8 tahun cerpenmu

Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 2)

Spread the love

Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 2)





Cerpen Karangan: Lampeng
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Rohani

Lolos moderasi pada: 29 May 2022

Aku terbangun, syukurlah rupanya kejadian aneh tadi hanya mimpi. Tunggu dulu, aku terbangun di mana ini? Kenapa semuanya gelap, kenapa tubuhku kaku tak bisa bergerak. Aku bergumam dalam hati. Tempat gelap ini jelas bukan kamarku, tubuhku yang tak bisa digerakan membuatku semakin takut dengan keadaan seperti ini. Di sekitar hanya kegelapan, suara hening yang memekikkan telinga. Aku terdiam beberapa saat sambil merasakan kebingungan yang bercampur rasa takut. Tak lama setelah keheningan yang mencekam, telingaku menangkap suara yang sangat menggetarkan nyaliku. Derap langkah kaki yang bergemah, membuatku semakin takut menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Di dalam kegelapan, mataku samar menangkap sosok makhluk tinggi besar berwajah sinis. Tangan kirinya menenteng seutas cambuk berduri dan tangan kanannya membawa gunting pemotong.

Seketika cambuk itu menghantam dadaku, mengoyak kulitku sampai terlihat tulangku. Aku menjerit namun tak ada belas kasih dari sosok itu. Dicambuknya lagi dadaku, kali hancur remuk tubuhku, perih sekali, aku berharap langsung pingsan atau mati agar tak merasakan kesakitan yang teramat sangat ini. Namun bukannya pingsan, tubuhku yang tadi hancur kini kembali utuh. Setelah tubuhku utuh, diulanginya kembali cambukan itu, sakit lagi hancur lagi. Berulang kali aku merasakannya.

Tiba-tiba sosok itu menghentikan cambukannya, dia mengangkat tubuhku dengan sangat kasar, dibawanya aku ke sebuah tempat. Namum mendadak dia melemparku sambil berkata dengan suara yang sangat berat dan menakutkan “Tak ada tempat untukmu di sini.” Dia meninggalkanku di ruangan gelap ini. Tak lama, tubuhku seperti terangkat ke atas, membawaku tepat di atas gundukkan tanah yang bernisan namaku.

“Apa yang terjadi tadi?”. Aku mendengar suara itu tepat di sampingku. Rupanya Joni yang sama parahnya dengan kondisiku.
“Entahlah, yang pasti aku merasakan ketakutan dan kesakitan yang belum pernah aku rasakan selama hidup.” jawabku gemetar.
“Sama, aku juga merasakannya. Apakah kita sudah bebas sekarang?” Joni bertanya.
“Jika benar kita sudah bebas, bukankah ini saat yang tepat untuk menikmati kehidupan setelah kematian?”. Aku mengajak Joni mewujudkan keinginannya dulu waktu hidup.

Kami langsung berjalan di tengah kegelapan, suasan tampak berbeda. Banyak sekali makhluk yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Anehnya mereka pun acuh kepada kami, namun setiap kali berpapasan dengan kami, mereka menutup hidung seakan tidak suka dengan aroma kami. Tapi tentu saja Aku dan Joni tak mempedulikan mereka. Tujuan kami adalah tempat hiburan malam, di mana banyak minuman keras dan wanita seksi di sana. Nikmat sekali, masuk tak bayar minum tak keluar biaya. Namun kami tak merasakan kesenangan itu, rasanya beda saat dulu masih hidup. Tapi terserahlah, yang penting serba gratis sampai tempat itu tutup.

Setelah tempat itu tutup, kami segera keluar dari sana. Namun jalan kami tidak sempoyongan seperti biasa karena terlalu banyak minum seperti saat kami masih hidup.

“Sekarang kita mau ke mana, kembali ke kuburan lagi kah?” tanya Joni.
“Untuk apa ke kuburan lagi Jon, toh kita sudah bebas. Yah kita pulang ke rumah kita, istirahat sampai malam tiba dan kembali menikmati hidup setelah mati.” jawabku tegas pada Joni.
“Kau benar Dil, tapi aku tak merasakan ngantuk, walau tubuhku lelah, mungkin karena efek minuman ya.” Joni bicara nampak heran, aku juga merasakan lelah namun tak ada rasa kantuk sedikit pun.

Hari sudah hampir fajar, kami melangkah pulang. Tak jauh kami berjalan tiba-tiba angin itu lagi menarik tubuh kami kencang sekali, dan aku terbangun di ruangan gelap itu lagi. Siksaan itu terulang lagi. Setelah disiksa aku kembali dilempar ke atas begitu juga dengan Joni. Hari kedua kali ini, aku merasakan lapar dan haus. Aku lalu mengajak Joni makan ke tempat yang paling enak. Seperti biasa, kami kembali menikmati hidup setelah mati. Habis sudah sepuluh piring makananku, tiga gelas jus jeruk. Namun dahaga serta rasa laparku tak kunjung hilang. Joni juga merasakan hal yang sama sepertiku. Keadaan bertambah buruk karena kelelahan kami yang tak bisa hilang.

Sudah delapan hari kejadian ini selalu terulang, rasa lapar, haus dan kelelahan yang teramat sanagat melanda kami. Hal ini menyadarkan kami, bahwa setiap selesai hukuman bukanlah kebebasan untuk kami, melainkan hukuman yang lebih berat untuk kami. Celaka sekali kami, lemas badan kami sehingga tak lagi sanggup menikmati hidup setelah mati. Kami duduk pasrah di atas nisan sambil menunggu angin itu menarik kami kembali. Dua belas hari sudah berlalu, tubuh kami semakin lemah. Kami mulai menyerah dengan keadaan ini. Terkapar di bawa pohon kapuk badan kami, seakan hanya bisa pasrah menunggu siksaan demi siksaan lagi.

Di tengah kesenyapan kami, tiba-tiba muncul sosok hitam tinggi besar merah menyala tingginya hampir setara dengan pohon kapuk yang jadi sandaran kami. Tak ada siksaan darinya, hanya berbicara kepada kami. “Inilah hukuman bagi yang mengakhiri hidupnya, tak ada tempat bagi kalian, tak ada makanan atau minuman yang bisa menghilangkan rasa lapar dan dahaga kalian. Tubuh kalian memang melemah, tapi tak akan mati rasa. Rasa sakit setiap saat akan kalian rasakan sampai waktunya tiba nanti. Ingatlah kembali cara kalian mati, dan jika kalian sudah mengingatnya, sampaikanlah kepada sosok yang menyiksa kalian itu. Jika cara alasan kalian mati bisa diterima, semoga Sang Pengadil bisa mangampuni kalian. Tapi ingat, jangan sekali-sekali kalian mengarang penyebab kematian kalian!”. Ucap sosok tinggi itu. Belum sempat aku dan Joni menjawab atau bertanya, sosok itu hilang tanpa bekas.

Aku mencoba mencerna ucapan sosok tadi dan mulai mengingat-ingat kematian kami. Ingatanku langsung tertuju di malam itu. Di sebuah pondok tempat kami biasa nongkrong, malam itu hanya aku dan Joni saja yang ada di sana.

“Minuman apa yang kau beli malam itu Jon?.” Aku menyelidik bertanya pada Joni.
Bukan tanpa alasan aku bertanya pada Joni, sebab setelah meminum minuman yang dibeli Joni, kepalaku mendadak langsung pusing, dadaku sesak, nafasku tersengal. Setelah itu pandanganku mulai gelap, dan aku langsung tak ingat apa-apa.
Joni pun menjawab dengan tampang merasa bersalah “Aku membeli alkohol murni lalu kucampur dengan sebotol air mineral, kukira akan aman dan sama seperti biasa. Ternyata berbahaya, maapkan aku Dil, saat itu uangku pas-pasan.”

Setelah mendengar jawaban Joni, aku langsung mengerti apa yang terjadi saat ini. Walaupun aku sedikit emosi pada sahabatku itu, karena telah memberiku racun. Namun aku langsung mengendalikan emosiku. Aku mengajaknya segera menemui sosok yang menyiksa kami itu dan langsung menjelaskan apa yang terjadi.

Empat belas hari telah berlalu, siksaan demi siksaan sudah kami jalani. Saat hendak dilempar ke atas seperti biasa, aku langsung bebicara kepada sosok itu. Aku menjelaskan semuanya. Sosok itu diam sejenak. Kemudian muncul cahaya di sekitar kami. Sosok itu kemudian berbicara “Kau beruntung, kau dapat ampunan, jadikan ini pelajaran. Manfaatkan kesempatan keduamu. Berjalanlah menuju cahaya putih itu.” Sambil menujuk ke arah cahaya, sosok itu melepaskanku. Aku langsung merangkak menuju cahaya itu. Aku terjatuh di lubang cahaya itu. Semua kembali gelap.

Aku terbangun di sebuah ruangan, dengan tangan diinfus. Di samping ada Irwan. Hal pertama yang kuucap adalah air. Irwan langsung memberiku segelas air. Betapa bahagianya aku, dahagaku langsung hilang.

“Di mana aku?”. Tanyaku pada irwan
“Kau berada di rumah sakit, kau koma sudah dua hari bersama dengan Joni.” Jawab Irwan.
“Apa? Hanya dua hari?”. Aku terkejut mendengar hal itu.

Belum sempat Irwan menjawab, kulihat dari pintu ruanganku datang seorang suster menghampiri kami, suster itu menyampaikan berita bahawa Joni telah meninggal.

Cerpen Karangan: Lampeng
Blog / Facebook: Muhammad Fajri

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 29 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Menampar Sang Waktu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Lampeng, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ari Irawan

Selagi dia berfikir, tiba-tiba pemuda bernama Lamidin memanggilnya. “Kang, apakah harus kupanggil Kepala Kampung untuk melaporkan kejadian ini?” Daud mengangguk saja. Setelah Lamidin menghambur pergi, Daud melangkah lebih dekat




Oleh: Hidayatullah

Akhir-akhir ini, banyak kejadian aneh yang menimpa Amanda, gadis berambut cokelat dengan wajah klasik nan ayu. Minggu lalu, sebuah lukisan potret wajah pria bangsawan di sebuah galeri yang selalu




Oleh: Nur Hidayat

Aku terkejut saat melihat sepatu yang nampak baru berwarna cokelat itu pikirku langsung melayang dan berpikir itu adalah sepatu Kakakku yang pernah ditunjukannya. “hei, sepatu apa maksudmu?” tanyanya mengejutkanku.




Oleh: Qonita Almaahi

Ada seorang murid baru di kelasku. Ia tampak cantik dan anggun karena rambut panjang dan kulit putihnya. Bu Rara memperkenalkannya ke semua muridnya. “Namanya Lala Nelvika. Ia anak pemalu.




Oleh: A. Raymond S.

STAR Safe House, Semarang, Jawa Tengah. Sabtu, 26 November pukul 23.00 WIB. Ketika aku memasuki rumah itu, aku melihat Sasagi dan Riska sedang berdiskusi bersama Miranda lewat laptop terkait



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: