8 tahun cerpenmu

Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 1)

Spread the love

Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 1)





Cerpen Karangan: Elisa Stephani
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 24 May 2022

Di tempat ini aku menyerahkan seluruh tenagaku, aku shina grolyana, genap berumur 20 tahun, menangis, memberontak, lalu tertidur pulas.

Hai matahari, pagi ini aku kembali melihatmu bersinar, terimakasih kau tidak pernah lelah menyinari dunia ini. Pagi ini aku terbangun dengan keadaan yang sepertinya sering terjadi di hidupku, bangun tanpa semangat, bangun karena terpaksa harus melakukannya.

Ohhh tidak! aku kesiangan! Aahh tidak perlu terkejut, ini biasa terjadi. Aku berharap atasan tidak menghukumku lagi. Jam menuju pukul 7 pagi sementara aku belum sampai ke toko, kali ini pasti tidak ada maaf bagiku. Aku bekerja di salah satu minimarket yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahku, tetapi aku selalu terlambat karena aku malas bekerja.

Tepat pukul 07.15 aku tiba di toko, seperti yang aku takutkan atasanku memarahiku, ayolah ini benar-benar biasa terjadi, tidak perlu takut. Tapi sepertinya untuk kali ini dia benar-benar marah. Aku dihukum, lalu disarankan untuk segera resign. Aku setuju, lalu kuputuskan untuk pulang mengurus surat pengunduran diri. Ini bukan lelucon, ini serius. Aku sudah lama ingin berhenti bekerja di tempat itu, bagiku pekerjaan itu bukan kemauanku, semua karena terpaksa.

Sebenarnya hatiku sangat sakit, satu sisi aku merasa lepas dari suatu tali yang mengikatku, tetapi satu sisi aku takut harus mengatakan apa kepada keluarga yang sangat mengharapkanku. Bagaimana mencari pekerjaan yang baru dalam waktu singkat? sementara lowongan kerja tidak sebanyak pengangguran yang ada. Kepalaku hampir pecah memikirkan hal ini.

Sesampainya di rumah aku langsung menceritakan semuanya kepada ibuku. Beliau sangat baik dan sangat memahami setiap kemampuan anaknya oleh sebab itu ia tidak memarahiku, ia mengatakan bahwa aku pasti akan segera mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.

Pekerjaan sebelumnya benar-benar menghancurkan mentalku. Dari awal aku bekerja tidak ada satu pun karyawan yang mau berbicara denganku. Mereka sudah sangat kompak sehingga sepertinya tidak membutuhkan orang baru untuk bergabung. Tetapi pemilik toko membutuhkan tambahan karyawan untuk tokonya, seharusnya mereka memahami itu. Aku selalu dikucilkan, diganggu, bahkan mereka menyuruhku melakukan hal yang bukan bagian dari pekerjaanku. Aku sangat tertekan sehingga selalu malas untuk berangkat bekerja. Setelah berpikir panjang dan menenangkan diri, aku sangat yakin keputusanku tidak salah dan tidak akan membuatku menyesal.

Malam hari aku berjanji bertemu dengan temanku Vani, di rumahnya. Aku ingin menceritakan hariku yang buruk ini dengannya. Ia adalah pendengar yang baik, sejak kecil kami sudah berteman bahkan orangtua kami juga sangat dekat. Temanku adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri terbaik di daerah tempat tinggal kami. Ia adalah anak yang pintar dan rajin, selain itu keluarganya juga terbilang mampu dan cukup untuk mencukupi kebutuhan pendidikannya.

Aku tiba di rumahnya dan langsung disambut baik sama keluarganya. Karena kami sangat dekat, aku tidak ragu menceritakan semunya dengannya bahkan kedengaran oleh orangtuanya. Namun, dengan spontan ayahnya memarahiku, mengatakan bahwa aku sangat tidak bersyukur, menurutnya semua pekerjaan tidak ada yang enak jadi harus bertahan apa lagi cuma tamatan SMA. Jujur hatiku sangat sakit. Aku merasa mereka tidak mengerti yang aku rasakan. Memang benar, sebenarnya tidak ada pekerjaan yang enak, pasti ada saat-saat tidak enak dalam bekerja. Namun, jika diperlakukan seperti ini, aku benar-benar tidak sanggup.

Beberapa saat setelah itu, aku memutuskan untuk segera pulang dengan alasan ibu sedang membutuhkanku. Tetapi aku tidak langsung pulang ke rumah, rasanya masih ada rasa kesal di hati yang ingin sekali aku lepaskan, aku benci mereka yang tidak memahamiku. Menurutku mereka tidak mengerti perasaanku karena mereka tidak pernah merasakannya. Kehidupan mereka selalu baik-baik saja. Sejak dulu Vani selalu hidup berkecukupan, apa yang dia butuhkan selalu berhasil ia dapatkan. Berbeda denganku, sejak kecil terbiasa tidak meminta apa-apa dari orangtuaku. Ayah bekerja sebagai kuli bangunan, gaji harian yang hanya akan habis dalam sehari untuk makan dan minum kami. Jadi aku tidak bisa meminta apa-apa selain kebutuhan makan dan minum, dan juga sekolah.

Setelah lelah keliling dengan sepeda motor sambil menangis dan memberontak, aku putuskan untuk pulang. Aku berharap mendapat ketenangan di rumah, tetapi ternyata sangat salah. Sesampainya di rumah aku melihat ibu dalam keadaan menangis, bahkan adik-adikku, deo dan lia juga menangis. Hatiku hancur melihat mereka menangis seperti itu. Ternyata pamanku baru saja datang ke rumah dan menghancurkan seisi rumah. Pamanku adalah adik ibuku, ia seorang atasan di sebuah perusahaan besar, beberapa bulan lalu ibu meminjam uang paman untuk membayar uang sekolah adikku. Karena telat membayar, paman marah dan menghancurkan rumah kami. Saat itu ayah belum pulang kerja, memang biasanya ayah pulang agak larut malam sehingga tidak ada yang melindungi ibu dan adik-adikku.

Lagi dan lagi aku harus membenci orang dalam satu hari ini. Aku benci pamanku, ia bahkan tidak pantas kusebut keluarga karena kelakuannya yang seperti bukan sekeluarga dengan ibu. Ia tega melakukan semua ini dengan kakak kandungnya sendiri. Terkadang aku berpikir apakah dengan meminjam uang yang cuma seberapa ini bisa membuat dia bangkrut?Mengapa dia sangat jahat sekali.

Aku sangat membenci hari ini, ini mengganggu pikiranku. Harusnya aku tenang, beristirahat dari pekerjaan yang sangat berat bagiku, tetapi aku malah merasakan hal berat juga. Satu sisi aku merasa menyesal berhenti bekerja tetapi satu sisi lagi aku tenang, tidak ada yang aku takutkan lagi. Ntah lah, ini benar-benar menyiksaku. Bagaimana caranya aku harus membantu ibu membayar hutangnya?

Hari baru yang sama dengan hari-hari sebelumnya, aku sangat tidak bersemangat. Terkadang aku benar-benar tidak ingin menyambut hari baru dalam hidupku. Aku bergegas berangkat untuk mencari pekerjaan. Aku sangat berharap dengan cepat bisa mendapat pekerjaan yang baik. Disaat sedang berkeliling mencari pekerjaan, aku berhenti di depan sebuah kampus terdekat dengan tempat tinggalku. Aku melihat beberapa teman SMAku, mereka tampak berubah memakai almamater kampus. Terlihat lebih dewasa dan sangat cocok, seperti terlihat sangat pantas dengan itu. Aku membayangkan ada disana dengan mereka dan memakai almamater itu juga, akan sangat indah dan pantas untukku? Seketika aku tersadar dan mengalihkan pikiranku, ini tidak lucu dan sebaiknya aku tidak membayangkan hal ini karena ini tidak akan terjadi.

Jujur, sejak SMA aku sudah membayangkan diri bisa berada di universitas terbaik, aku belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus seleksi. Namun, semuanya tidak semudah yang aku bayangkan, ketika ingin mendaftar aku tersadar akan biaya kuliah, dari mana aku bisa membayar kuliah. Banyak yang menyarankan agar aku mencari beasiswa, awalnya aku coba, tetapi aku berpikir kembali, mungkin iya biaya kuliah akan aman, tetapi kebutuhan keluargaku apakah akan aman? Tentu tidak, beasiswa kuliah tidak akan membiayai kebutuhan keluargaku. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk bekerja saja, mau gak mau aku harus urungkan impian untuk menjadi seorang mahasiswa.

Cerpen Karangan: Elisa Stephani
Blog / Facebook: Elisa Stephani

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Elisa Stephani, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Yulia Indah

Meski harus mandi keringat, bermain dengan debu, itu semua tak menyurutkan semangat Nino untuk menjajakkan dagangannya. Semua itu ia lakukan untuk makan keluarga, meski hasilnya tidak sebanding dengan usahanya




Oleh: Fadillah Amalia

Makanan. Satu hal yang sebelumnya sangat jarang kuperhatikan. Padahal, makanan adalah bagian yang cukup penting untuk kelangsungan hidupku. Sampai akhirnya, Aku mengerti apa itu makanan. Sesuatu yang sangat berarti




Oleh: Ardelia Putri

Langit mendung sore itu. Gumpalan abu-abu gelap seperti sudah mewanti-wanti semua yang dinaunginya bahwa sebentar lagi ia akan menumpahkan bawaannya. Eros bukannya tidak menyadari itu semua. Ia tahu jelas.




Oleh: Sumardi Sansumarto

Suasana panas di saat senja mulai memuncak di ubun-ubun, saling dorong antara mahasiswa yang dengan aparat kepolisian pun tak terelakan, sampai akhirnya hujan batu tiba tiba menggempur barikade polisi




Oleh: Y. Nurafifah

Di balik rumah megah berpagar besi terdapat rumah kayu berkelilingan pohon kelapa dan mangga. Rumah kayu sederhana yang masih layak pakai itu dihuni oleh Pak Aleh dan putrinya Alin.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: