8 tahun cerpenmu

Cerpen Overthinking

Spread the love

Cerpen Overthinking





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penantian

Lolos moderasi pada: 31 May 2022

Namaku Mutiara Angkasa. Aku bingung harus mulai dari mana. Segalanya begitu rumit. Segala ketakutan yang bersarang di otak selama ini nyatanya tak mau pergi begitu saja. Aku seperti memeliharanya dengan senang hati padahal tidak begitu.

Menuju umur 25 tahun tidak membuatku lebih dewasa. Tapi mungkin orang lain berseberangan denganku. Sebagian mereka akan bilang aku seorang yang dewasa dan bisa menghandle semua masalah dengan baik. Nyatanya? Nol besar.
Aku bak anak kecil yang tak tahu harus bagaimana. Aku bingung. Terlalu banyak ketakutan yang aku pelihara hingga membuat diriku pribadi mudah ciut dan tak berani untuk bertindak. Aku seperti tidak berguna.

Hampir empat tahun usia pernikahanku. Sama halnya dengan teman-temanku yang menikah di tahun yang sama. Apa hubungannya dengan ini?
Ya. Aku memikirkan kehadiran seorang anak. Keluarga mereka telah lengkap dengan kehadiran seorang malaikat kecil sedangkan aku? Aku belum sama sekali.

Awalnya tak ada masalah karena niatku tidak terburu-buru. Maksudnya aku ingin sekali menikmati waktu berdua untuk menjalin kasih dalam ikatan halal. Berpacaran lebih dulu tanpa dituntut untuk mempunyai seorang anak dengan cepat. Toh manusia tidak bisa memutuskan kapan dia akan hamil. Begitu pun denganku.
Aku enjoy. Namun semakin waktu berjalan, melihat teman-temanku sudah memiliki anak bahkan sudah ada yang hamil anak kedua, hatiku mulai tak tenang. Resah, gelisah, merasa tidak terima dengan diri sendiri. Ditambah pertanyaan “kapan hamil?” atau bentuk pertanyaan beda namun menuju kesana, seperti candaan-candaan bahkan hingga sebuah doa, sejenak aku bisa menerima tapi jujur hatiku gelisah karena terus memikirkan itu. Aku lumayan lelah, terutama hatiku.

Waktu terus berjalan, namun pikiran-pikiran jahat itu tak hilang. Mereka nyaman kah tinggal di otakku?
Hingga pada suatu masa, mensku telat. Ada secuil rasa bahagia, namun kebanyakan rasa was-was mendera jiwa dan raga. Kenapa? Karena aku tak yakin. Didukung oleh kondisi badanku yang merasa tak fit.

Di alat panjang pipih itu aku positif. Jujur aku belum tenang. Ketika periksa ke Bidan aku dinyatakan hamil. Oke, aku bahagia. Namun esok harinya ada rasa sakit yang aku rasa di bagian perut bawah. Rasanya muncul beberapa menit sekali. Perasaanku mulai tidak enak. Segala pikiran negatif kembali menyerang seolah mendukung segala prasangkaku.
Aku pasrah.
Ketika diperiksa, benar saja, hamilku palsu. Ada kista disana.
Tuh kan!

Aku menghela nafas panjang. Mencoba yakin bahwa ini adalah ujian-Nya. Banyak doa mengalir serta motivasi bahwa katanya setelah kista itu diangkat biasanya akan melahirkan banyak anak. Aku tertawa sumbang. Namun aku tetap mengaminkan.

Dasar sifat manusia tukang mengeluh. Aku pun begitu. Setelah operasi itu aku lega. setidaknya penyebab aku sulit hamil adalah ada sesuatu yang tidak beres di bagian tubuhku. Aku menghela nafas, untuk memikirkan kembali bagaimana ke depannya.

Tidak sampai disitu, segala pikiran jahat itu kembali menerorku. Di setiap waktu di setiap kesempatan. Di setiap hati ini lelah. Pikiranku kemana-kemana. Apalagi menyangkut keturunan. Aku overthinking. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depan. Apa iya aku bisa hamil? Apakah bisa aku memberikan keturunan untuk suamiku? Apakah iya ditahun ke lima ini aku masih belum memiliki momongan?
Aarrrgghhhh!!!
Aku mengeram dalam hatiku. Otakku panas. Otakku hampir pecah.
Ingin rasanya aku membelah otakku, mencucinya hingga pikiran jahat itu hilang tanpa noda. Ingin rasanya otakku tak berpikir segala ketakutan yang selama ini aku pikirkan. Aku lelah kalau harus jujur.

Yaa Allahh.. kenapa aku se putus asa ini?
Maafkan aku!
Apa ini balasan-Mu karena aku tak begitu taat akan segala perintahmu?
Begitu pula, tak begitu kuat untuk menjauhi segala laranganmu?
Aku tergugu menangis dalam sujud. Aku menangis meraung dalam lantunan doa di sujud terakhir. Salah satu waktu di mana dikabulkannya doa. Aku melafalkan deretan doa yang kubisa. Doa sekaligus ayat untuk meminta untuk tidak membiarkan hambanya hidup sendirian tanpa keturunan. Di setiap sujud terakhir aku selalu memanjatkan doa itu berharap Allah mengabulkan doaku.

Di sisi lain, aku berpikir, aku terlalu cengeng bahkan merasa diri paling lemah dengan cobaan yang tidak seberapa. Bahkan ada yang tertimpa masalah lebih dariku tapi mereka tetap sabar menjalani hidup, tetap bersyukur dan ridha tas takdir Sang Pencipta.
Aku seketika merasa malu.
Tapi, bolehkah aku mengeluh meskipun masalahku bagi-Mu sangat kecil?
Bolehkah aku mengadu kalau aku benar-benar lemah atas ini. Aku tak setegar apa yang aku tunjukkan kepada orang bahwa aku selalu enjoy menantikan seorang keturunan untuk melengkapi hidupku.

Kututup sesi pengaduan kepada-Nya dengan setumpuk harapan. Tentang harapanku diberikan keturunan di waktu yang tepat, kapan pun itu. Karena Dia lebih tahu. Jika waktu itu tiba, aku sangat bersyukur. Aku meminta dimudahkan ketika mengandungnya, dimudahkan segala prosesnya, dilancarkan proses lahirannya. Tentang kesabaranku yang berharap terus menebal agar aku bisa tangguh menhadapi masalah, tentang pundakku akan dikuatkan untuk memikul beban hidup, tentang hatiku luas jika waktu kehadirannya akan diperpanjang seiring dengan umurku bertambah. Bahkan jika menimang seorang anak harus aku rasakan di akhirat, aku ikhlas.

Ibu, seorang paling mengerti dalam hidupku, mengusap pucuk kepalaku pelan ketika tanganku mengusap wajah setelah pengaduan itu selesai. Dia tersenyum, lantas menarikku ke dalam pelukannya. Memberikan kehangatan selama kurang lebih 25 tahun ini.

“Sabar, Nak!” ucapnya lirih sambil mengusap punggungku pelan.
Aku mengangguk pasrah dan semakim memeluknya erat.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ig: @ipeeh.h

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Overthinking merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Febi Auliasari

Langit-langit berubah menjadi oranye. Artinya matahari akan segera tenggelam dan malam akan datang, tapi Jeno masih setia menunggu di tepi pantai. Laki-laki itu menunggu sesuatu yang tidak pasti. Terhitung




Oleh: Willy Sitompul

“Krincing… krincing… krincing…” Itu suara uang logam beradu satu dengan yang lain di dalam saku. Saku itu punya Wisnu anak sekolah kelas satu di SD Negeri Kosong Satu di




Oleh: Nurun Annisa Kh

Ini adalah kisah dari seorang gadis lugu yang mempunyai sejuta impian di dalam dirinya, namanya Zahra setiap menjelang fajar menyingsing dari balik gelapnya malam ia sudah siap dengan sekeranjang




Oleh: Isnaini Agustine

Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya dan sinarnya berusaha menyapaku melalui celah-celah dedaunan di atasku. Aku masih terpaku sambil terus memandangi nisan itu. Tulisan di batu nisan itu memang




Oleh: Nurul Handayani

Dasar bodoh! Pikirku. Orang-orang kaya selalu menambah tinggi pagar mereka, sedangkan apa yang terjadi dengan sekolah ini? Apakah tak ada lagi barang berharga tersisa di sini? Mengapa rendah sekali



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: