8 tahun cerpenmu

Cerpen Persinggahan Sementara

Spread the love

Cerpen Persinggahan Sementara





Cerpen Karangan: Intann
Kategori: Cerpen Cinta Sedih

Lolos moderasi pada: 31 May 2022

Ini kisahku, dimana aku tumbuh dengan kebencian dan rasa dendam. Setelah mengetahui kenyataan yang terungkap, aku mulai membenci kehidupan ini. Tidak semua orang bisa dipercaya, aku sudah berkali-kali tertipu. Bahkan, teman baik pun dapat mengacungkan pisaunya.

Satu-satunya orang yang tidak pernah sadar akan perilakunya. Dialah sahabat sekaligus pengkhianat yang berperan besar dalam kehidupanku. Saat bertemu pertama kali dengannya aku terhasut akan permainan liciknya. Hal itu terus berlanjut tanpa sepengetahuanku. Aku merasa bak di sihir mantra sakti olehnya. Setelah bertahun-tahun, aku baru menyadari picik dirinya saat hidupku diujung tanduk. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyesali masa lalu. Kini, orang itu hidup bahagia karena buah hasil kerja kerasku.

Semua jerih payahku selama ini dinikmati orang lain. Berbeda sekali dengan kehidupannya yang semakin manjur, diriku terlilit hutang akibat perbuatannya. Walaupun aku tahu sekejam apa perbuatannya, tetapi diriku tetap tidak berambisi untuk membalas dendam yang selama ini tersimpan. Karena aku percaya dengan hukum karma. Aku percaya dia akan mendapatkan buah hasil perbuatannya dimasa yang akan datang. Tujuanku sekarang hanyalah melunasi hutang dan menjauh darinya secepat mungkin.

Hari-hariku berjalan seperti biasa. Tidak ada yang spesial, sehingga aku dapat bekerja dengan tenang. Kulihat, orang itu sedang berulah. Nampaknya dia ingin mencapai jabatan yang lebih tinggi di perusahaan ini. Tanpa kusadari, ternyata dia mengawasiku selama seminggu. Dengan waktu yang singkat itu, dia dapat meraih jabatan yang diinginkan. Yaitu, menyingkirkanku sebagai asisten kepala manajer. Aku terlambat menyadari hingga diriku dipecat dari perusahaan ini. Kupikir, keberuntungan akan selalu berpihak padanya. Tidak ada gunanya aku melawan orang yang punya relasi. Terpaksa aku harus mencari tempat kerja baru untuk menambah penghasilan.

Semenjak pindah perusahaan, rasanya seperti bangkit dari awal. Aku terus bekerja tanpa henti dan melunasi hutang-hutang yang menumpuk. Pelan tapi pasti. Aku berhasil melunasi semuanya. Jika dipikirkan lagi, hidupku jauh lebih baik semenjak pindah. Kurasa dia sudah berbahagia dengan cinta yang ia curi dariku. Tuhan memang baik, Beliau memberiku kesempatan untuk jauh dari manusia picik itu.

Selama beberapa tahun, aku terus menjalani kehidupan yang terasa hampa. Walaupun tanpa beban, tetapi aku merasa kesepian. Sampai pada akhirnya, aku berpikir apakah aku akan tetap sendiri hingga akhir hayatku? Ternyata Tuhan tidak tidur, Beliau mendengar ucapanku beberapa waktu lalu. Seseorang yang sempat terlupakan, kembali membawa memori masa lalu yang indah.

“Noah, kau kah itu?”
“Iya ini aku! Apa kau ingat?”
Melihat orang yang selama ini kurindukan, refleks melangkahkan kakiku dan segera memeluknya erat. “Kau kembali! Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.”
“Aku merindukan Rika selama tinggal di luar negeri. Apa kau baik-baik saja tanpa aku, Rikaku?”

Dia benar-benar mengingatku, jantungku berdetak kencang disertai pipi yang merona karena sebuah kata yang diucapkannya, yaitu Rikaku! “Tidak, aku merasa hampa jika ditinggal olehmu. Aku sungguh merindukanmu Noah! Kau datang disaat yang tepat. Masuklah, kau pasti lelah setelah perjalanan panjang.”

Aku mempersilahkan tamu yang datang. Menyuruhnya duduk dan tidak ambil tugas di kediamanku. Kami saling memandang sebelum memulai percakapan yang panjang. Hatiku yang terbalut luka, perlahan disembuhkan oleh ceritanya yang ringan dan menenangkan.
“Dia tetap Noah yang kukenal. Setelah berpisah bertahun-tahun, syukurlah dia masih mengenaliku.” ucapku dalam hati.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu saat berada di luar negeri?”
“Seperti yang tadi kau dengar. Terasa berbeda tapi tetap sama karena kau tidak ada.”
“Astaga, kau ini ada-ada saja!” aku menepuk pundaknya diiringi tawa kami yang memenuhi satu ruangan.

“Bagaimana denganmu Rika? Kau bilang kau tidak baik-baik saja..” raut khawatir mulai terpancar dari wajahnya.
“Eh? Tadi aku hanya bercanda, aku baik-baik saja kok.”
“Jangan bohong..” kekhawatirannya kini beralih ke ekspresi kesal.
“Aduh-aduh.. Jangan begitu, aku sungguhan kok.”
“Aku bisa menebaknya dari wajahmu. Kau habis menangis kan? Lihat kantong matamu, ck.”
“Apa sejelas itu? Padahal aku sudah membersihkan wajah tadi pagi.”

“Apa sahabatmu melakukan sesuatu yang buruk lagi?”
“T-tidak, aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi.”
“Syukurlah.. Aku dengar dari Ibumu kalau kau selalu menangis setiap pergi ke rumah beliau dan mengoceh karena telah ditipu.”
“Astaga, jadi kau menguping?!”
“E-eh bukan begitu. Habis kau tidak bisa kuhubungi karena selalu menghapus nomor asing kan?”
“Salah siapa yang selalu mengganti nomor?”
“Haha. Iya itu salahku.. Maaf ya.”
“Pfft! Aku bercanda, sekarang berikan nomor teleponmu yang baru dan berjanjilah untuk tidak menggantinya lagi.”
“Akhirnya! Oke ini dia! Aku akan menyimpan kontakmu dengan nama Milikku.”
Lagi-lagi dia berhasil memancing perasaanku.

“Jadi, apa yang membawamu kembali kemari Noah?”
“Sudah kubilang, aku merindukanmu..”
“Kau kan bisa menghubungiku lewat video call dengan nomor Ibuku. Bagaimana jika aktivitasmu terganggu gara-gara aku?”
“Aku tak masalah.” jawabnya santai.
Obrolan terus berlanjut hingga tengah malam. Aku yang tak bisa menahan kantuk, terlelap lebih dahulu membiarkan Noah tetap terjaga di sampingku.

“Selama ini, kau dikelilingi orang-orang licik. Aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu. Maafkan aku Rika..”

Sejenak, aku bermimpi melihat kenangan masa kecil kami. Noah adalah teman masa kecilku. Walaupun bukan yang pertama, tetapi momen yang kuhabiskan bersamanya lebih banyak daripada dengan si pengkhianat itu. Saat itu, aku benar-benar merasa terpukul mendengar kabarnya yang akan pindah ke luar negeri. Aku hanya bisa pasrah dan merelakan kepergiannya. Meskipun dalam lubuk hatiku masih ada harapan bahwa dia akan kembali. Aku mempercayai itu, dan benar saja dia kembali. Janji yang kami buat berhasil ia tepati.

“Rika! Berjanjilah untuk tetap bertahan dan tunggu aku! Aku pasti akan menjemputmu!”
“Ya! Kau juga, jangan lupakan aku Noah!”

Jalan kami memang jauh berbeda, tetapi takdir berhasil mempertemukan kami kembali. Aku berharap bisa terus bersamanya sampai kapanpun. Hari-hari yang kulewati terasa lebih ringan saat bersamanya. Aku sudah tidak merasa kesepian lagi. Berkatnya, aku bisa berdamai dengan dunia dan kehidupanku. Dia berhasil membuka hatiku serta menghilangkan pemikiran sempit yang selama ini terus menghantuiku. Kami juga berhasil merajut benang yang sempat terputus. Waktu menggiring kami untuk saling menaruh rasa antara satu sama lain.

“Rika.. Ayo kita menikah!” ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Namun aku bisa melihat wajahnya yang semerah tomat saat mengatakannya.
Aku sudah siap menerimanya dan yakin akan hukum pernikahan, tidak ragu untuk menyetujuinya “ya! Aku mau, ayo kita menikah Noah!”
Tidak berselang lama, sebuah cincin terpaut pada jari kami masing-masing. Dengan penuh haru, Noah mendaratkan kecupan hangat di atas dahiku. Aku membalasnya dengan pelukan erat menyambut hubungan kami yang baru.

“Cantik.” ucapnya sembari mengangkat tubuhku terbang ke udara.
“Sungguh aku tidak percaya kau akan melamarku! Noah aku mencintaimu..”
“Aku juga.. Rikaku…”

Menjelang resepsi pernikahan, kami tak henti-hentinya memastikan keadaan satu sama lain. Tidak dapat dipungkiri, ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Begitu pula dengan Noah yang tak melepas pandangannya dariku. Ini terasa seperti keajaiban. Waktu terus berlalu, pesta telah usai. Kami juga sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Sekarang adalah waktu untuk beristirahat, kami harus mempersiapkan diri sebelum bulan madu. Tempat yang cukup jauh memaksa kami untuk menginap di suatu hotel.

“Noah ini sudah malam, sebaiknya berangkat besok saja.”
“Tidak, kita tidak boleh terlambat.”
“Tapi Noah-” dengan cepat Noah merangkulku menuju mobil yang sudah terparkir. Aku tidak bisa menghentikannya lagi jika sudah begini.

Mobil melaju kencang melewati pepohonan lebat di malam yang sunyi. Hatiku mulai berdegup diiringi rasa cemas yang tak karuan. Sekilas Noah melirik wajahku dan segera menggenggam tanganku sembari berkata bahwa kami akan segera sampai. Sejenak diriku kembali rileks sebelum kilatan cahaya menyambar kearah kami. Dengan sekejap mobil yang kami tumpangi hilang kendali dan menabrak pembatas jalan hingga terpental sejauh beberapa kilometer.

Tubuhku terasa berat. Seketika aku tersadar, Noah memelukku dengan tubuh yang bersimbah darah. Aku syok dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak percaya hal ini akan terjadi.

“Tidak… Noah.. Bagunlah…”
“Rika.. Kau tidak boleh menangis… Berjanjilah padaku untuk tetap bertahan…” setelah mengatakan hal itu, dia menutup matanya perlahan-lahan.
“Noah?! Noah bangunlah!! Noah! Iya aku berjanji! Tapi tolong jangan pergi!!”

Aku segera menghubungi pihak berwajib. Tak lama kemudian, polisi dan ambulan datang menjemput. Karena terlalu lama melihat darah, aku tak sadarkan diri dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku membuka mata dan meratapi tubuh yang sudah tidak bernyawa. Ternyata dia benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya. Jika saja aku bisa menghentikannya malam itu, maka hal ini tidak akan terjadi. Hanya itulah yang terus berlalu lalang di pikiranku. Tatapan yang kosong seakan menggambarkan rasa penyesalan yang amat teramat dalam. Ternyata, hanya persinggahan sementara. Tidak ada gunanya menangisi orang yang sudah tiada. Perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak akan membiarkan orang lain datang sebagai penyambut dihari esok. Aku merelakan dirinya, tetapi akan selalu mengingatnya. Tak masalah jika harus sendiri. Dia akan tetap menjadi penutup diakhir kisahku.

Cerpen Karangan: Intann
Blog / Facebook: @intan.pie

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Persinggahan Sementara merupakan cerita pendek karangan Intann, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Annisa Medina Putri

Saat di sekolah.. Ocha berbincang dengan Icha dan Ocha.. Namaku Echa. Kami bertiga (TriCha). “heyy enak si ocha dia dapat si diky. Abang keren itu..” ucap Echa. “iya PJnya




Oleh: Sasha Amalia

Siang itu, aku bersama simpananku mengerjakan tugas bersama di rumahku. Sebelumnya bahkan kami sudah pernah HS (Having S*x) tanpa sepengetahuan pacarku. Singkat cerita kami mengerjakan tugas itu, dan tiba-tiba…




Oleh: Frizka Oktaviani

Di taman rumput yang hijau ini kubaringkan tubuhku seraya memandang cerahnya langit biru. Yang seakan menghipnotisku dan membuatku tak kuasa menahan kantuk. Sejuk berada di tempat ini, hingga tak




Oleh: Filla Giani

Aku hanya bisa menemukan nya lewat tulisan nya. Aku hanya bisa merasakan nya lewat tulisan nya. Aku hanya bisa mengetahui apa yang ingin dia sampaikan kepadaku lewat tulisan nya.




Oleh: Lila Kamuli

Aku begitu kagum melihat sosok yang sangat ganteng, sepertinya ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Kami memang satu sekolah namun kami saling mengenal sejak kelas 2 SMP. Dia



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: