8 tahun cerpenmu

Cerpen Popsicle

Spread the love

Cerpen Popsicle





Cerpen Karangan: Zed
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih

Lolos moderasi pada: 22 July 2022

Aku duduk di sebuah bangku di pinggir sungai yang sudah menjadi tempat dimana kami saling bertemu. Ditemani cahaya lampu yang terang dan juga rumput dan pepohonan yang subur. Tempat ini sudah sangat banyak berubah, tapi suasananya tetap saja seperti dulu saat aku sering datang kesini. Tempat ini bisa membuat hatiku nyaman. Malam ini, sepertinya tidak terlalu banyak orang yang datang ke tempat ini.

Sungai Harapan, seperti itulah orang-orang menyebutnya saat ini. Sungai ini tidaklah besar. Aliran sungainya tidak begitu deras. Hanya saja, letaknya yang berada di tengah pusat kota menjadikannya salah satu tempat orang-orang berkumpul untuk sekadar menikmati keindahan sungai di tengah kota ini atau menghabiskan waktunya dengan orang yang mereka sayangi. Tempat ini semakin hari menjadi semakin ramai. Apalagi setelah dibuatkannya Jembatan Harapan dan taman kecil yang dijadikan tempat untuk berwisata. Beberapa pasangan malahan memasang “gembok cinta” di pagar jembatan untuk mengunci hubungan mereka dan kuncinya lalu dibuang di sungai itu untuk menandakan tidak akan ada yang membukanya. Terdengar romantis, tapi aku dan Adam tidak pernah menyukainya.

Benar saja, jembatan itu kemudian rusak karena karat dan hampir memakan korban jiwa karena terlalu banyak orang di jembatan itu dalam satu waktu. Begitu pula kunci-kunci yang disebar disana, memenuhi sungai dan membuat sungai itu jadi kotor. Sudah dua kali jembatan ini melakukan perbaikan agar para wisatawan yang datang bisa dengan aman berwisata di atas jembatan.

Hari ini, limabelas tahun sudah waktu yang dilalui semenjak aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Saat itu aku sedang menikmati udara sore hari sepulang sekolah. Adam, salah satu teman sekolahku datang menghampiriku dan kami duduk di bangku ini. Waktu itu belum ramai seperti sekarang. Hanya ada bangku dari kayu dan rerumputan yang tumbuh di sepanjang pinggiran sungai. Anak-anak sekolah memang sering terlihat berada di sekitaran sungai ini karena tempatnya begitu nyaman dan sejuk. Pinggirannya pun cukup luas jika dipakai untuk bermain. Apalagi jika hari libur atau libur sekolah tiba.

Waktu itu Adam itu datang kepadaku dengan membawa es loli atau pada waktu itu kami menyebutnya Popsicle. Dengan malu-malu dia meminta izin untuk duduk di dekatku sembari menawarkan Popsicle-nya kepadaku.
“Hai… Boleh kan aku duduk disini?” Kata Adam dengan sesekali memalingkan pandangannya karena malu.
“Boleh, kemarilah.” Jawabku sambil menepuk-nepuk bangku di sampingku.

Dia kemudian menawarkan Popsicle-nya kepadaku. Aku pun menerimanya karena memang rasa es loli itu sangat enak, apalagi jika dimakan pulang sekolah setelah penat belajar. Rasanya otakku kembali segar setelah menikmati dinginnya es loli rasa anggur itu.

“Aku lihat kamu sering berada disini hampir setiap hari.” Tanyanya.
“Eits. Kamu sering memperhatikanku ya?” Aku menggodanya.
“Ehh.. bukan begitu..” Jawabnya dengan muka yang terlihat memerah.
“HIhihi.. becanda kok. Aku memang suka berada disini. Rasanya nyaman berada sendirian disini.”
“Jadi kamu terganggu dengan kedatanganku dong?” Tanyanya.
“Hmm.. tidak juga, kadang aku hanya suka sendirian saja.” Jawabku.
Adam hanya diam saja dan melihat ke arah sungai sembari menikmati Popsicle-nya.

Seiring waktu kami sering bertemu dan menghabiskan waktu di tempat itu, hubungan kami pun menjadi semakin dekat.

Di tahun ketiga SMA, tepatnya setahun setelah kami bertemu pertama kali. Adam menyatakan perasaannya kepadaku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka Adam akan mengatakan hal seperti itu. Sebenarnya aku tidak mengharapkan ini karena aku sudah menganggap dia sebagai teman, lagipula sebenarnya aku adalah orang yang suka menyendiri.

Tapi, pada saat itu aku merasa nyaman dengan berada di dekat Adam. Rasanya sesuatu di dalam hatiku merasakan hal yang sama ketika aku berada di dekatnya. Ada perasaan aneh dan tidak bisa dijelaskan yang terjadi pada tubuhku jika aku berada didekatnya dan itu membuatku bahagia. Lucunya, saat itu dia membawakan sebuah lilin dan sekantung penuh Popsicle rasa anggur. Kami pun menikmati semua Popsicle itu sampai habis dan besoknya kami berdua sakit perut karena terlalu banyak memakannya.

Sungguh masa lalu yang indah.

Setelah lulus SMA, Adam melanjutkan kuliah di luar kota sementara aku disarankan orangtuaku untuk mencari Universitas yang dekat saja karena mereka khawatir aku kuliah di luar kota dan jauh dari mereka.

Kami pun harus menjalani hubungan jarak jauh, tetapi itu tidak menyurutkan niat kami untuk tetap mempertahankan hubungan kami. Lagipula saat itu pun kami sudah sering berhubungan menggunakan handphone dan bagi kami itu sudah cukup. Selain itu, ketika Adam pulang, kami juga sering bertemu untuk sekadar jalan-jalan, nonton di bioskop, atau menikmati keindahan sungai ini sambil selalu memakan Popsicle anggur kesukaan kami. Meskipun tidak lama, tapi kami sangat menikmati momen ketika kami bersama. Aku dan Adam yakin bahwa jarak tidak akan memisahkan kita.

Suatu hari, ketika pulang kuliah. Aku hanya ingat ketika aku berjalan pulang, kemudian pandanganku menjadi gelap disertai sakit di bagian kepala yang sangat hebat. Aku kemudian terbangun di sebuah Rumah Sakit dengan Ayah dan Ibu yang sudah berada di sampingku. Mereka menangis tersedu-sedu dan memelukku dengan erat ketika melihat aku siuman. Aku hanya mendengar dari obrolan mereka dengan perawat dan dokter bahwa aku sempat kejang-kejang sebelum ada salah satu warga yang melihatku terjatuh dan kejang-kejang. Meraka akhirnya menelepon pihak Rumah Sakit dan membawaku kesini.

“Kamu sudah baikan nak.” Kata Ibu dengan pelan dan berusaha tersenyum sambil mengusap wajahya yang berlinang air mata. Sementara Ayah hanya tersenyum sambil memegang erat tanganku.
“Iya..” Aku menjawabnya dengan pelan dan berusaha untuk duduk tapi mereka melarangku.
“Sudah, istirahat saja dahulu. Jangan banyak bergerak.” Kata mereka melarangku untuk bangun.

Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul lima, aku melihat ke arah jendela dan terlihat sudah sore hari.
“Hari apa sekarang, Bu?” Tanyaku pada Ibu.
“Sekarang hari Selasa sayang. Sudahlah, istirahat saja dulu.” Kata ibu sambil mengusap-usap tanganku.
Sepertinya aku tidak sadarkan diri selama seharian penuh.

Selama aku di Rumah Sakit, Ibu selalu menungguku sementara Ayah hanya datang untuk membawakan makanan dan baju karena Ayah harus bekerja. Setelah beberapa hari disana, akhirnya aku dinyatakan sudah bisa pulang. Ibu tidak memberitahu dengan jelas penyakit apa yang aku alami. Dia hanya bilang aku mengalami sakit kepala hebat, semacam vertigo. Dia bilang tidak apa-apa lagi selain itu. Tapi, jika dilihat raut wajahnya, Ibu seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin aku ketahui. Selama aku sakit pun, aku tidak pernah memberitahukannya kepada Adam. Karena itu akan membuatnya khawatir.

Untung saja waktu itu Adam tidak pulang, meskipun dia sempat marah karena beberapa hari aku tidak bisa dihubungi atau tidak membalas pesannya. Aku terpaksa berbohong dengan alasan handphoneku jatuh dan baru membelinya setelah beberapa hari kemudian. Saat Adam pulang, Kami pun berjanji untuk bertemu di sebuah cafe di dekat Sungai Harapan. Kebetulan saat itu mereka sedang soft opening. Aku datang agak sore karena memang akhir-akhir ini rasa sakit kepalaku semakin menjadi-jadi dan aku merasa lelah bahkan hanya untuk keluar rumah.

“Kamu gak kenapa-napa?” Adam sepertinya melihat ada sesuatu yang berbeda denganku.
“Ah.. ngga. Ga apa-apa kok. Aku hanya sedikit tidak enak badan saja.” Jawabku singkat.
“Wajahmu pucat. Serius kamu tidak apa-apa?” Adam sepertinya mengkhawatirkanku.
“Nggak apa-apa kok. Serius.” Aku berusaha untuk tersenyum.
“Syukurlah, kalo begitu tunggu sebentar disini.” Adam kemudian meninggalkanku dan terlihat dia sedang berjalan menuju ke seorang pramusaji dan sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

Setelah cukup lama berbicara akhirnya dia kembali ke meja kami. Tak lama kemudian datanglah menu yang sengaja dipesannya.
Dia memesan dua buah Cheesecake dengan topping anggur dan juga segelas teh hangat yang disajikan di depanku.

“Minumlah selagi hangat.” Katanya sambil tersenyum.
“Aku tidak memesan ini, tapi terimakasih Adam.” Jawabku sambil meneguk teh hangat itu. Rasanya nikmat dan membuat kepalaku segar.
“Aku tahu kamu menginginkan Popsicle, tapi aku tidak jadi membelikanmu. Soalnya kamu terlihat pucat.” Jawab Adam.
“Sebaiknya kamu minum dan memakan itu saja.” Tambahnya.

Setelah selesai, Adam kemudian mengajakku berjalan ke luar dan melihat keindahan malam di sungai harapan. Kami memutuskan untuk berjalan ke Jembatan Harapan karena tempat biasa kami duduk telah diisi oleh orang lain.

“Kamu tidak membawa kunci gembok kan Adam?” Ucapku sambil melihat gembok-gembok yang memenuhi pagar jembatan ini.
“Hahaha.. Yang benar saja. Hal yang seperti itu tidak perlu bagi kita.” Jawabnya sambil memandangi aliran sungai yang tenang.
“Rasanya sudah lama kita tidak berada diatas jembatan ini. Biasanya kita di pinggir sana.” Kata Adam tanpa menunjuk tempat biasa kami duduk.
“Iya benar, ternyata disini indah juga. Apalagi tempat ini sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya.” Ucapku sambil melihat deret lampu yang menerangi baik di jembatan maupun pinggiran sungai ini dan juga beberapa tanaman hias yang ditanam untuk menambah keindahan tempat ini.

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya Adam sambil memandang kearahku.
“Hah?” tanyaku sambil mengerenyitkan dahi.
“Maksudku hubungan kita.” Tanya adam sambil mengalihkan pandangannya dan memandangi sungai.
“Aakuu… sebaiknya… Kita…” Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya lidahku menjadi kelu, tubuhku gemetar.
Adam tiba-tiba saja merangkulku.
“Eh…!!!” Aku kaget dengan yang dilakukan Adam.
Aku hanya terdiam, tidak berusaha melawan dan membiarkan Adam melingkarkan tangannya di bahuku. Aku melihat dia hanya tersenyum dan kemudian kembali memandang ke arah sungai. Aku hanya terdiam, tapi entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul dan menggetarkan seluruh tubuhku ini. Rasanya aliran darahku menjadi deras, degupan jantungku terasa sangat kuat menyemburkan darah ke seluruh tubuhku. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku ke dekapannya. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku ingin selamanya berada di dekatnya. Aku ingin selamanya bersamanya.

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahku, membuyarkan lamunanku akan masa lalu yang indah itu. Dari kejauhan aku melihat sepasang kekasih yang datang sambil memegang tangan anak kecil yang berada diantara mereka. Mereka lalu berjalan dan berdiri di pinggir sungai tepat berada di hadapanku. Mereka sepertinya menikmati kebersamaan mereka, dan juga mereka terlihat bahagia. Andai aku punya keluarga, aku ingin menjalaninya seperti mereka. Karena aku yakin pria di depanku itu adalah pria yang baik.

Anak kecil itu kemudian merengek menginginkan sesuatu, menarik tangan ibunya dan meninggalkan Ayahnya yang berdiri sendirian di pinggir sungai. Aku dari tadi memperhatikan dia yang hanya diam mematung tidak bergerak. Di tangannya, terlihat dia memegang sesuatu. Dia seperti menghela nafas panjang, terlihat dari bahunya yang naik perlahan dan kemudian turun dengan cepat.

Pria itu kemudian berbalik dan menampakkan wajah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Pria itu mendekatiku dan berdiri di hadapanku. Lekukkan wajahnya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang aku kenal. Dia kemudian duduk di sebelahku. Matanya berkaca-kaca. Dia hanya diam di sebelahku dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dia duduk begitu lama dan berusaha mengusap kedua matanya. Dia adalah orang yang sudah lama aku kenal tapi dia tidak berbicara kepadaku, begitupun aku yang hanya diam saja memperhatikan wajahnya yang aku rindukan. Meskipun sedikit berbeda, tapi aku yakin itu dia. Dia kemudian menoleh kepadaku, seperti sedang menatapku dengan kedua bola matanya yang indah. Dia kemudian seperti tersenyum ke arahku.

“Ayaaahh…! Ayo kita pulang!” Suara seorang anak kecil terdengar di kejauhan.
Pria itu bergegas mengusap wajahya, memejamkan kedua matanya dan bergegas menemui Anak dan Istrinya yang sudah menunggunya tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku. Pria itu hanya menunjukkan punggungnya yang makin lama makin menjauh dan menghilang di kegelapan malam.

Di bangku ini dia meninggalkan sesuatu yang mengingatkanku kepadanya. Sebuah Popsicle rasa anggur dan juga sebuah kertas kecil yang bertuliskan.

“Ini untukmu Eva. Semoga kamu tenang di alam sana.”
~ Adam

Cerpen Karangan: Zed
Blog: catatanzed.blogspot.com
Penulis biasa-biasa saja.


Cerpen Popsicle merupakan cerita pendek karangan Zed, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fatimatuzzahra Purnama Putri

“Diandra!” panggil Sofie sambil melambaikan tangannya. Dari kejauhan, nampak seorang gadis remaja seumurannya menoleh. Matanya tampak berbinar diterpa cahaya mentari pagi. “Sofie! Bentar, ya!” jawabnya sambil berlari mendekat. Jarak




Oleh: Eka Nanda Yustianti

Saat pertama ia membuka mata, ia telah percaya bahwa Tuhan telah menulis jalan hidupnya. Mei sempat takut saat ia menginjakkan kaki di SMS 1 Valisia, sekolahnya begitu bersih besar




Oleh: Devi Setianingsih

“… Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.” Hujan yang kian menderas menghapus kemegahan warna jingga yang menyala di di batas langit




Oleh: Mia Laven

“Om-Tante, saya mau minta ijin untuk membawa Mia ke tempat yang lebih tenang. Agar kondisinya lebih stabil.” Ucap Seung Jo pada orangtua Mia. Saat ini ia tengah bertamu di




Oleh: Pegy Yolandha

“teng teng” lonceng sekolah berbunyi. aku pun segera memasuki kelasku, sebelumnya perkenalkan namaku Siska Anggraini, saat ini aku bersekolah di SMP tunas bangsa. aku punya teman dekat bernama Aldo.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: