8 tahun cerpenmu

Cerpen Menjemput Rindu

Spread the love

Cerpen Menjemput Rindu





Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

Sudah beberapa malam aku mengalami kesulitan memejamkan mata. Padahal, sengaja sesiang aku duduk di depan komputer untuk menyelesaikan cerpen kesepuluh yang berjudul “Menggapai Mimpi”. Mataku yang sudah cukup lelah ternyata tidak mampu menutupnya. Mungkin aku terlalu banyak minum kopi. Ya… sejak merasakan begitu nikmatnya kopi hitam, aku selalu tidur larut malam. Sempat aku tanya kepada Mbah Google, jawabannya, aku terkena penyakit insomnia. Konon menurut dokter semakin menuanya usia, ritme sirkadian yang bertugas mengatur jam biologis tubuh, yakni jam waktu tidur dan bangun, semakin melemah yang membuat jam biologis tubuh menjadi terganggu.

Jam di dinding sudah menunjukkan 24.30, hawa dalam kamar begitu sumuknya, terpaksa aku pindah duduk di serambi belakang sekedar mencari hawa yang lebih segar. Hujan baru saja mengguyur dengan cukup lebat disertai geluduk dan kilat. Tetesan sisa-sisa airnya dari genting masih terdengar. Bentangan awan hitam bersisa menggelantung menutupi bulan yang akan memamerkan kecantikannya. Beberapa bintang-bintang kecil dengan malu-malu menyeruak diantara awan hitam ingin memberikan sedikit sinarnya untuk menerangi kegelapan malam. Jangkerik, kodok, burung hantu dan binatang malam lainnya bagai dikomando, tidak mau mengeluarkan suaranya yang merdu. Sepasang kunang-kunang dengan lentara kecilnya yang biasanya terbang keliling kebun juga tidak nampak. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak biasa, mereka semua lebih memilih bersembunyi diantara rimbunan semak dan bebatuan. Hembusan angin yang biasanya setia memberikan kesejukan kini berhenti. Pohon-pohon pun bagai patung, diam tanpa nafas. Kesunyian dan kegelapan malam menemaniku. Tapi biarlah, aku memang sengaja ingin sendirian, melawan kasih yang menghujani hatiku.

Lonceng jam dinding terdengar satu kali yang menandakan malam itu sudah memasuki hari esok. Keheningan malam terusik adanya suara burung hantu “Huuuhk…, huuuhk…, huuuhk….” dan tidak berapa lama terdengar suara ayam jago berkokok dan lolongan anjing yang bersautan. Malam itu, malam Selasa Kliwon, tidak seperti malam-malam sebelumnya, suasananya cukup mencekam.

Dalam kesendirian dan keheningan malam, tiba-tiba angin dingin menerpaku dari samping kanan. Bulu kuduk dan bulu-bulu di tanganku berdiri tanpa aku suruh. Aku diam sesaat, ada sedikit rasa takut, namun kucoba melawannya, aku ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kembali, untuk kedua kalinya, angin dingin menerpa mukaku. Kali ini, disertai suara pelan, lebih tepatnya berbisik di telinga sebelah kanan.

“Juno, engkau menunggu siapa?”

Hawa dingin disertai harumnya aroma bunga kenanga berada di sebelah kananku, sepertinya cukup dekat. Aku tengok ke kanan darimana suara itu berasal. Tidak ada siapa-siapa. Ya…, tentu tidak ada siapa-siapa kalau itu orang yang dimaksud. Kembali rambut-rambut bulu kuduk dan tanganku berdiri. Aku cubit tanganku cukup keras, sakit. Jadi aku tidak mimpi. Aku coba untuk menenangkan diri, mengatur nafas, mencoba mengendalikan otakku. Setelah agak tenang aku memberanikan diri bertanya.

“Siapa dirimu?” Sunyi, tiada jawaban.
“Siapa dirimu?” Untuk kedua kalinya aku bertanya. Sunyi, tiada jawaban.
“Siapa dirimu?” Kembali, untuk ketiga kalinya aku bertanya.
“Hi…, hi…, hi…”
Aku kaget mendengar suara ketawa tanpa wujud.
“Engkau pasti makhluk halus. Kita berbeda alam, jika engkau akan berbuat jahat, lebih baik segera pergi.”
“Hi…, hi…, hi…, Juno, belum apa-apa engkau sudah berprasangka buruk kepadaku. Bukankan engkau kesepian? Bukankah engkau berharap ada yang menemani?”
“Ya… memang benar aku lagi merasa sendiri, aku merasa sepi. Tapi aku tidak mengharapkan kehadiranmu.”
“Hi…, hi…, hi…, Juno, bagaimana kalau malam ini saja aku menemanimu?”
Untuk sejenak, aku berdiam.

“Baiklah, kali ini saja.”
“Terima kasih Juno. Jadi apa yang membuatmu merasa sepi?”
“Entah mengapa, aku sendiri tidak tahu. Namun sebelum berlanjut pembicaraan kita, aku ingin tahu siapa dirimu?”
“Engkau sudah tahu Juno, aku makhluk halus, makhluk tidak kasat mata. Orang biasanya menyebutku makhluk halus.”
“Aku sudah tahu kalau engkau makhluk halus, maksudku engkau telah mengetahui namaku, sementara aku tidak tahu namamu. Rasanya tidak adil aku belum mengetahui siapa dirimu, aku harus panggil siapa dirimu?”
“Apa engkau perlu namaku?”
“Ya.., tentu saja.”
“Terserah engkau saja Juno.”
“Bagaimana kalau aku panggil ANGIN MALAM?”
“Apakah tidak ada nama lain yang lebih baik?”
“Engkau itu aneh, memintaku untuk memanggil apa saja, setelah aku pilih nama Angin Malam engkau menolak.”
“Bukan menolak, hanya apakah tidak ada nama lain yang lebih keren. Cukup banyak teman-temanmu yang ketika aku temani dalam kesepian selalu ingin memanggil namaku Angin Malam.”
“Baiklah, bagaimana kalau aku panggil DEWI MALAM?”
“Ya…, ya…, ya…, itu nama keren. Bagaimana engkau tahu kalau aku perempuan?”
“Ya…., dari aroma bunga kenangan dan suaramu yang mengingatkanku akan seseorang?”
“Hebat engkau Juno masih dapat mengenal orang dari suaranya. Dapat dipastikan orang itu pasti teman dekat atau malahan teman istimewa?”

“Suaramu, memang mirip suara dengan perempuan yang sangat dekat denganku, mungkin juga kecantikanmu seperti kecantikannya DIA, apakah aku boleh melihatmu?”
“Jangan Juno, aku khawatir engkau pingsan melihat wajahku. Lebih baik persabahatan kita seperti ini saja. Aku akan datang jika engkau merasa sendirian.”
“Baik kalau begitu, sebenarnya tidak adil, engkau tahu wajahku tapi aku tidak tahu wajahmu, tapi ya.., sudahlah.”

“Dewi Malam, aku merasa kedinginkan, maukah engkau sedikit menjauh dariku.”
Aku perhatikan sebelah kananku. Ternyata kursi sebelah kananku berpindah sedikit agak jauh. Jadi aku mengetahui keberadaan Dewi Malam.

“Apakah engkau masih merasa kedinginan?”
“Tidak, terima kasih.”
“Juno, tadi di awal aku lihat engkau termenung sendiri, seperti ada sesuatu yang terjadi padamu. Apakah aku boleh mengetahuinya?”
“Aku baru saja titip salam “Terlanjur Sayang” kepada Dia melalui angin malam dan kuberharap salamku sampai kepadanya.”
“Juno, engkau masih saja merahasiakan kepada siapa salam kasihmu engkau sampaikan.”
“Engkau begitu semangatnya ingin tahu kepada siapa salam kasihku aku sampaikan.”
“Iya…, aku penasaran saja, sampai-sampai engkau mengorbankan ragamu diterpa dinginnya malam dan kesendirian di kesunyian malam.”

“Baik, aku akan berterus terang kepadamu, aku rindu kepada DEWI, cinta pertamaku, entah mengapa selama beberapa hari ini wajahnya selalu membayangi kemanapun aku pergi. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu kepadanya. Semoga dia selalu sehat dan bahagia.”
“Juno, Juno…, jadi engkau memberi nama aku Dewi Malam itu karena suaraku mirip suara dia?”
“Apakah salah? Bukankah engkau sudah setuju dengan nama Dewi Malam. Bukan saja suaranya yang aku hafal, tapi aku hafal segalanya, ya… segalanya: matanya, hidungnya, aroma tubuhnya, aroma rambutnya, bibirnya yang mungil. Aku membayangkan wajahmu juga seperti wajahnya.”
“Juno engkau terlalu menyanjungku berlebihan. Aku yakin bahwa Dewi itu pastik cantik, sampai engkau masih memikirkannya hingga kini.”
“Ya.., memang dia cantik. Tapi bukan itu yang menyebabkan aku selalu teringat kepadanya. Sampai kini, aku masih merasa bersalah telah berselingkuh dengan menggandeng gadis lain di depannya.”

“Wouuw…, itu cerita yang menarik. Dewi yang cantik engkau tinggalkan dan engkau menggandeng gadis lain. Tentu gadis yang engkau gandeng lebih cantik. Apakah demikian?”
“Aku terjebak permainan dari teman-temanku.”
“Terjebak bagaimana?”
“PUTRI gadis tercantik di SMA belum ada yang menggandeng. Agak aneh juga sebetulnya. Terus teman-temanku mengajukan tantangan kepadaku.”
“Juno, kalau engkau bisa menggandeng Putri, engkau betul-betul LELANANGING SMA. Engkau betul-betul ARJUNO.” Kata teman-temanku.
“Tantangan itu aku terima, dan dalam waktu kurang dari satu bulan aku sudah dapat menggandeng Putri.”

“Luar biasa engkau Juno, betul-betul lelananging SMA. Juno, aku jadi penasaran kepengin lihat wajah Dewi dan Putri serta teman-teman dekatmu. Sepertinya ceritamu sangat menarik.”
“Bagaimana mungkin engkau melihat wajah teman-temanku, bukankah itu masa yang telah lewat?”
“Juno, aku dapat membawamu ke masa lalu.”
“Jadi, engkau bisa membawaku ke masa-masa indah ketika remaja?”
“Pejamkan matamu, jangan kaget kalau engkau sudah berada di masa yang engkau inginkan.”

“Lihat…., gadis yang berangkat sekolah dengan rambut selalu basah dan berjalan sambil baca buku pelajaran. Dia namanya NURIL, gadis terpandai di kelas IPA. Teman-teman memanggilnya CLURUT.”
“Lihat…, gadis dengan sepasang kaki indahnya yang dibungkus sepatu Ankle Boots, gadis paling modis, anaknya pejabat tinggi di Kendal, NUNIK namanya. Sayang, teman-temanku tidak ada yang berani mendekatinya, paling-paling hanya berbisik-bisik Nunik itu cantik ya…”
“Lihat…, gadis yang naik sepeda jengki, gadis hitam manis dengan bola mata yang indah, namanya YULI. Salah satu temanku naksir berat kepadanya.”
“Lihat …, gadis mungil berkulit kuning langsat dengan rambut sedikit ikal serta tanda khusus di pipinya, namanya DENOK. Juga, teman dekatku naksir berat kepadanya hanya tidak berani mengutarakannya.”
“Terus mana yang namanya Dewi dan Putri.”
“Rupaya enkau sudah tidak sabar untuk melihat wajah Dewi. Coba bawa aku ke masa SMP saat aku bersamanya ke KEDUNG PENGILON.”

“Dewi Malam, lihat…, aku sedang bersepeda berboncengan dengannya menuju Kedung Pengilon. Lihat…, dia mengusap keringat di wajahku ketika beristirahat di bawah rimbunnya pohon bambu ditepi Sungai Kendal. Mesra bukan? Lihat.., aku dan dia duduk berdekatan, saling suap ketika makan siang bersama sambil menikmati indahnya Kedung Pengilon.”
“Dewi malam, lihat dan dengarkan percakapanku dengannya, sangat romantis, yang selalu aku ingat hingga kini.”

“Juno, apakah Juno cinta sama Dewi?”
“Dewi, apakah cinta harus dikatakan?”
“Juno…, aku cinta kamu.” Suara terdengat bergetar.
Aku tatap matanya yang indah, aku lepaskan panah asmara tepat di jantung hatinya. Jantungku berdetak dengan kencang. Wajahku semakin mendekat ke wajahnya, aku cium rambutnya, aku cium keningnya, aku cium bibirnya dengan ketergesaan, gigiku beradu dengan giginya. Berdua, kami tersenyum. Maklum aku dan dia belum pernah berciuman. Setelah itu, aku kecup bibirnya dengan lembut, aku kecup berkali-kali. Sejuta rasanya. Itu pertama kali aku mencium gadis.

“Kini, engkau sudah lihat Dewi. Cantik bukan?”
“Ya.., betul sekali. Dewi sungguh cantik. Terus mana yang namanya Putri?”
“Bawa kembali aku ke SMA.”

“Lihat…, saat aku menggandeng Putri di depan Dewi. Sekarang engkau telah melihat Putri bukan?”
“Ya…, ya…, betul Putri memang cantik. Pantas saja karena kecantikannya para lelaki tidak ada yang berani mendekatinya. Hanya engkau satu-satunya yang mempunyai keberanian menggandengnya.”
“Coba dengarkan apa yang dikatakan Dewi kepadaku.”

“Juno, apa salahku?”
“Engkau tidak salah Dewi. Aku hanya ingin membuktikan kepada teman-teman bahwa aku bisa menggandeng Putri.”
“Juno, cintaku telah engkau jala, diriku terlanjur sayang kepadamu, tapi engkau tega menggandeng Putri di depan mataku.”
“Ma’afkan aku Dewi.”
“Memang benar Putri itu cantik, tapi apakah cinta hanya diukur dari kecantikan saja? Bukankah aku mencintaimu sepenuh hati?”
“Ma’afkan aku Dewi.” Ya…, hanya itu yang dapat aku katakan.

“Sejak itu, selama beberapa minggu pada jam istirahat Dewi selalu duduk sendirian di bawah pohon kelapa memandang Sungai Kendal dengan tatapan kosong, bahkan kadang menangis tanpa suara setiap melihatku menggandeng Putri. Itu yang membuatku aku merasa bersalah hingga kini. Rasanya meminta ma’af seribu kali pun tidak cukup.”

“Terus bagaimana kelanjutannya hubunganmu dengan Putri?”
“Sepertinya karma menimpaku. Putri selingkuh dengan lelaki yang sudah kuliah di Semarang. Aku sempat shock juga, ternyata lelananging SMA kalah telak sama lelaki yang menggandeng Putri.”
“Ya…, betul sekali karma akan selalu menimpa seseorang yang berbuat tidak baik. Kapan pertemuanmu yang terakhir dengan Dewi.”
“Sudah sangat lama, pada reuni perak kami dipertemukan. Aku sudah minta maaf kepadanya. Aku sangat terharu dia telah mema’afkanku.
“Juno, itu masa lalu, aku sudah coba lupakan.” Katanya.
Tapi.., aku masih ingin ketemu sekali lagi saat Reuni Emas. Aku ingin mengajaknya ke Kedung Pengilon, mengulang saat di SMP dulu dan minta maaf kepada sepasang angsa yang aku lempar dengan batu kecil.”
“Bukankan reuni emas tahun 2021 tinggal menghitung hari.”
“Ya…., hanya saja aku merasa dipermainkan waktu, berjalan demikian lambatnya. Satu hari serasa satu tahun. Apakah jalannya tidak bisa dipercepat?”

“Juno, engkau itu ada-ada saja. Buatlah hatimu gembira, buatlah suasana yang menyenangkan, waktu akan berlalu bagai kedipan mata.”
“Huuuhk…, huuuhk…, huuuhk….” Suara burung hantu terdengar lagi. Begiru dekatnya, bahkan aku dapat melihat sepasang matanya yang manatapku dengan tajamnya.
“Juno, nampaknya aku harus pergi, waktu sudah pagi. Burung hantu sudah memanggilku. Senang ngobrol denganmu, jangan sungkan-sungkan panggil aku jika merasa kesepian.”

Tiba-tiba hawa dingin mendekat, sesuatu yang lembut tapi dingin menempel di bibirku dengan kuatnya sampai-sampai aku kesulitan bernafas. Sepertinya Dewi Malam menciumku dengan penuh nafsu, bibirku digigitnya. Aku pingsang.

Lamat-lamat aku mendengar suara yang memanggilku dan badanku digoyang-goyangkan.
“Ayah-ayah, bangun. Mengapa ayah tidur di luar?”
Aku buka mataku, terlihat istriku masih menggoyang-goyangkan badanku agak keras. Aku paksa bangun, badanku terasa lemas, bibirku terasa agak sakit, ketika akan aku sentuh, di tanganku tergemgam bunga kenangan.

“Ayah…, kenapa bibirnya? Ayah juga menggemgam bunga kenangan, darimana asalnya?”
Aku diam, menenangkan diri dan mencoba mengingat peristiwa yang terjadi malam tadi. Mimpi atau nyata? Suatu obrolan yang sangat menyenangkan bersama Dewi Malam, apalagi saat menembus waktu, menikmati saat-saat indah bersama Dewi. Tapi yang aku takutkan luka kecil yang masih membekas di bibirku. Jangan-jangan Dewi Malam telah menciumku? Atau malahan jangan-jangan Dewi Malam mulai jatuh cinta padaku.

Reuni Emas sepertinya tinggal mengitung hari, tapi aku tak tahu kapan itu tepatnya. Aku merasa waktu berjalan demikian lambatnya, sungguh aku tidak sabar menantimu. Aku ingin segera melihat apakah Nuril masih basah rambutnya? Apakah Nunik masih memakai sepatu Ankle Boots? Apakah mata Yuli masih seindah dahulu? Apakah pipi Denok masih ada tembongnya? Dan, tentu saja aku tidak sabar ingin memeluk Dewi di Kedung Pengilon seperti saat di SMP.
Dewi.., aku ingin memelukmu sekali lagi, bukan hanya pelukan di dalam mimpiku. Mungkin itu pelukan terakhirku. Aku sungguh takut kalau Dewi Malam memelukku terlebih dahulu.

Kebun Raya Residence BOGOR, 30 September 2021

Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Blog: Blog Bambang Winarto
BAMBANG WINARTO (mBang Win) dilahirkan di Magelang 15 Juni 1954. Setelah lulus dari SMA Kendal, mengikuti pendidikan di Fahutan – IPB (1974-1978). Bekerja di Kementerian Kehutanan 1979-2010. Memperoleh gelar Magister Manjemen bidang studi Agribisnis dari UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik.
Bambang Winarto aktif menulis artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan cerita pendek dan puisi. Hobby menulis dilakukan untuk menjaga agar tidak cepat lupa karena usia.
PENCURI RAGA PERAWAN dan PITA PUTIH DI POHON PINUS, di WEB CERPENMU masuk nominasi 1 dan 15 cerpen terbaik bulan April 2022.
Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, Email: bambang.winarto54[-at-]gmail.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Menjemput Rindu merupakan cerita pendek karangan Bambang Winarto, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Anhar Tasman

Ia di sana, menatapnya penuh kasih sayang, jaket hijau dan jeans biru yang dipakainya menambah kesan tomboi. Ia begitu tinggi hingga Tasim selalu mendongak ke atas setiap kali berbicara




Oleh: Winda

Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana. Meskipun kerajaan tersebut kecil tetapi kerajaan tersebut sangat kuat dan ditakuti oleh kerajaan lain karena prajurit




Oleh: CintaDSinta

Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, bermaksud untuk mengakrabkan diri sebelum tinggal untuk beberapa waktu lamanya. Udara yang semakin menghangat padahal jam baru menunjukkan pukul 8 pagi, pantaslah ini




Oleh: Selistia Naila

Pada suatu hari, ada seorang anak yang sedang bermain di pohon beringin. Sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang nenek-nenek memanggil dirinya dari belakang. “Nada, Nada… tolong bantu saya!” spontan




Oleh: Gagak Socawengi

Di atas puncak gunung lawu tingalah seorang petapa sakti dan seorang cucu laki-lakinya. Si petapa oleh orang-orang sering dipanggil ki Lawu sedangkan sang cucu bernama Dananjaya. Dua puluh tahun



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: