thumb

Cerpen Mudik Copid

Spread the love

Cerpen Mudik Copid





Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Kehidupan, Cerpen Lucu (Humor)

Lolos moderasi pada: 23 April 2022

Korona melanda Indonesia hampir setahun. Segala aktifitas lumpuh. Proposal-proposal yang telah dibuat manusia menjadi ambyar. Suasana mencekam, ketakutan yang luar biasa. Meski berangsur manusia kembali berbenah, tapi bayangan korona layaknya Izrail sedang mencermati data antrian yang siap dijemput, siap direnggut, dan siap untuk angkut kendaraan, beroda empat manusia.

Korona merona, manusia merana. Berbagai macam teori konspirasi, analisis medis, juga para penyuka mistis, bertaburan di media yang sadis. Manusia awam hanya bisa manggut-manggut, menurut, persis burung perkutut yang mengikuti bunyi siulan dan jentikan jari pemiliknya.

Gus Parit termenung. Ia yang meninggalkan kampung halamannya demi mengadu nasib di kota, seketika buyar. Belum genap dua bulan bekerja di pabrik, kena imbas PHK. Beralih ke ojol, Gus Parit kalah saingan dengan ojol senior yang sudah punya langganan dan popularitas. Kampung halaman, rela ia tinggalkan. Emak dan dua adiknya, dengan beban kerinduan, ia juga rela menahan. Faisal, sahabat lekatnya sejak kecil, ia tega terpisahkan. Bagaimana ia tak dongkol kepada korona.

Gus Parit, gemerutuk giginya. “Jika korona makhluk kasat mata, akan kutantang ia duel. Kumaki dia sepuasnya! Kutendang “anu”nya, hingga meringis kesakitan. Biar saja! Biar korona tak bisa bereproduksi untuk melanjutkan keturunannya!”.

Gus Parit membuka dompetnya. Dilihatnya hanya beberapa lembar lima ribuan. Gus Parit kalut, uangnya hanya cukup untuk makan sampai sore. STNK sepeda motor sudah disekolahkan di pegadaian. Jam tangan pemberian almarhum bapaknya, sudah menjadi jaminan ketika bensinnya habis suatu malam. Beberapa teman dan warung makan, sudah beberapa kali Gus Parit berhutang. Mau berhutang lagi? Ah.. Gus Parit khawatir akan terlilit. Hutang adalah kehinaan di siang hari dan kesengsaraan di malam hari. Gus Parit enggan menambah hutang lagi, karena takut. Gus Parit pernah mendengar dari ustadznya dulu, bahwa orang mati syahid diampuni semua dosa kecuali hutang!

Gus Parit dalam kekalutan tingkat dewa. Sudah tidak tahu bagaimana lagi harus berbuat apa. Dalam kerisauannya yang “maha”, Gus Parit teringat emak dan dua adiknya, teringat Faisal, dan teringat kampung halamannya. Pulang? Gus Parit ingin pulang. Menjadi satu-satunya solusi yang terbersit. Segera diambilnya Hp untuk memberitahu berita kepulangannya kepada Faisal.

“Assalamualaikum, halo.. Sal! Ini aku Parit”, sapa Gus Parit kepada Faisal, sahabat kampungnya.
“Waalaikumsalam, iya Rit. Ada apa? Mo pinjem duit lagi to?” Faisal berkata di seberang.
“Hush! Buruk sangka kamu! Tapi, kalau kamu ada lebih duit, bolehlah… hahaha”
“Ooo.. dasar lidah tak bertuah! Ada apa kamu telpon, Rit?”
“Haha.. Lidah metua tuh yang bertuah! Anu.. Sal, aku ingin pulang. Sampaikan kepada emak ya.. besok aku sampai”, Gus Parit memberitahu maksudnya.
“Hah! Pulang? Kamu mau pulang ke sini? Pulang ke rumah? Kapan? Besok?”
“Iya, pulang ke rumah. Gak usah disambut lo ya. Aku bukan tokoh besar. Apalagi sambutannya melibatkan banyak orang. Bikin ricuh saja! Hahaha..”
“Jangan guyon, Rit! Siapa juga yang menyambutmu! Kamu kan dari kota, kotamu itu berada di wilayah zona merah hitam lo..”
“Terus, kenapa Sal? Gak usah juga pasang baliho, hanya untuk menyambutku, nanti diturunkan paksa sama Pak Dudung”
“Guyon saja kamu. Kamu tanya kenapa? Kamu mau menyebarkan virus korona di kampung?”
“Jadi gimana? Aku sudah tidak punya uang lagi. Masak aku ngemis, Sal?”
“Kalau mau, ya nggak apa-apa! Kamu tidak boleh pulang, Rit! Tidak boleh!”
“Waduh Sal.. Sal.. jadi gimana dong? Uangku habis nih.. gini saja, kamu hutangi aku atau aku akan pulang?”, ancam Gus Parit dan segera menutup telponnya. Faisal pun merasa iba. Ia merasa kasihan dengan nasib yang dialami karibnya.

Faisal tampak bingung. Rupanya kekalutan sahabatnya menular. Faisal segera menemui Pak RT untuk memberitahukan kepulangan Gus Parit dari kota yang berzona merah hitam. Disepakati. Gus Parit boleh pulang, asalkan mau dikarantina 14 hari, di rumah yang telah disediakan. Untuk konsumsi dan segala kebutuhan, sementara ditanggung Faisal sebagai penanggungjawab. Sambil menanti klaim Pak RT ke pemerintah Desa. Faisal yang sedang kalut, tidak berpikir jernih. Memang, kebingungan sering mengalahkan logika. Diiyakan saja, kesepakatan dengan Pak RT. Membolehkan Gus Parit pulang dengan catatan harus dikarantina.

Faisal segera memberitahu sahabatnya Gus Parit. Besoknya, Gus Parit datang langsung menuju rumah karantina yang telah disediakan dan berjanji tidak akan pergi ke luar rumah selama empat belas hari, demi keamanan dan kenyamanan kampung. Jika memerlukan apa-apa, Gus Parit akan menghubungi Faisal untuk menyediakannya.

“Sal.. aku baru tiba nih! Tenggorokanku haus banget. Minta dikirimkan es jus alpukat dong, pliss..” WA Gus Parit kepada Faisal.
Cuaca memang lagi panas-panasnya. Tampaknya matahari enggan digantikan tarian hujan. Faisal pun segera membelikan yang Gus Parit minta, kemudian menaruhnya di pagar rumah karantina. Ketika malam tiba, Gus Parit mengirimkan pesan WA kepada Faisal.

“Sal.. malam-malam gini enaknya makan nasi goreng ya..”
Faisal pun membalasnya, “Kamu itu dikarantina, jangan memanfaatkan situasi ya”
Gus Parit segera membalas, “Siapa yang memanfaatkan? Ya sudah aku tak pergi cari sendiri..”
Faisal terkejut. Kalau sampai ketahuan orang kampung bahwa Gus Parit lepas dari rumah karantina, maka ia akan dimusuhi satu warga kampung. Faisal pun segera memenuhi permintaan Gus Parit.

Sudah satu minggu lebih, Gus Parit dikarantina. Tinggal dua hari lagi, maka Gus Parit akan bebas untuk menyapa emak dan dua adiknya. Gus Parit bersyukur, selama dikarantina tidak merasa gejala-gejala yang menunjukkan bahwa terindikasi terkena korona. Gus Parit merasa sehat. Sangat sehat, tambah membuncit perutnya malah! Karena segala macam kebutuhannya dicukupi Faisal. Makanan, minuman, jajan, kuota internet, bahkan berlangganan TV kabel, untuk menikmati pertandingan bola kesukaannya. Gus Parit tampak kerasan di rumah karantina. Sedih, karena kurang dua hari ia harus “bebas”.

Berbeda dengan Faisal. Ia merasa dua hari kebebasan Gus Parit layaknya dua abad. Uang tabungannya ludes untuk membelikan segala macam keperluan Gus Parit. Faisal menyesal, mengapa dia membuat kesepakatan dengan Pak RT tentang kepulangan Gus Parit. Namun, Faisal berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia yakin, yang diperbuatnya akan dicatat sebagai amal kebaikan oleh malaikat. Dan bukankah Pak RT akan mengklaim, mengganti rugi keseluruhan biaya yang ditanggung Faisal? plus bonus karena dianggap sebagai relawan korona tingkat RT. Perlahan Faisal tersenyum, karena berbuat kebaikan kepada sahabatnya dan imbalan atas jasa menjaga Gus Parit selama karantina.

Malam menjelang “kebebasan” Gus Parit menelpon Faisal.
“Assalamualaikum, Sal.. besok aku bebas. Kita bisa ketemu lagi”
“Waalaikumsalam, syukur kamu gak kenapa-napa, Rit”, Faisal malas menjawab. Karena ia tahu, kalau Gus Parit menelpon, pasti ada sesuatu yang diinginkannya dan Faisal harus segera memenuhinya. Karena kalau tidak, Gus Parit mengancam akan keluar dari rumah karantina.

“Hei.. suaramu ko lemes gitu. Jangan suuzan. Aku saat ini tidak perlu apa-apa”, Gus Parit merasakan kecemasan sahabatnya.
“Syukuurr.. kalau tidak mau apa-apa. Ada apa kamu telpon malam-malam?”
“Sepi, Sal.. Di rumah ini aku sendiri. Gak ada teman ngobrol”
“Ya jelas. La wong kamu masih dikarantina. Rame ya di Amerika sana”
“Haha.. Indonesia juga rame tuh, mang ngaruh ya sama nasib kita?”
“Haha.. jelas gak ngaruh. Ya ikut-ikutan trending aja, biar rame. Sudah ya aku ngantuk”

“Eh.. Sal, belum selesai nih. Perutku lapar nih, nggak bisa tidur” Gus Parit mulai berterus terang.
“Ha.. apa, Rit? Tampar? Halo.. halo.. sinyalnya putus.. halo.. tuut.. tuuutt..”, Faisal buru-buru menutup telponnya.
Gus Parit mendengus kesal. Ia tahu Faisal akal-akalan saja. Gus Parit pun memaksa tidur dengan perut yang lapar melilit.

Keesokan paginya, hari masa karantina habis. Gus Parit melenggang pulang ke rumah untuk menemui emak dan dua adiknya. Setelah melepas kerinduan, Gus Parit menemui sahabatnya Faisal. Mereka pun ngobrol dengan asik.

“Waduuh… pagi-pagi sudah ke sini. Mau minta sarapan ya?”, sapa Faisal kepada Gus Parit yang baru saja membuka pintu.
“Sal.. Sal.. suuzan terus. Daaann.. suuzanmu memang benar. Apa nih menu sarapan ibumu?”
“Sudah cari saja sendiri di dapur sana. Aku puasa sunah, nih…”, Faisal meminta Parit.

Sehabis sarapan, Faizal mengajak Gus Parit untuk menemui Pak RT, dengan maksud ingin mengklaim biaya yang dihabiskan selama merawat Gus Parit selama di rumah karantina, tentu saja plus bonus. Faisal tersenyum, membayangkan uang klaim akan diterimanya.

Setelah sampai di rumah Pak RT, Faisal tidak menemukan Pak RT. Kata istrinya, suaminya sedang menuju kelurahan. Faisal tersenyum dan berpikir, “Pasti Pak RT sedang mengurusi urusan klaim-mengklaimku!”. Faisal dan Gus Parit bergegas menuju kantor kelurahan. Sesampai di sana, Pak RT tidak ada. Kata petugas kelurahan, Pak RT memang tadi ke sini, tetapi langsung menuju ke sawah. Faisal menggerutu. Sudah puasa, berjalan kaki menuju rumah Pak RT dan kelurahan, kini harus mencari ke sawah.

“Sudah.. cari saja, Sal! Ayo kita cari ke sawah. Aku temani”, Gus Parit menenangkan Faisal.
Faisal mengiyakan. Bagaimana pun klai harus cair. Uang sudah ludes, kesabaran merawat dan memenuhi kebutuhan Gus Parit masa karantina harus terbayar dengan bonus.

Mereka berdua menuju sawah Pak RT. Ternyata Pak RT memang ada. Merekapun bercakap di pematang sawah.
“Gini, Pak RT. Saya mau menanyakan klaim uang karantina saya.” Faisal membuka percakapan.
“O..soal duit karantina itu. Tadi sudah aku tanyakan ke kelurahan”, Pak RT menjawab pertanyaan Faisal.
“Jadi, gimana Pak? Kapan cairnya? Bonusnya berapa, pak?” Faisal menyerbu dengan rentetan pertanyaan.
“Ooo.. sabar.. sabar.. Dengarkan penjelasan saya dulu, le. Jadi gini, memang ada klaim dan bonus, tenang saja! Tapi..”
Faisal memotong, “Tapi, apa Pak? ”, insting Faisal mulai tidak enak. Perutnya yang lapar mulai bergejolak. Kerongkongan yang mulai kehausan, tiba-tiba menjadi tersekat. Kepalanya mulai pusing, karena menahan lapar dan lelah karena berjalan jauh.
“Tapi.. menunggu dana desa turun lagi. Kalau untuk tahun ini sudah habis untuk alokasi yang lain. Jadi, ya paling cepat Januari, gimana?” jelas Pak RT kepada Faisal.

Faisal tidak bisa menjawab apa-apa. Pandangannya semakin berkunang-kunang. Ia melihat Gus Parit yang tersenyum-senyum geli, semakin panaslah hatinya. Perutnya semakin meraung-raung minta diisi. Mata Faisal mulai rabun. Hatinya semakin tersiksa.

“Kamu sehat, le..” tanya Pak RT kepada Faisal.
Karena yang ditanya hanya diam, Gus Parit segera menjawabnya, karena takut dianggap tidak sopan kepada pejabat pemerintah, meski tingkat RT.
“Sehat, Pak. Alhamdulillah. Bahkan tambah gendut, nih buktinya…” jawab Gus Parit sambil menunjukkan perutnya yang buncit di balik kaosnya. Faisal diam. Memahami dan menghayati penderitaan lahir dan batinnya. Pandangannya semakin berkunang.
“Hahaha… Bukan kamu, Rit. O ya, Sal.. Di desa kita, berdasarkan kesepakatan Karang Taruna menyumbang untuk korban korona di wilayah kota.
“Haha..” Faisal tiba-tiba tertawa sendiri.
Pak RT melanjutkan, “Dan, kamu saja yang belum bayar.”
“Haha..” Faisal tertawa lagi tanpa ada pandangan yang lucu.
Pak RT melanjutkan lagi, “Beruntung kamu ke sini, jadi aku tidak perlu repot-repot pergi ke rumahmu”.
“Hahaha..” tawa berat dari Faisal dengan mata mendelik. Tubunya terguncang. Dipaksanya tersenyum. Kemudian ambruk. Semaput.

Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Blog / Facebook: Anang Zunaidi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Mudik Copid merupakan cerita pendek karangan Anang Zunaidi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Emil Kamilah

Di tengah kesunyian malam. Suara jangkrik terdengar begitu keras. Desir air bersorak begitu ria. Cahaya rembulan tampak tersenyum di malam itu. Dimas, sang pemuda tanggung yang menjadi tulang punggung




Oleh: Amalia Wardhani

“Hah?! Lo yakin?” Gadis kuncir kuda itu berbicara dengan volume yang keras. Seluruh siswa yang sedang menikmati hidangan di kantin memandang kami penuh tanda tanya. Aku mendelik ke arahnya,




Oleh: Fakhriyah HS

Di persimpangan jalan yang sempit, seorang bocah lelaki berteduh di bawah pohon mahoni rindang yang ada di pinggir jalan itu. Hari ini hujan deras sekali. Bocah itu membawa sebuah




Oleh: Alif Starfath

“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak




Oleh: Aldy Verdiana

Dia masih berusaha bernafas karena peluru tepat menembus jantungnya, darah mengalir keluar deras dari lubang peluru pada dadanya. Tidak ada yang melihat kejadian itu, saat itu pukul dua pagi,



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: