan di rumah saudara jauh bapaknya, namun entah apa alasannya Tiba-tiba Joni ditinggalkan saudara bapaknya itu di sebuah minimarket dan tidak pernah dijemput kembali oleh saudara bapaknya itu. Sepertinya Joni sengaja dibuang. Aku selalu tertawa terbahak-bahak setiap kali Joni bercerita di bagian ini, Joni pun menceretikannya sambil tertawa.

Di minimarket itulah pertama kali aku bertemu Joni. Setelah Dia menceritakan apa yang terjadi, aku lalu memngajaknya tinggal bersamaku di bawah jembatan bersama anak-anak jalanan lainnya. Kami tumbuh bersama dan merasakan ikatan batin yang sama, pengalaman pahit itulah yang kurasa sedikit menggaggu kewarasan kami hahaha.

Tapi rencana Joni itu hanyalah guyonan belaka saja, mana ada mati yang enak kata Joni mengakhiri gagasannya tentang kematian itu.

“Cuaca dingin seperti ini enaknya ngombe Dil, kamu tunggu di sini saja Dil biar aku yang beli.” Ucap Joni yang tiba-tiba memberi gagasan yang juga aku setujui.
“Emang kamu punya uang Jon? Tumben.” Tanyaku heran, Joni yang biasanya dikejar hutang sekarang tiba-tiba mau nraktir minuman yang harganya lumayanlah untuk jatah makan kami lima hari.
“Sudah jangan meremehkanku, aku lagi ada rejeki ni.” Tegas Joni.
Belum sempat aku menjawab, Joni sudah pergi dengan motornya meninggalkanku di pondok tempat biasa kami nongkrong bersama teman-teman. Aneh malam ini sepi sekali, mungkin karena cuaca mendung.

Untuk memastikan dugaanku, aku langsung menuju kontrakan Joni. Benar saja, di sana juga telah ramai orang. Mata ku tak berhenti bergerak mencari Joni di antara kerumunan orang di sana. Tak nampak kulihat batang hidung sahabatku itu. Di tengah fokusku mencari Joni, tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundakku, aku terkejut sejenak, akhirnya ada juga yang bisa melihatku. Aku menoleh, ternyata yang menepuk pundakku adalah orang yang aku cari sedari tadi.

“Hey Jon, darimana saja kau? Mengapa banyak orang di kontrakanmu? Apakah kau melihat apa yang sedang mereka kelilingi itu?.” Aku langsung menggencar pertanyaan pada Joni untuk memastikan apa nasibnya sama denganku.
“Mana ku tahu, aku baru bangun mereka sudah ramai. Mungkin ada pembagian beras gratis.” Dengan raut wajah yang masih lusuh, nampak jelas Joni baru saja bangun dari tidurnya menjawab seadanya pertanyaanku.

Aku yang kesal dengan tingkahnya, langsung menampar pelan mukanya lalu menyuruhnya memastikan apa yang terjadi. Dengan langkah gontai, Joni menuruti perintahku. Tak lama dia berlari ke arahku seperti habis melihat Pol PP yang biasa menangkapi kami di lampu merah saat mengamen. Wajahnya pucat dia bicara padaku “Aku mati Dil, tubuhku dibungkus mirip lontong”. Dugaanku benar, nasib kami sama. Pelan-pelan aku menjelaskan apa yang terjadi juga padaku sama seperti yang dia alami.

Tak lama rombongan orang-orang yang ada di rumahku dan Joni bergerak sambil membawa bentuknya seperti kotak telur namun lebih besar, terlihat ada Irwan dan beberapa teman kami di sana. Mereka terlihat menangis, Joni mencoba memanggil mereka, namun tak ada yang menggubris Joni. Sambil menyuruh Joni tenang, aku mengajaknya mengikuti rombongan itu.

Langkah mereka terhenti di perkuburan, kami hanya menyaksikan dari jauh saja kegiatan mereka.

Setelah orang-orang itu bubar meninggalkan dua onggokan tanah yang ditaburi bunga warna warni yang dilengkapi dengan dua papan bertuliskan nama di pangkal dua onggokan tanah itu, kami perlahan mendekat. Alangkah terkejutnya kami, dua papan itu benar saja bertuliskan namaku dan nama Joni lengkap dengan nama bin kami. Kami terdiam sejenak. Hening tiba-tiba, hanya sesekali terdengar suara angin yang menyapu rimbun pepohonan di sekitar kami.

“Kita telah mati Jon!”. Joni tidak menjawab, dia hanya diam sejenak. Suasana kembali hening. Tak lama aku mendengar suara Joni pelan “baguslah, kita sudah mati. Sekarang kita bebas dan kita bisa membuktikan tentang rasa penasaran kita selama ini. Dan kita juga terbebas dari masalah hidup kita selama ini.” Kali ini Joni terlihat serius mengucapkan hal itu, tidak seperti biasanya. Benar juga, ucapku dalam hati menjawab perkataan Joni barusan. Belum sempat kami bercakap-cakap lagi, tiba-tiba ada sesuatu semacam angin yang menghisap kami ke dalam tanah.

Cerpen Karangan: Lampeng
Blog / Facebook: Muhammad Fajri

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Lampeng, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ahmad Baedowi

Di sebuah tempat yang menjadi impian semua umat, air sungai yang jernih dan bersih mengalir begitu deras, pepohonan yang amat subur dihiasi buah yang sangat menggiur, hewan-hewan berlarian kesana




Oleh: Rasyanara Putri Ismandiyanto

Dahulu kala, ada suatu kelompok yang dapat menggunakan elemen alam secara khusus dan menempati alam bebas, mereka beratapkan langit dan beralaskan bumi. Mereka bersahabat dengan alam dengan kekuatan luar




Oleh: Thalita Viona Zahra

Di dunia tulisan, hiduplah sebuah Titik dan Garis Hitam. Mereka berdua sudah lama bersahabat. Pada suatu hari, Garis Hitam berkata pada Titik, “Titik, sudah lama aku ingin mengatakan ini




Oleh: Ayu Soesman

Aku berdiri di depan sebuah ruangan dekat taman yang berada di belakang kampusku. Aku merasa bersemangat sekali pada hari itu, sakin semangatnya aku datang kepagian. Ruangan itu masih terkunci




Oleh: Rio Oktonas

“Alamak… susah betul lah cari cerita yang berbobot ni… ei, ada sesiapa yang mau membantu saya tak?” tanya seorang anak Malaysia di hutan belantara Kalimantan. Suasana hening tak menentu,



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: