8 tahun cerpenmu

Cerpen Reuni

Spread the love

Cerpen Reuni





Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Renungan

Lolos moderasi pada: 30 June 2022

Kalimat apa yang pertama kali melintas dalam benak kita saat mendengar atau membaca kata reuni? Sudah pasti jawabannya adalah berkumpul dengan teman-teman sekolah yang sudah sekian tahun tidak berjumpa.

Sebagian besar orang selalu tertarik untuk mengikuti acara reuni, salah-satu acara nostalgia atau mengenang masa lalu yang paling banyak ditunggu-tunggu. Dalam acara reuni tersebut, kita bisa berjumpa dengan kawan-kawan saat dulu masih sekolah. Bisa dibayangkan bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah sekian tahun berpisah? Tentu saja akan menimbulkan kesan dan pesan tersendiri.

Kesan pertama yang akan timbul adalah perasaan kaget dan kagum melihat perubahan pada diri teman-teman kita; Teman yang dulunya langsing berubah jadi terlihat gendut, atau sebaliknya. Yang dulunya berpenampilan kucel, sekarang jadi rapih dan wangi. Yang dulunya terkenal nakal sampai sering dipanggil ke ruang guru dan dihukum, sekarang jadi terlihat sopan dan agamis. Yang dulunya sempat menjalin hubungan cinta dengan kita, sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Intinya kesan pertama dari reuni itu kita akan menemukan banyak sekali perubahan pada teman-teman kita.

Dan satu kesan yang takkan tertinggal dari acara reuni adalah bercerita banyak hal, tertawa bersama sambil makan dan minum, bercanda bersama, bahkan takkan terlewat untuk mengenang masa sekolah bersama.

Akan tetapi, bagaimana jadinya kalau acara reuni yang seharusnya membuat senang dan gembira, malah membuat sebagian orang mengalami pengalaman trauma? Misalkan merasa direndahkan yang pastinya akan membuat orang tersebut merasa kesal dan menyesal. Seperti yang dialami oleh kawan kerja saya yang bernama Anton.

Anton adalah teman saya, sejak dari masuk sekolah dasar sampai sekarang kerja pun bisa terus bersama. Rumah tempat tinggal kami pun lumayan dekat, hanya terhalang oleh tiga rumah dan beberapa pohon cemara. Jadi, entah itu berangkat kerja atau pulang kerja kami selalu bersama-sama. Dari sejak kecil Anton orangnya pemalu, mudah merasa khawatir, mudah merasa gugup, dan canggung saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang asing. Dengan kepribadian tersebut, tak jarang di sekolah dulu Anton sering dibuli teman sekelasnya. Apalagi kalau sudah pelajaran matematika, Anton sering diejek sampai menangis karena nilainya jelek.

Suatu hari di warung makan saat jam istirahat kerja Anton pernah berkata, “Aku kadang iri melihat orang lain”
“Malu bagaimana maksudmu?” aku bertanya
“Puluhan tahun kita bersama. Kamu tau sendiri bagaimana kepribadianku sejak kecil sampai sekarang tidak ada perubahan. Mudah merasa gugup, mudah khawatir, dan canggung kalau berbicara dengan orang lain terutama dengan orang yang baru aku kenal. Jadi, aku kadang iri pada orang lain yang terlihat percaya iri, punya pacar dan bisa jalan bersama dengan pasangannya” Jawab Anton dengan nada keluh kesah

Mendegar jawaban Anton aku diam sejenak, minum es teh lalu mengambil nafas panjang kemudian berkata sambil menepuk bahunya Anton, “Semua ada waktunya, teman. Kadang situasi yang engkau keluhkan adalah situasi yang orang lain inginkan, dan situasi yang kau ingin dari orang lain adalah situasi yang orang lain tidak inginkan. Aku pikir semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Yang penting kamu berbuat baik dan jangan menyakiti orang lain.”

Makanya saat ada undangan acara reunian dari grup sekolah di whatsapp, pada awalya Anton tidak mau hadir dengan alasan malu oleh teman-temannya yang dulu sering ngejek. Tapi, karena aku yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya Anton mau menghadiri acara reunian dengan teman-teman sekolah dasar dulu. Acara reunian dilaksanaka pada hari minggu dengan tempat disalah satu café yang cukup terkenal sebagaimana pinta salah-satu teman kami dulu yang bernama Esa.

Esa adalah salah satu teman kami berdua yang sejak dari kelas satu sampai lulus sekolah dasar selalu berprestasi dan selalu dibangga-banggakan oleh para guru terutama oleh kedua orangtuanya. Dan sekarang aku dengar Esa telah sukses berkarier dalam dunia musik dan bisnis kendaraan.

Singkat cerita hari minggu telah tiba. Hari dimana aku dan Anton akan kembali berjumpa dengan teman sekolah yang sudah sekian tahun hanya bertegur sapa di sosial media. Aku dan Anton berangkat bersama dengan menaiki kendaraan motor. Sepajang perjalanan mata kami dimanjakan oleh aktivitas orang yang sedang jual beli, saling negosiasi harga barang, karena dari rumah ke café lokasi unuk reunian harus melewati pasar terlebih dahulu. Kami juga dimanjakan oleh hamparan kebun teh yang luas yang masih tertutup samar oleh kabut pagi. Sungguh indah dan udaranya cukup menyegarkan seakan-akan muncul energi semangat baru.

Setelah 30 menit lebih menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai dan terlihat teman-teman sudah pada berkumpul, ada yang duduk saja, ada yang ngobrol, ada yang main gitar, ada yang sedang foto-foto, ada juga yang fokus membaca buku dan dalam hati aku berkata, “Dari dulu sampai sekarang temanku yang bernama Angel memang suka membaca buku dan tak pernah lupa membawa buku dalam acara apapun”

Beberapa teman menyambut kami berdua dengan cukup ramah. Lalu mengajak yang lain untuk mulai berkumpul di tempat yang sudah dipesan. Aku melihat satu-persatu temanku memang banyak sekali perubahan, misalnya Anna yang dulu gendut sekarang nampak terlihat langsing dan semakin cantik.

Anton bertanya padaku dengan nada berbisik, “Esa kemana, ya? Kok belum kelihatan?”
Belum juga aku menjawab Esa sudah tiba dan ujug-ujug berkata, “Selamat pagi orang-orang sukses, yang belum sukses kapan suksesnya?”
“Selamat pagi kembali, bos besar” Ucap salah-satu temanku yang bernama Hanna

Esa menyalami kami semua dan saat bersalaman dengan Anton, Esa berkata dengan nada sinis, “Ini kan si Anton yang dulu suka menangis kalau pelajaran Matematika. Apa kabarmu, kawan? Apa masih suka menangis sampai sekarang?”

Mendengar ucapan Esa kepada Anton, semua teman yang ada di tempat tertawa kecuali aku. Perasaanku sudah mulai tidak enak karena melihat ekspresi wajah Anton.

Akhirnya aku alihkan situasi tersebut dengan berkata, “Jadi hari ini kita mau ngapain saja selain dari makan-makan?”
“Pokoknya hari ini kita bersenang-senang, bercanda. Tenang kalian tidak perlu khawatir uang akan habis, dalam acara reuni pertama ini bos kita akan mentraktir semua pesanan makanan kita” ucap Bima sambil menunjuk ke arah Esa

“Ya, ya, ya, hari ini kalian tidak perlu khawatir uang kalian habis. Pesan makanan dan minuman yang kalian sukai soal bayaran biar aku yang bayar semua. Perlu kalian tahu bisnisku sedang dalam kemajuan dan karirku dalam musik cukup memuaskan, jadi kalau kamu, Anton ingin mengundang hiburan saat menikah jangan lupa kabari saya saja, itu pun kalau kamu punya pasangan” Ucap Esa sambil menunjuk ke arah Anton

Aku melihat Anton dari tadi hanya nganguk-ngangguk dan kegugupanya ia sembunyikan dengan ikut tertawa setiap kali Esa berkata. Aku pikir Esa akan berubah ternyata sama sekali tidak. Dari dulu Esa sering membanggakan diri dengan apa yang dia punya atau apa yang dia capai. Tapi dia juga kadang suka merendahkan orang lain dengan dalih hanya bercanda. Saat ini banyak teman yang pandai membungkus ejekan dan hinaan dengan canda. Sungguh menyedihkan aku menyaksikan setiap kali Esa berkata, nama Anton selalu dibawa-bawa dan terkesan direndahkan karena masa lalu Anton yang sering tertinggal kalau dalam belajar.

Tidak terasa akhirnya acara reunian selsai. Setelah kami makan, minum, dan berbincang-bincang, kami foto bersama untuk diunggah di sosial media dan dijadikan foto profil di grup whatsapp.

Setelah semua teman-teman pulang, aku mengajak Anton pulang bersama tapi Anton menolak dengan alasan ingin naik mobil umum karena mau ada satu urusan dulu di rumah keluarganya. Tapi batinku merasakan itu hanya sebuah alasan dari kekesalan Anton pas acara reuni tersebut. Aku sendiri tidak bisa memaksa Anton karena aku merasa bersalah memaksa dia untuk ikut acara reunian. Akhirnya kami pulang masing-masing padahal kami berangkat bersama-sama.

Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100046175318877


Cerpen Reuni merupakan cerita pendek karangan Wahyu Nugraha, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Farhan Febryan

Interaksi selalu menjadi bagian hidup bagi seluruh kehidupan di muka bumi ini, baik itu manusia dan manusia, hewan dan hewan, atau pun manusia dan hewan, tentu saja menarik untuk




Oleh: Wuri Wijaya Ningrum

Ehm… Kata orang, masa remaja masa yang paling menyenangkan. Kataku, ini adalah masa yang paling membuat tertekan. Dibebani dengan tuntutan kerja, ekspetasi orangtua, pertanyaan kapan wisuda, gaji berapa, nama




Oleh: Fachrizal Imalda Azmi

Lelaki itu duduk tak tenang pada batu cadas yang keras, sekeras deru debam kendaraan yang lalu lalang pada mulusnya Pantura yang tak pernah lengang. Sinar mentari pagi yang mulai




Oleh: Diana Fitri Wulandari

Sopiyan adalah lelaki berusia 22 tahun, rumahnya di sebuah desa terpencil yang teletak di sudut Ibu Kota. Selama ini ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang kerap ia panggil




Oleh: Damas

Fadlan datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak cara telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari. Kata orang, rezeki itu bisa datang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: