8 tahun cerpenmu

Cerpen Penjual Ramyeon (Part 1)

Spread the love

Cerpen Penjual Ramyeon (Part 1)





Cerpen Karangan: Fitriyatul Hasanah
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

Lebih dari sejam menunggu, sosok tegap berbalut kaos hitam kusut dengan celana kelonggaran yang usang dan tak layak pakai, berompi jaket jeans hitam, masih betah dengan posisinya yang aneh. Duduk di antara kedai-kedai para penjual street food. Tepat di bawah remangnya lampu. Menimang dagu.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik untuk memandang lama sesuatu. Entah barangkali ia benar melamuni sesuatu atau memang sedang berpikir. Yang jelas, kebisingan di sekitarnya begitu kontras dengan sosok yang masih kuperhatikan dari jauh diam-diam. Sembari menenteng sepatu yang basah berbungkus plastik bening. Berdiri di tepian ruko menunggu redanya hujan. Aku bosan dan rindu rumah.

Aku mencoba memeriksa kembali barang belanjaan yang harus kubawa pulang. Apakah ada barang yang lupa atau bahkan tertinggal. Napasku melega, semuanya lengkap.

Saat mengangkat wajah, keterkejutanku berulah lantaran sosok itu telah raib dari sana. Seberapa cepat ia menghilang aku tak bisa membayangkannya. Lantas kuenyahkan pikiran untuk menelisik lebih jauh. Hujan makin deras dan aku harus bersegera mencapai rumah jika tak mau mati kedinginan.

Selepas meletakkan sepatu di rak dekat pintu, buru-buru aku masuk sebab dingin yang tak dapat ditolerir lagi. Aku akan mati kedinginan sungguhan. Padahal aku belum menemukan pangeranku. Itu buruk. Ah, tidak! Aku tak ingin mencintai lelaki mana pun. Aku pasti sudah gila.

Kata orang-orang, musim dingin seperti ini memang pas untuk menikmati ramyeon hangat dengan sebotol soda atau soju. Tambahan odeng dan terakhir bungeoppang berisi kacang merah sebagai penutup. Atau bisa diganti kalguksu andai aku hidup lebih makmur dari ini. Segala hal serba terbatas dan aku harus berhemat.

Rumahku luar biasa berantakan dengan baju-baju kotor yang masih menggelayut di bahu kursi ruang tengah. Beberapa bungkus cemilan yang tertumpuk di bawah meja televisi. Juga bekas wadah ramyeon instan yang kubeli kemarin. Tak ada waktu untuk bersih-bersih karena aku super sibuk. Ditambah tak pernah ada potongan untuk jam kerja. Atau apresiasi dari bos untuk mengambil cuti.

Aku hampir putus asa dan memilih menjadi pengemis saja. Sialan!

Seketika kesendirianku di rumah sempit ini menjadi surga sejenak. Tatkala menyeruput kuah ramyeon hangat yang masih mengepulkan asap. Memakannya di musim dingin serta membaluti tubuh dengan selimut atau jaket tebal. Aku benar-benar kehilangan kesadaran untuk sementara. Tak ada pengganggu. Tak ada siapa pun. Kecuali suara rintik dan gelegar guntur di luar. Namun, saat beranjak untuk menutup tirai jendela, kilat tiba-tiba menyambar. Menimbulkan kejut yang sama saat sosok itu tiba-tiba menghilang. Mendadak aku jadi memikirkannya. Siapa dia?

Mungkinkah pencuri? Konyol! Tak mungkin!

Hari berikutnya, didorong rasa tolol dan penasaran setengah mati, lagi-lagi aku berdiri di tepian ruko yang kutempati untuk berteduh kemarin. Lalu, berselang semenit hujan pun turun. Persis. Tindakan konyol ini kulakukan selepas pulang dari kerja paruh waktu. Sengaja untuk menunggui si misterius hadir lagi di sana. Nah! Seharusnya aku tak melakukan ini!

“Nona? Apa yang sedang kau lakukan?”
Aku gelagapan saat seorang penjual corndog di sampingku bersuara. Tak mungkin aku menjawab, ‘sedang mencari tahu tentang si misterius, Paman. Aku melihatnya kemarin dan karena penasaran, aku ingin melihatnya lagi.’ Kemungkinan Paman itu akan berpikir aku orang sinting atau penguntit aneh.

“Nona?”
“Ah, ya! Aku pesan dua corndog tanpa saus.”
Padahal sisa uang di dompetku hanya cukup untuk beberapa hari lagi. Buruknya, jarak gajiku masih jauh. Pengeluaran bulan ini sungguh mencekikku.

Baru saat menunggu pesananku dibuat oleh si Paman, mataku menajam saat dia datang lagi ke tempat lusuh itu. Menata meja dan kursi. Itu miliknya? Maksudku, juga gerobak itu? Kupikir milik orang lain.

Tanpa kuduga, aku tersenyum. Entah kenapa ada rasa senang. Seolah bunga bermekaran dalam perut. Aku bahkan hampir lupa dengan corndog yang Paman tadi sodorkan. Setelah membayar, segera aku berlari ke kedai seberang. Menerobos hujan yang rintiknya menampar-nampar wajah. Tak apa, demi memuaskan ketololan ini.
Aku akan berpura-pura sebagai pengunjung yang ingin menyicip dagangannya.

“Satu ramyeon tanpa telur,” kataku. Lalu menarik kursi di sisi lain samping gerobak. Saat sosok itu berbalik, aku hampir memekik. Entah kenapa akhir-akhir ini aku suka sekali terkejut.

Dia berbalik, memandangku dengan tatapan menukik selama beberapa detik. Dalam posisi canggung begitu, aku merasa seperti diinterogasi. Di balik kacamata bulat beningnya, mata itu tajam seolah bisa saja menembus tebalnya kacamata. Baru setelahnya ia kembali sibuk menyiapkan pesanan. Kupikir awalnya dia adalah sosok pria tua jangkung. Sebelum bertemu langsung dan menebak usianya tak jauh berbeda dariku.

Apa pun penilaianku, yang jelas tempat ini kumuh. Lantai yang basah, juga beberapa bocor kecil di atap yang meloloskan air hujan. Pasti siapapun yang berkunjung ke sini akan merasa tak nyaman. Melihat dari jauh saja sudah mengurungkan niat. Termasuk aku sendiri. Mendadak menyesal.

“Silakan.” penjual itu berkata dingin. Meletaklan semangkuk penuh ramyeon tanpa senyum atau sekadar basa-basi yang lebih ramah dari itu? Mungkinkah orang ini sakit gigi?

Dia berbalik untuk beralih pada kesibukan lain yang aneh. Menyumbat telinga dengan sepasang eraphone yang tersambung pada ipod usang. Memperhatikan rintik hujan dengan tatapan kosong. Sosok itu hanya terus diam. Seakan ada dunia lain yang lebih menarik baginya.

Fokusku kembali pada semangkuk panas sajian di atas meja. Tak ada yang aneh ataupun spesial dari tampilan sajian itu dan aku juga heran kenapa harus menelisik sesuatu sejauh ini.

Kupikir malah rasanya akan aneh atau luar biasa dalam semangkuk ramyeon dalam tampilan biasa. Nyatanya, biasa saja. Sebiasa rasa ramyeon instan dari minimarket dan penjual di street food yang sering kubeli.

“3.500 won jika Anda sudah selesai.”
Lelaki misterius itu tiba-tiba berdiri di depanku tepat saat seruput terakhir kutandaskan. Pelayanannya tak ramah. Aku tak menyukainya. Sudah rasa ramyeon biasa saja, pelayanannya juga buruk.

Aku merogoh tas untuk menemukan dompet. Uang yang kusayang sepenuh hati … selamat tinggal!

“Jangan kembali lagi. Terima kasih. Semoga harimu seperti biasa.”
Bahkan dengan ucapan itu, secara tak sengaja dia mengusirku. Aku pergi dengan perasaan dongkol. Mendadak hilang rasa penasaran tentang sosok misterius. Seharusnya pedagang ramah pada pembeli, bukan ketus dan berharap agar pelanggannya tak berkunjung lagi. Lagipula, kenapa aku harus mencari tahu tentang orang asing?

“Hara! Kau melupakan bukumu!”

Sialan Heejin yang mengejarku sejauh ini. Buku itu sengaja kutinggalkan di kelas agar seseorang mengembalikannya karena kutahu dia selalu pulang paling akhir.

Terpaksa aku berbalik dan menerima buku itu. Berusaha memasang senyum semanis mungkin yang akan membuat orang muntah. Jika menjelaskan alasanku membiarkan buku itu tertinggal, Heejin akan menghabisiku hanya dengan, ‘cie cie’ dan itu tak lucu.

“Kau meninggalkan ini. Lalu bagaimana kau akan mengerjakan tugas?”
‘Aku sudah menyelesaikannya, Bodoh! Kembalikan lagi buku itu ke kelas!’
“Ah, terima kasih banyak. Aku mungkin lupa.”
Mulutku terlalu pandai untuk berkelit. Bukan itu yang seharusnya kau katakan!

Kami berdua berjalan beriringan menuju pelataran kampus. Menunggui bus di depan gerbang sembari mengobrol. Lebih tepatnya, Heejin yang suka menyerocos menjelaskan ini itu yang tak penting.

“Hara, apa saja yang kau lakukan kemarin?”
“Apa?” Aku mengangkat alis. Bingung.
Gadis itu bergumam sebentar. “Seperti mengunjungi kedai? Apa kau berkunjung ‘ke sana?’”
“Aku hanya makan ramyeon, Heejin. Apakah itu sesuatu yang buruk?”
“Tidak. Hanya … itu aneh dan menakutkan.”
“Kau bercanda? Pedagangnya tak akan menggigit atau memotong leherku dengan pisau besar.”
Heejin makin merekatkan pelukan pada setumpukan makalah yang ia siapkan hampir seminggu dengan terburu.
“Bisa saja.”
“Ya, bisa saja. Dia hanya bersikap sedikit menyebalkan untuk pelayanan dengan rasa ramyeon yang buruk.”

Saat bus datang, barulah kami mengakhiri percakapan karena supir yang biasa menjemput Heejin sampai bersamaan dengan bus.
“Hara, jangan ke sana lagi!”
Aku mengabaikannya dan masuk begitu saja.

Memangnya siapa yang ingin berkunjung ke tempat itu lagi di musim penghujan? Bahkan di musim lain pun enggan. Kecuali orang bodoh. Dan tebak, siapa orang bodoh itu? Aku! Yeay! Aku adalah orang tertolol sedunia! Namun hari itu, tak tampak kedainya akan dibuka meski aku menunggu hampir tiga jam. Bahkan untuk menunggui bosan, tiga buah novel tebal kubawa. Namun, itu tak bekerja sama sekali.

Saat beberapa orang lalu lalang, dengan tak tahu malunya aku menghadang mereka yang terburu menghindari hujan. Lantas mendapat tatapan sinis meski aku memelas dan memohon agar mereka menjawab kenapa kedai si penjual ramyeon tak ramah itu tak dibuka. Rerata orang-orang tak acuh dan malah ada yang memarahiku.

Aku merasa bodoh sekaligus penasaran saat perjalanan pulang. Aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Apa yang membuatku penasaran tentangnya, jelas aku bingung.

Awalnya niatku memang langsung ingin pulang setelah itu. Sebelum akhirnya berhenti pada jarak tiga meter di persimpangan gang sepi.

Kantung plastik hitam besar di kedua tangan seseorang yang celingukan di depan sana membuatku curiga. Mungkinkah itu maling? Sesaat aku ingin berteriak. Namun kemudian urung, dia melirikku lebih dulu. Sepasang kaca mata bulatnya berkilat saat kepalanya sedikit terangkat, memendar lampu remang di sisi gang. Di balik kacamata itu, aku bisa melihat ketidaksukaannya dengan kehadiranku. Hingga tanpa kusadar, secepat kilat ia berlari. Rintik telah reda. Kujadikan kesempatan untuk mengejarnya.

Dia sama sekali tak mau berhenti. Bahkan ketika aku merelakan sebelah pasang sepatu sebagai lemparan yang mengenai punggungnya. Lelaki itu menoleh sekilas, lalu berlari lagi.

“Berhenti!”

Di depan sana jalanan buntu. Bagus! Dia tak bisa menghindariku lagi. Waktunya bagiku untuk menjadi detektif dadakan.
“Kena kau!” aku berseru. Memegang lengannya sekuat tenaga.
Meski orang ini kurus, ia jangkung. Tenaganya jelas lebih besar dariku sebab ia lelaki. Membuatku kewalahan sendiri.

“Apa?!”
Rasanya seperti bentakan Ibu saat aku tak kunjung bangun pagi. Mengejutkan sekaligus menyeramkan. Mendadak pikiranku linglung dengan mulut gagu. Kurasa untuk sepersekian detik, kesadaranku hilang.

Cerpen Karangan: Fitri
Blog / Facebook: Fitriyatul Hasanah

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Penjual Ramyeon (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Fitriyatul Hasanah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Rahmi Pratiwi

“Joheun achimieyo (selamat pagi). Annyeonghaseyo (apa kabar?). Naneun Miranda Adilla-imnida (saya Miranda Adilla). I’m from Indonesia. Nice to meet you.” Hari ini aku mulai bersekolah di salah satu Senior




Oleh: Phyeanna

Park Chanyeol membeli tiga kotak cokelat dan 15 tangkai bunga mawar merah. Meski benci dengan hal-hal yang berbau romantis Chanyeol harus menurunkan egonya untuk hari ini. Seul Gi sedang




Oleh: Hardianti Kahar

Tiwi sangat mencintai Korea. Tiwi bernyanyi dan mengocover lagu di YouTubenya bernama Tiwi Official. Memiliki sejuta subscriber tak membuatnya sombong Tiwi selalu membalas kolom komentar bahkan dari luar Malaysia,




Oleh: Tetelan

Hei passwordmu apa? Aku hanya penasaran. Apakah nama Adikmu? Yura mulai menyumpal telinga dengan earphone Tosca favoritnya, kemudian tenggelam dalam semua lagu yang ada di playlist. Langkahnya perlahan saja,




Oleh: Nika lusiyana

Jingga matahari terbit seakan tak nampak tertutup gumpalan awan yang redup. Gemuruh guntur di langit terdengar samar dari kejauhan Kota Seoul. Udara sekitar menghembus gigil beku, menghempas tubuh seorang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: