8 tahun cerpenmu

Cerpen Penjual Ramyeon (Part 2)

Spread the love

Cerpen Penjual Ramyeon (Part 2)





Cerpen Karangan: Fitriyatul Hasanah
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea

Lolos moderasi pada: 10 May 2022

“Nona, kau aneh! Mengapa menggangguku?!”
Ia menarik kasar tangannya dariku yang mematung seperti orang bodoh. Meraih dua kantung plastik yang sempat diletakkannya di bawah. Lelaki itu hampir saja memilih menaiki pagar tembok besar di depan sebelum kucekal.

“A–aku ….”
Apa alasanku? Aku tidak tahu! Aku hanya penasaran!
“Dengar!”
Dia menatapku. Embusan napasnya terdengar lelah. Topi hitamnya terlalu rendah untuk aku bisa melihat wajahnya secara jelas. Diperburuk dengan penerangan lampu yang temaram di malam hari. Sial! Kupikir dia akan membunuhku malam ini.
“Tindakanmu termasuk kriminal, Nona, dan satu lagi, jangan pernah berkunjung lagi ke tempatku! Jangan pernah!”

Lelaki itu pergi ke arah sebelumnya. Sedangkan aku hanya berdiri tanpa tahu harus berbalas apa. Mendadak seluruh pikiranku kosong. Kejutan itu masih menggaung. Untuk beberapa alasan, aku tak mengerti dengan pemikirannya. Bukankah seharusnya ia senang andai aku bisa menjadi langganan?
Oh, Hara! Seharusnya kau dengarkan kata-kata Heejin.

Meski tahu tindakanku salah karena membuntuti seseorang, pikiranku mengatakan si penjual ramyeon itulah yang salah. Sikapnya selalu tak ramah.

“Beberapa rumor yang tersebar mengatakan dia memiliki kelainan jiwa. Orang-orang menjauhinya untuk jarak aman.”

Tidak! Aku tak bertanya pada Heejin lagi mulai hari kemarin. Kalimat mengejutkan itu kudapati dari beberapa penjual street food di sekitar kedai si penjual ramyeon. Entah mungkin karenaku, ia tak pernah terlihat lagi. Kedainya terbengkalai dan tak terurus.

“Kelainan jiwa?” aku bertanya sekali lagi. Memastikan.
Aku tak pernah percaya rumor karena kupikir itu aneh.
Si paman penjual odeng mengangguk.
“Terima kasih!”

Segera aku menyingkir dari sana. Perasaan menarikku agar aku berkunjung ke kedai ramyeon itu lagi. Memerintahku untuk duduk berlama-lama meski si pemilik tak ada.

“Ayolah, Hara! Abaikan itu!”
Aku memukul kepala berkali-kali. Ini salah dan tak seharusnya aku sejauh ini.

Surat yang datang di pagi buta mengejutkanku. Di zaman secanggih ini, siapa yang bersusah payah berkirim pesan melalui surat?
Ah, tidak! Permulaannya buruk.

Hara Sayang,
Halo, ini Ibu. Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Ibu harap kau baik-baik saja. Maafkan Ibu karena tak sempat mengabari langsung. Ibu sudah menikah dan pergi ke luar kota, ke rumah suami Ibu. Sayang, jangan marah. Ibu kesepian di desa. Lalu ada orang baik yang mencintai dan selalu melindungi Ibu. Tak ada alasan untuk Ibu menolak.

Jaga diri baik-baik.
Shin Seo Kyung
Ibumu

“Aku tak peduli, Bu! Lakukan apapun semaumu!”

Surat itu berakhir di tong sampah dekat pagar rumah. Setelah aku sempat meremasnya. Apa pun yang wanita itu lakukan, aku tak mau tahu. Aku teramat membencinya hingga tak bertatap muka pun tak masalah.

Karena surat ini, mendadak aku malas untuk melakukan sesuatu. Pagi ini aku tak akan pergi ke kampus. Rumah juga bukan tempat yang bagus untuk menenangkan diri dari luka yang baru saja terbuka. Jalan-jalan mungkin akan membantu, setidaknya.
Berbekal payung bening dan mantel lusuh yang tak pernah mendapat ganti, aku menutup pintu. Pengap ketika melihat rumah sendiri.

“Kenapa kau harus memberitahuku? Apa pedulimu?”

Ibu bahkan tak pernah berkunjung ke sini. Tak pernah membantuku dalam finansial dan mental. Juga Ayah, lelaki itu kabur begitu saja dari tanggung jawab saat polisi mengejarnya karena kasus penganiayaan yang dilakukannya di klub.

Ayahku seharusnya mendekam di penjara karena menyerang temannya dengan botol kaca wine hingga botol itu pecah dan berakhir ditancapkan di dada orang yang diserangnya. Dan Ibu memilih mengabaikanku karena depresi yang dialaminya. Aku tak mau mengganggu dan pergi jauh untuk menenangkan diri. Ibu bilang, dia baik-baik saja jika sendiri. Lalu saat aku tahu kebenaran ia berselingkuh dengan sahabat Ayah, dan menjadikan depresi sebagai alasan, aku tak mau melihatnya lagi.

Ibu berbohong dan malah menyalahkanku bahwa aku penyebab segala hal buruk terjadi. Kini, akulah si depresi itu. Hidupku buruk sekali. Aku melihat orang lain selalu lebih bahagia dariku.

Saking dinginnya cuaca hari ini, embus napasku menjadi asap putih. Mantel tebal yang kukenakan bahkan tak mampu mengecoh dingin yang makin memeluk erat.

Entah takdir macam apa yang membuatku melihatnya lagi. Mendadak ingin berbalik dan pergi saja. Sebelum selanjutnya aku sadar, dirinya ingin bunuh diri dengan menaiki pagar jembatan dan sebentar lagi mungkin melompat. Sekuat tenaga aku berlari. Payung kulempar begitu saja karena benda itu menyulitkan pergerakanku.

Tanpa pikir lagi, jaket jeans hitamnya kutarik. Lelaki itu terjungkal dengan sumpah serapah yang keluar. Seharusnya ucapan terima kasih yang kudengar. Aku ikut terjatuh dan sekarang harus membiayai mantelku untuk dibawa ke laundry.

“Kau lagi!”
Dia bersungut-sungut, yang membuatku terkejut, adalah sepasang manik runcingnya yang kini memerah dan bengkak. Tanpa kaca matanya yang menurutku norak, wajahnya makin jelas. Ia tak seseram dalam bayanganku.

“Jika tak mau ditolong saat bunuh diri, mengapa kau tak bunuh diri di rumahmu saja? Tak akan ada yang melihat, tahu!”
Kutebak lelaki itu akan membalas dengan dingin. Namun, di detik berikutnya ia bahkan tak melakukan apa pun.

“Aku benci diriku! Aku benci hidupku! Apa yang bisa diharapkan dari orang sepertiku?!”

Dia terisak dengan suara yang serak saat berbicara. Berakhir menangis. Meluruh memeluk lutut di sisi pagar jembatan. Menenggelamkan wajah di antara kedua lutut. Aku bangkit untuk menghampirinya. Ada gelanyar aneh dan rasa simpati yang mengharuskanku untuk memeluk lelaki itu. Aku menepuk punggungnya pelan. Terus melakukannya meski terasa ganjil. Aku tak biasa bersimpati.

“Rumor itu membuatmu begini?”
Salah besar saat aku menanyakannya. Lelaki itu malah mendorongku. Untuk kedua kalinya, aku terjatuh.
Aku paham bagaimana saat merasa dirimu menjadi hal paling tak berguna sebagai manusia di dunia. Perasaan hampa dan putus asa. Lalu memilih untuk mengakhiri segalanya.

“Menjauhlah dariku, Nona! Kau tak perlu melakukan ini.”
“Aku ingin menyelamatkanmu.”
Ragu-ragu saat aku mengatakannya. Praduga buruk sudah terbayang.
“Aku tak gila! Tak ada yang perlu diselamatkan di sini! Aku tak sakit jiwa!”
Dia berlari begitu aku mengulurkan tangan untuk menyentuh pundaknya. Aku juga tak tahu kenapa ada perasaan aneh semacam simpati dalam diri.

Selepas penyelamatan itu, seharian aku pundung. Hari kuhabiskan hanya dengan berjalan tanpa tujuan akan ke mana. Tanpa berhenti. Aku hanya perlu menenangkan diri. Barangkali angin dan rintik hujan akan membawa semua lukaku. Hingga pukul sembilan malam, baru aku kembali ke rumah sewa. Sama sekali aku tak ingin pulang. Namun di mana aku akan tidur?

“Hai!”
Aku baru memegang kenop pintu saat suara itu datang. Aku berbalik. Di detik berikutnya. Terlambat untuk berteriak. Seseorang yang barusan memanggilku—setelan pakaiannya yang begitu kukenal—telah menancapkan belati pada perutku. Aku kehabisan napas.

“Seharusnya kau mendengarkan kata-kataku, Nona.”
Sosok itu menarik kembali pisaunya hingga menyebabkan erangan lolos dariku. Perih dan sakit.

Dia pergi sementara aku terjatuh di tanah dengan berlumur darah. Meraih-raih udara. Aku ingin cepat mati tapi bukan dengan cara menyedihkan begini. Si penjual ramyeon itu pergi tanpa menoleh lagi.

Cerpen Karangan: Fitri
Blog / Facebook: Fitriyatul Hasanah

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 10 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Penjual Ramyeon (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Fitriyatul Hasanah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Lala pisang

Ku pandang langit malam yang kelam menampakkan beribu ribu bintang. Hingga terlihat sejuta titik warna bersinar terang. Aku tahu, bahwa sangat mustahil untuk meraih benda-benda langit itu. “Aku selalu




Oleh: M. Andhika Pratama

17 tahun yang lalu (1999), terjadi kecelakaan mobil yang sangat tragis hingga menyebabkan banyak sekali korban jiwa. Sekitar 10 orang dari 15 orang meninggal dunia. Sedangkan 5 lainnya luka




Oleh: Anggia L.P

“Claura! Anna! Carol! bereskan barang-barangmu cepat!” teriak Mama sambil mengetuk pintu kamar. “hai mah!!” seru Anna. “hai mahh!” seru Claura. “haaii maahh muacchhh” seru Carol. “ihhh, aku duluan!!” “aku




Oleh: Putri Intani Firdausi

Semua dimulai saat… Hoaaaam ngantuk padahal masih banyak yang belum aku pelajari. Semoga aja aku bisa menyelesaikan kisi kisi ini. Beberapa jam kemudian… Alhamdulullah akhirnya selesai juga. Yeay!!!! Bisa




Oleh: Haya

Seseorang pria terduduk menyembunyikan wajahnya. Ia mengambil posisi duduk berada di ranjangnya. Menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. Dan matanya tertutup seketika. Kedua tangannya mencengkram rambut sekaligus kepalanya. Mulut



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: