8 tahun cerpenmu

Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 2)

Spread the love

Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 2)





Cerpen Karangan: Elisa Stephani
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 24 May 2022

Aku bergegas berjalan melanjutkan niat awal untuk mencari pekerjaan. Hingga sore hari, aku tidak menemukan lowongan pekerjaan. Sebenarnya ada, tetapi kebanyakan membutuhkan yang tamatan diploma dan sarjana. Kaki lelah melangkah, hati sakit menerima nasib, pikiran kacau memikirkan keadaan. Aku lelah dengan semua ini, tetapi aku harus terus melangkah.
Lalu aku putuskan untuk pulang saja, mencari pekerjaan lewat sosial media dan juga aplikasi lowongan pekerjaan. Lumayan banyak dan sepertinya sesuai dengan kemampuanku. Ku daftar semua yang sesuai, dengan yakin tidak lama lagi aku akan segera bekerja.

Hari berganti hari aku mencari dan terus mencari. Ini benar-benar tidak mudah. Sambil menunggu datangnya panggilan kerja, aku membantu ibu yang bekerja di rumah tetangga sebagai cuci gosok pakaian, setelah itu aku membantu adik-adikku mengerjakan pekerjaan sekolah, tiba-tiba deo, adikku yang paling bungsu yang baru beberapa minggu genap 6 tahun, menanyakan hal yang sangat menyentuh hatiku. “Kak, apa Tuhan itu benar-benar ada? mengapa kita tidak bisa melihatNya? apa Dia punya kekuatan bisa menghilang?” sahutnya. Aku terkejut dan hanya bisa berdiam saja. “Deo, rapikan lagi tulisanmu supaya lebih bagus, ikuti yang ibu guru contohkan” Jawabku mengalihkan pertanyaannya. Jujur aku tidak suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan tentang kepercayaan. Aku tidak ingin membuat adikku semakin bingung tentang keberadaan Tuhan dalam hidup ini karena sampai diumur segini aja aku masih belum paham.

Lihat lah hari tidak pernah berhenti berganti, tetapi hidup ku rasa nya tidak pernah berubah. Aku benci bangun lagi dan lagi. Status pengangguran ini benar-benar membuatku semakin membenci hidupku. Sudah berbulan-bulan aku menunggu dan menunggu, namun tidak kunjung datang perubahan hidup ini. Hutang keluarga yang terus bertambah, satu persatu barang di rumah hilang untuk digadaikan, bahkan sepeda motor satu-satunya yang kami punya juga harus dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ibu tidak bisa lagi bekerja cuci gosok karena tubuhnya yang sangat lemah. Sebenarnya sudah lama ibu mengalami masalah di punggung belakangnya, tetapi kami belum pernah cek ke dokter karena tidak ada biaya dan ibu juga selalu merasa baik-baik saja dan tidak mau dibawa ke dokter.

Sebagai anak yang paling tua, anak yang sudah dewasa, aku sangat diharapkan keluarga, tetapi lihat lah, aku benar-benar tidak berguna. Aku hanya bisa menangis melihat adik-adikku makan nasi dengan garam, melihat ayah dan ibu selalu mengalah tidak makan agar anak-anaknya bisa makan. Aku benci hidupku, sejak kecil aku menyaksikan semua ini. Bukan sesekali aku ingin mengakhiri hidupku, tetapi sering kali. Selalu gagal, seperti ada pikiran yang mengalihkanku kepada wajah kedua orangtua dan kedua adikku.

Suatu pagi aku sedang mengantar adik-adikku ke sekolah dengan meminjam sepeda motor tetangga, tiba-tiba salah satu guru Deo memanggilku, ia memintaku untuk ikut ke ruangannya. Jujur aku sangat takut, apakah akan menanyakan uang sekolah Deo, atau mungkin Deo nakal? aku sangat takut. Sesampainya di ruangan, guru Deo tiba-tiba menanyakan masalah apa yang sedang aku hadapi. Aku terdiam, bagaimana mungkin ia bertanya hal yang tidak penting dan tidak ada urusannya dengan Deo. Lalu guru Deo melanjutkan pembicaraannya. “Maaf saya terlalu lancang bertanya seperti ini, tetapi beberapa hari lalu hati saya tersentuh saat Deo menceritakan tentang kamu dengan saya. Hari itu Deo lama dijemput pulang oleh ayahnya, oleh sebab itu saya menemaninya sambil bercerita dengannya. Deo menceritakan tentang kamu dan ia sangat sedih.” Cerita bu guru kepadaku yang cuma bisa berdiam diri saja. Ternyata Deo menceritakan bahwa ia sempat mengintip aku yang menangis di kamar sambil mengatakan bahwa aku kecewa dengan Tuhan, aku membenci Nya karena Ia tidak menolongku. Bu guru Deo adalah guru agama di sekolah Deo. Ia juga mengatakan bahwa ia kecewa mendengar semua itu.

“Iya, benar bu, saya mengatakan semua itu. Karena semua itu benar, Tuhan tidak mau menolong saya dan keluarga saya.” Jawabku, Lalu aku menceritakan semua yang aku alami sejak kecil untuk meyakinkan pendapatku bahwa Tuhan tidak pernah menolongku. Kemudian guru Deo mengatakan bahwa aku sangat salah besar. Ia percaya Tuhan selalu menolong kami bahkan buat setiap hal kecil yang kami rasakan. Tuhan mengizinkan kami merasakan ini semua karena Ia tidak memilih orang yang sembarangan untuk di posisi ini. Artinya kami adalah orang-orang pilihan Nya. Orang-orang spesial yang juga akan mendapat pertolongan yang spesial. Bu guru Deo tidak mau aku terus-terus mengeluh, ia ingin aku belajar bersyukur bahkan untuk hal-hal kecil yang kurasakan.

Saat itu aku masih keras dan kecewa dengan bu guru Deo, aku merasa ia sama saja dengan orang-orang lain, tidak paham karena tidak merasakan. “Tapi bu, mengapa harus aku yang dipilih Nya? Mengapa bukan orang lain saja? Mengapa harus aku yang merasakan posisi terburuk ini, mengapa tidak posisi yang baik saja? Mengapa harus aku?”. Sahutku dengan suara gemetar karena menahan tangis. Hatiku hancur, ini hal yang dari dulu ingin aku ungkapkan. Tidak adil rasanya kalo Tuhan pilih aku untuk hal buruk, sementara orang lain untuk hal yang baik. Dia tidak seharusnya memilihku, banyak manusia di bumi ini yang jauh lebih kuat untuk Dia pilih. Bu guru Deo terdiam, lalu ia memelukku yang terlihat sangat tertekan. Seketika aku menangis, tidak pernah aku merasa selepas ini, selama ini aku menahan jiwa berontak dalam diriku.

“Saya paham, kamu pasti tidak terima semua ini terjadi. Pasti sudah sangat banyak harapan yang kamu inginkan tidak terjadi dalam hidupmu, sehingga kamu sangat kecewa kepada Tuhan. Tapi nak, percayalah sebenci apa pun kamu kepada Tuhan, Ia tetap mengasihimu, memperhatikan hidupmu, bahkan Ia tidak akan pernah tertidur untuk selalu menolongmu.” Kata bu guru Deo yang mencoba menenangkanku. Aku merasa tertembak dengan ucapannya. Merasa bahwa aku sangat jahat.

Bu guru benar, kalau Tuhan masih tetap mengasihiku mengapa aku tidak bisa mengasihi Nya, bahkan Ia tidak pernah melukaiku. Aku berterimakasih kepada bu guru Deo yang sudah memahami dan memberiku motivasi untuk tetap terus hidup dan menjalani nya pelan-pelan. Aku putuskan untuk pulang karena khawatir ibu mencariku. Sepanjang perjalanan aku masih tetap menangis sambil meminta maaf kepada Tuhan. Aku putuskan aku hidup baru, dengan perasaan yang baru, lebih bersyukur dan selalu percaya kalau Tuhan pasti tidak pernah meninggalkanku.

Cerpen Karangan: Elisa Stephani
Blog / Facebook: Elisa Stephani

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Mengapa Harus Aku? (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Elisa Stephani, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Iis Nia Daniar

“Lelaki ya harus kerja.” perkataan Bapak Mertuanya itu yang selalu dia ingat dalam benaknya. Pernah suatu hari Banyu jatuh sakit, typus, hasil diagnosis dokter. Dia berusaha untuk menyembunyikan rasa




Oleh: Putri Permata Sari

Suasana kota Jakarta yang penuh dengan keramaian serta kemacetan ini membuatku semakin berpeluang untuk mendapatkan banyak kesempatan. Aku tidak seperti anak-anak seusiaku. Usia 14 tahun. Saat usia 14 tahun




Oleh: Do Minseok

Kumulai hariku di saat penghuni kota masih terhanyut akan belaian mimpi mereka, bahkan deru indah ayat suci belum terdegar. Dengan menahan letih yang tak pernah lepas dari setiap sendi-sendi




Oleh: Melly Windarti

Aroma kematian masih menguap ke segala penjuru arah, suasana duka sampai saat ini terus begeriliya menyesakkan dada. Ibunya masih di sini tapi sudah kaku sejak dini hari. Dian menangisi




Oleh: Jovian Andreas

“Nilai Sepuluh juta rupiah pernah ku ingat dari acara Televisi, talkshow, yang dibawakan Helmy Yahya pakai janggut dan memberi uang sebanyak itu pada orang miskin di jalan yang ditemuinya.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: