8 tahun cerpenmu

Cerpen Penculikan Malam

Spread the love

Cerpen Penculikan Malam





Cerpen Karangan: Kholil Rohman
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)

Lolos moderasi pada: 17 July 2022

Kata siapa aksi penculikan hanya bisa dilakukan terhadap manusia dan barang. Di sini, makhluk gaib yang belum diketahui identitasnya juga bisa menculik malam. Bahkan sampai membuat seluruh warga setempat kehilangan gairah hidup.

Entah hari apa namanya, yang jelas waktu itu tak pernah sama dengan hari-hari sebelumnya. Perputaran yang biasanya normal dari pagi ke siang, siang ke sore, lalu sore ke malam, kini berubah drastis.

Saat senja diperkirakan sudah akan hilang, malam yang seharusnya datang dengan awan hitam, rembulan, dan semilir anginnya yang menggoda kulit malah tak terlihat. Tidak ada tanda-tanda senja akan pamit. Ia masih terus merona, menyempurnakan panorama pantai yang selalu menjadi objek potret berbagai kamera.

Setelah satu jam tak ada perubahan, penduduk setempat merasa kebingungan. Ace yang menjabat sebagai Lurah setempat langsung mengumpulkan warga. Lewat toak masjid yang ada di sebelah timur sawah Ardan, Ace menyampaikan pengumuman penting.

“Gawat! Diberitahukan kepada seluruh warga untuk berkumpul di rumah Amos. Ada hal penting yang perlu dibicarakan” tegas Ace tanpa menggunakan salam sebagai awal dan akhir perkataan.

Khusus di kawasan ini, Ace, Amos, dan Ardan adalah tiga orang yang memiliki kelebihan dibanding yang lain. Tak seperti warga pada umumnya, mereka memiliki kekuatan yang entah datang dari mana. Padahal waktu mereka masih kecil, mereka sama seperti yang lain. Mulai dari pola makan, pengasuhan, pendidikan, dan segala macam keperluan yang keluar-masuk sebagaimana layaknya makhluk hidup lainnya.

Hanya ada satu riwayat persamaan yang patut dicurigai dari mereka. Yaitu semua kedua orangtua mereka adalah warga pendatang. Dan juga, menurut kabar angin, keluarga Ace, Amos, dan Ardan sama-sama bisa berhubungan dengan makhluk halus. Selebihnya, tak ada yang pernah tahu bagaimana riwayat hidup dari kedua orangtua mereka. Karena memang tak baik mengurus kehidupan orang lain secara berlebihan.

Ace, seorang lelaki berumur 30 tahun yang berbadan kekar, berambut panjang, dan memiliki mata tajam seperti elang yang baru saja menemukan mangsanya. Padahal sebelumnya, Ace tak pernah berhubungan dengan seperangkat alat gym atau obat-obat khusus yang bisa membuat badan jadi berotot. Semua itu terjadi secara alami!

Amos, seorang pengangguran yang sejak kecil bercita-cita ingin menjadi polisi sebagaimana kakeknya. Meski begitu, sifat-sifat kepolisian sudah melekat erat dalam dirinya. Seperti pemberani, cekatan, pandai menembak, dan kelebihan-kelebihan lain yang berhubungan dengan penangkapan seseorang.

Ardan, warga yang pandai menebak banyak hal. Mulai dari nomor j*di yang sebentar lagi akan keluar, ramalan cuaca yang kadang berganti tak teratur, hingga hal-hal receh seperti barang yang hilang dan perpindahan barang yang tak disadari oleh si pemilik. Selain itu, dia pandai membuat rencana, menganalisis masalah, menghubungkan banyak hal hingga membentuk sebuah kesimpulan yang bijak, juga membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Kelahiran dan kebersamaan tiga makhluk istimewa itu berlangsung begitu saja. Berjalan secara alami dari waktu ke waktu. Jarak rumah yang tak terlalu jauh membuat ketiganya bertemu, bertegur sapa di jalan, lalu karena pernah ada suatu kepentingan, mereka akhirnya semakin akrab.

Tentu saja, masalah malam yang tak kunjung datang menjadi salah satu masalah yang akan mereka selesaikan bersama. Melalui pertemuan-pertemuan dengan warga lainnya, diskusi panjang-lebar, hingga aksi penyergapan oknum yang menjadi sebab hilangnya malam.

Setelah melalui percakapan yang serius, dapat disimpulkan bahwa malam telah diculik oleh segerombolan makhluk gaib yang mempunyai kepentingan khusus. Asumsi ini berdasarkan salah satu kesaksian warga yang melihat ritual aneh di tepi pantai.

“Iya benar, sekitar pukul satu siang saat pantai sedang sepi, saya melihat ada sekelebat bayang-bayang yang sangat banyak membuat lingkaran di tepi pantai. Karena jarak saya yang saat itu cukup jauh, jadi saya kurang jelas melihat apa yang sedang terjadi. Tapi sepertinya, menurut hemat saya, mereka sedang melakukan ritual yang mengakibatkan malam menghilang,” ucap pemuda yang bertugas menjaga area parkir.
“Apa yang terjadi setelah itu?” Tanya Ardan mencoba menggali informasi lebih jauh.
“Tiba-tiba petir menggelegar. Membentuk serabut akar yang mengkilat lalu menghilang seketika.
“Lalu?” Ace tak mau kalah saing.
“Keadaan awan persis seperti saat ini tanpa ada perubahan sedikit pun,” jawabnya lagi.

Tiga tokoh itu akhirnya menemukan sedikit titik terang. Rupanya memang ada makhluk ghaib yang sengaja mencari gara-gara; melakukan sesuatu yang merugikan orang lain hanya demi kepentingan kelompoknya sendiri. Jelas, ini adalah perbuatan salah dan harus ditumpas!

Demi efektivitas dan efisiensi penyergapan oknum yang mencuri malam, Ace, Ardan, dan Amos membagi tugas yang akan mereka lakukan beberapa hari ke depan. Tentunya tak hanya mereka saja, beberapa warga lain yang sekiranya mampu dan mau membantu juga diajak bekerjasama. Meski awalnya para warga merasa agak keberatan, namun setelah dilakukan pendekatan dan komunikasi secara lebih jauh, akhirnya mereka sadar bahwa ini semua demi kebaikan bersama.

Sesuai dengan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing tiga orang itu, pembagian tugas disepakati secara mufakat dan sukarela. Ace, bertugas menggertak warga yang tak mau buka mulut, melawan golongan yang mencoba menghalangi aksi mereka, dan harus siap melakukan pembelaan apapun yang bersifat fisik.

Sementara Amos, ia bertugas sebagaimana polisi pada umumnya. Menangkap dan memenjarakan pihak yang salah berdasarkan aturan yang berlaku. Namun karena masalah ini tak pernah tertulis di Undang-Undang dan aturan negara, jadi untuk masalah hukuman akan dipertimbangkan lagi bagaimana baiknya.

Dan Ardan, sebagaimana keahlian yang dimiliki, bertugas merencanakan semua hal yang akan dilakukan dari awal hingga akhir. Seperti proses wawancara yang akan dilakukan pada beberapa target yang telah ditentukan, tempat-tempat yang harus didatangi, dan alur penyergapan yang nantinya akan dilakukan. Pokoknya apapun yang bersifat pemikiran, itu adalah tugas Ardan.

“Semoga dengan adanya pembagian tugas seperti ini, pekerjaan ini bisa cepat selesai,” ujar Ace yang paling tua di antara mereka.
“Ya, semoga saja begitu,” timpal Ardan.
Sementara itu, warga setempat semakin gaduh dengan tidak hadirnya malam dalam hari-hari mereka. Meski tak berdampak pada stabilitas ekonomi mereka, tapi tetap saja, setelah bepuluh-puluh tahun lamanya sudah terbiasa hidup dengan malam, kini mereka harus kehilangannya secara tiba-tiba.

Sebelumnya, para warga sudah diberitahu bahwa penyelidikan dan penangkapan ini tidak akan berjalan cepat dan semudah yang dikira. Ini bukan penculikan anak kecil yang biasa tayang di televisi. Atau penculikan barang-barang mewah yang dengan mudah bisa dilacak oleh polisi. Ini adalah penculikan terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Penculikan malam yang akan sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup belahan dunia tertentu. Ingat itu!

Menurut prediksi, kasus ini bisa diselesaikan dalam jangka waktu tujuh sampai sepuluh hari. Jadi selama waktu itu pula, para warga dihimbau untuk tetap tenang meski tak ada malam, rembulan, gugusan bintang, dan hembus angin yang rasanya berbeda dengan angin di pagi hari.

Dengan demikian, untuk sementara waktu tidak ada yang namanya makan malam, salat maghrib dan isya bagi umat islam yang rajin melaksanakannya. Karena sampai saat ini, masih belum ada hukum yang jelas tentang kasus ini. Para ulama dan ustad juga kebingungan. Mereka masih berusaha terus mengkaji kitab-kitab klasik dan mendiskusikannya. Karena mereka tak mau membuat seluruh umat tersesat.

Kehebohan ini juga disiarkan di seluruh media massa, media online, dan saluran televisi.

“Berita terkini, malam telah diculik oleh oknum tak bertanggung jawab. Menurut informasi yang beredar, penculik itu terdiri dari gerombolan makhluk ghaib yang masih belum jelas identitasnya. Dan sampai saat ini, tim khusus bersama para warga sedang berusaha menangkap penculik itu. Mungkin cukup sekian informasi yang bisa saya sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih,” ucap presenter perempuan di salah satu saluran televisi.

Diibalik kehebohan, kegaduhan, dan kesedihan seluruh warga yang terdampak, tim khusus yang terdiri dari Ace, Amos, Ardan, dan beberapa warga lainnya terus berusaha menyelidiki dan menangkap penculik itu. Lalu mengembalikan malam pada seluruh warga. Akankah misi ini akan berhasil sesuai harapan? Semoga saja begitu***

Cerpen Karangan: Kholil Rohman
Blog / Facebook: Kholil Ar-rohman
Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid dan anggota Komunitas Sastra Titik Koma. tulisannya dimuat di berbagai media. saat ini penulis bermukin di Kota Batu dan menjadi Murabbi di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang


Cerpen Penculikan Malam merupakan cerita pendek karangan Kholil Rohman, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Najwa Syifa Mardiyah

Sudah 4 hari Holly dan kedua adiknya, Lizzie dan Bishop berlibur di rumah paman Aldwin di kota JuemprTown. Kota itu terletak di ujung Provinsi Houldshiz. Mereka berlibur disana karena




Oleh: Ari Irawan

Dari sorot matanya, Lazuardi jelas tak suka dengan pertanyaan itu. Namun memandang nenek itu adalah guru spiritualnya sejak dia masih menjadi bromocorah hingga kini dia pensiun karena usia serta




Oleh: Aini Ayu Mardhiyah

Sore itu, langit tampak dihiasi dengan permadani jingga. Bersamaan dengan awan putih nan lembut yang bergerombol di mana-mana. Di saat yang sama pula, seekor burung Cendrawasih betina tengah bertelur




Oleh: Naura Rafifa

Suara ombak yang berdebum di pinggiran pantai menyambut pagiku hari ini. Matahari masih belum menampakkan dirinya. Aku berjalan menyusuri pantai sendirian, di saat mata-mata lain masih tertutup. Ini memang




Oleh: Bambang Winarto

Sudah beberapa malam aku mengalami kesulitan memejamkan mata. Padahal, sengaja sesiang aku duduk di depan komputer untuk menyelesaikan cerpen kesepuluh yang berjudul “Menggapai Mimpi”. Mataku yang sudah cukup lelah



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: