8 tahun cerpenmu

Cerpen Rindu yang Terobati

Spread the love

Cerpen Rindu yang Terobati





Cerpen Karangan: Aci Adi Iansah
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 14 June 2022

Aku duduk di kursi depan rumah sambil menikmati secangkir teh hangat dengan pikiran yang kacau balau karena mendapat kabar bahwa dia sudah jadian dengan idamannya. Abdul temanku yang juga duduk disampingku juga hanya bisa memberikan semangat untuk diriku yang sedang patah hati.

“Udah lah ikhlaskan saja, masih banyak kok cewek di dunia ini.” ujar Abdul.
“Tapi, yang ada di dunia ini dia lah yang menurutku istimewa dan cocok denganku.” Ucapku dengan raut wajah sedih nggak ketolong.
“Kalau dia terbaik buatmu kenapa dia milih orang lain dan meninggalkanmu tanpa sebuah alasan yang jelas.”
“Nggak tahu lah Dul, tolong bahas lainya aja aku udah muak cerita tentangnya.”

“Untuk mengobati rasa sakitmu itu, bagaimana kalau kita nonton sepak bola di stadion.”
Aku langsung berdiri dari tempat dudukku dengan berkata “Gasss, udah lama nggak nonton ke stadion sejak pandemi.”
Raut wajahku berubah sedih lagi “Aku nggak punya uang untuk beli tiket.”
“Alah itu mah gampang pakai duitku aja, untung-untung buat nyeningin teman sendiri yang lagi galau berat.”
“Makasih ya Dul, nanti aku di dalam stadion rencananya akan jualan minuman dan makanan untuk mendapatkan uang untuk mengganti uangmu.”
“Santai aja kali, kayak sama siapa aja.”
Kami berdua pun tertawa bersama.

Keesokan harinya Aremaday
Sebelum berangkat ke stadion untuk melihat klub kesayangan bertanding. Aku terlebih dahulu menyiapkan daganganku untuk berjualan di dalam stadion. Setelah semua daganganku sudah siap, aku mengganti bajuku dengan memakai baju biru arema yang bergambarkan singa mengepal dan tak lupa membawa syal biru yang bertulisan aremania.

Aku akan berangkat dengan Abdul teman sekelasku yang kebetulan juga sangat mencintai club kota kelahiran yang bernama Arema. Sebetulnya hari ini aku akan berangkat dengan gebetanku, tapi aku harus menerima kenyataan bahwa dia sudah berangkat dengan pacar barunya.

Aku dibonceng oleh abdul dengan membawa daganganku, tampak jalanan yang ramai dengan orang-orang memakai atribut berwarna biru wajar rame karena sudah dua tahun sepak bola tidak boleh dihadiri penonton.

Sesampainya di Stadion yang sudah sangat ramai dengan ribuan manusia yang sudah merindukan menyaksiakan tim kebangganya berlaga yang selama ini hanya bisa lihat dari layar kaca televisi.

Dengan pertandingan sepak bola yang bisa dihadiri oleh penonton membuat perekonomian yang berada di sekitar stadion mulai normal kembali. Hal ini bisa dilihat dari sibuknya para pedagang yang melayani para pembeli, tukang parkir yang sibuk mencatat nomor plat sepeda motor dan yang sangat diuntungkan dengan hadirnya penonton di dalam stadion. Tapi, ada terkecualinya untuk para calo tiket yang menjual tiket dengan harga tinggi untuk kepentingannya sendiri.

“Dul, kita mau nonton disebelah mana?”
“Di gate dua belas aja rame, sekalian bisa jualan disana.”

Aku dan Abdul berjalan menuju ke gate dua belas yang berada di selatan, kebetulan pada saat itu ada sebuah corteo yang membuatku dan Abdul langsung bergabung untuk bernyanyi bersama.

Sesampainya di pintu masuk gate dua belas, aku dan Abdul harus berbaris mengantri untuk bisa masuk. Keramaian antri di pintu masuk stadion ini biasanya dimanfaatkan pencopet untuk melakukan aksinya untuk mengambil hp dan dompet dari saku kita. Benar saja dari belakang terlihat seseorang dengan berbadan besar mencoba untuk melakukan aksi copet dengan menerobos masuk yang membuat keributan di antrian. Saat berdesak-desakan inilah copet akan melakukan aksinya untuk mengambil dompet dari saku korban yang sedang lengah. Tapi, pencopet itu sepertinya mengalami hal sial pada aksinya ini, sebab pencopetan yang dilakukannya berhasil ketahuan yang membuatnya harus dipukuli oleh massa. Beruntung polisi dengan sigap bisa mengamankan pelaku copet, kalau nggak mungkin di rumahnya sudah ada tahlilan.

Setelah antre cukup lama aku akhirnya bisa masuk ke stadion setelah dua tahun lamanya. Aku dan Abdul sudah menentukan bahwa kami akan duduk di gate dua belas belakang gawang selatan yang menjadi tempat dari curva sud aremania. Aku duduk menikmati suasana malam di stadion yang tampak cukup dingin dengan bulan bersinar terang di atas langit.

“Dul, seharusnya aku datang ke sini bukan sama kamu, tapi sama dia.” ucapku dengan raut wajah sedih.
“Ingat dia itu udah punya pacar, lupakan saja.”
“Iya Dul, aku akan mencoba untuk melupakannya, makasih juga ya udah mau nemani aku nribun.”
“Iya sama-sama, lagian jangan terlalu sedih disini banyak bidadari tribun yang mungkin bisa kamu dapetin.” ucap Abdul tertawa.
“Yaudah aku mau cari bidadari tribun dulu sambil jualan.”

Aku menaruh syal ku di tribun untuk menandakan bahwa itu sudah ada orang yang menempatinya. Segera aku berkeliling untuk jualan di sekitar tribun yang sudah sangat ramai dengan penonton. Aku mulai berkeliling tribun dengan berteriak “yang haus, yang lapar.” kata-kata terus aku ulangi sampai ada yang memanggilku untuk membeli. Sampai pada akhirnya ada yang memanggilku untuk membeli makanan dan minuman yang aku perdagangkan.

Setelah itu, aku kembali berkeliling untuk berdagang dan secara tak sengaja mataku tertuju pada dua sosok perempuan yang aku kenal sedang bermesraan dengan kekasihnya. Aku yang melihatnya langsung segera mencoba untuk pergi dengan hati yang terbakar panas karena melihat orang yang aku sayang sudah ada pemiliknya.

“Mas.” panggil seorang perempuan dengan paras cantik.
Segera aku menghampiri perempuan cantik tersebut.
“Mas, aku mau es jeruknya satu dan tahu petisnya tiga. “
“Siap mbak.” ujarku dengan memberikan es jeruk dan tiga tahu petis pesanannya.

“Mas, aku boleh ikut jualan nggak mas.”
Aku yang mendengar itu sungguh terkejut dengan wajah terheran-heran.
“Boleh sih, tapi…”
Potong perempuan cantik tersebut “Aku nribun sendirian mas, aku takut nanti ada apa-apa sama diriku.

Benar saja banyak sekali cowok-cowok yang memandangi dengan wajah tak biasa seperti mau melakukan sesuatu. Aku yang merasa kasihan akhirnya memperbolehkannya untuk ikut jualan bersamaku dan mengajaknya untuk duduk satu tribun denganku. Aku mulai berjualan dengan dibantunya yang membuat daganganku cepat habis karena langsung banyak yang membeli. Setelah daganganku ludes habis terjual aku kembali ke tempat dudukku yang tadi sama Abdul.

“Eh itu siapa? tanya Abdul penasaran terhadap perempuan cantik yang aku bawa.”
Aku mendekatkan mulutku ke telinga Abdul dengan berbisik “Bidadari tribun.”

Pemain dari kedua kesebelasan masuk ke dalam lapangan yang menandakan pertandingan babak pertama akan dimulai. Semua penonton berdiri dengan mulai membentangkan syal yang mereka bawa. Kedua tim kesebelasan mulai berjabat tangan untuk memulai pertandingan dan melakukan sesi foto bersama. Setelah itu, kedua kapten dari masing-masing tim dipanggil wasit untuk melakukan tos koin pemilihan gawang. Tim Arema yang menjadi tim tuan rumah memilih gawang sebelah utara, sedangkan PSIS yang menjadi tamu memilih gawang sebelah selatan. Setelah semua pemain sudah siap di posisinya masing-masing, wasit meniup peluit pertanda babak pertama dimulai.

Para suporter yang ada di tribun langsung menyanyikan yel-yel pembakar semangat untuk tim kebanggaan mereka yaitu Arema.

Berselang 9 menit pertandingan pemain Arema Dendi Santoso berhasil membobol gawang lawan, seluruh penonton bersorak gembira untuk merayakan gol. Ini sungguh euphoria yang sangat dirindukan oleh pecinta sepak bola setelah dua tahun hanya merayakan gol lewat layar kaca televisi. Suara dukungan yel-yel dari suporter dari seluruh tribun semakin keras untuk bisa memberikan semangat pemain untuk bisa menambah gol lagi. Benar saja berselang dua menit dari gol pertama Dendi Santoso kembali mencatatkan namanya di papan skor dengan mencetak gol kedua untuk Arema. Seluruh suporter yang ada di tribun merayakan gol kedua ini dengan melompat-lompat sambil memutar-mutarkan syal di atas kepala.

Sampai peluit babak pertama ditiup oleh wasit skor tidak tidak berubah dengan keunggulan sementara tim tuan rumah Arema fc dengan skor dua kosong atas tim tamu PSIS. Jeda babak pertama menuju ke babak kedua ini aku manfaatkan untuk beristirahat mengatur napas setelah bersorak-sorak menyanyikan yel-yel selama empat puluh lima menit lamanya.

“Dul bawa minum?” tanyaku.
“Nggak lah, yang bawa minuman kan lo.” balas Abdul.
“Maaf, tadi kejual semua minumnya.” ucapku tertawa kecil.
“Minum punyaku aja, kebetulan tadi aku bawa 2 botol.” ujar perempuan itu.
“Makasih ya, maaf jadi ngerepotin.” ujarku sedikit merasa canggung dan malu.
“Nggak papa santai aja.” ucap perempuan itu dengan tersenyum.

Babak kedua mau di mulai, pemandu sorak dari curva sud aremania yang bernama sam Yones mulai menginstruksikan untuk pembuatan koreo. Kertas koreo mulai dibagikan kepada seluruh suporter yang berada di kawasan curva sud aremania. Aku yang terlibat langsung dari pembuatan koreo menjadi bertambah semangat untuk mengawal tim kebanggan.
Suporter sepak bola yang terkenal akan anarkis dan brutal menurut pandangan orang awam. Kini sudah berubah suporter yang ada di Indonesia sekarang sudah meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dan mulai menunjukkan kreativitas mereka di dalam lapangan dengan mulai menyanyikan yel-yel, membuat bendera besar dan koreo.

Kedua tim dari kedua kesebelasan mulai memasuki lapangan untuk mengambil posisi mereka masing-masing. Setelah semuanya sudah siap wasit meniup peluit babak kedua pertandingan, yang membuat semua suporter bersorak. Aku yang berada di tribun curva sud aremania mulai melakukan aksi koreo dengan menaikan dan menurunkan kertas yang sudah diberikan. Koreo yang dibuat ini berbentuk simbol + (tambah) yang berarti harapan semua aremania untuk bisa bermain dengan tambah edan, tambah sangar, tambah mbois dan tambah lebih baik dari musim kemarin.

Flare dari setiap penjuru stadion mulai dinyalakan yang membuat pertandingan harus dihentikan sementara karena asap dari flare masuk ke stadion yang membuat jarak pandang terganggu. Flare dinyalakan untuk menyambut dan merayakan hadirnya suporter sepak bola di stadion yang sudah dua tahun tanpa penonton. Flare yang merah berapi-api menandakan semangat dari suporter untuk mendukung timnya di liga komposisi nantinya. Satu stadion bergemuruh dengan suara para suporter yang menyanyikan chants pertemuan ini adalah kabar.

Asap yang ada di stadion sedikit mulai reda, para suporter kini melakukan hal kreatif lainya dengan menyalakan senter hp mereka. Semua dari suporter yang hadir di dalam stadion kompak menyalakan flash hp mereka yang membuat pemandangan yang luar biasa di dalam stadion. Ini semua dilakukan untuk mengobati rasa rindu suporter terhadap pertandingan sepak bola yang sudah lama tidak bisa dihadiri suporter di dalam stadion. Terlihat asap dari flare sudah mulai menghilang kedua tim kesebelasan mulai memasuki lapangan kembali untuk melanjutkan pertandingan yang sempat terhenti sejenak.

Pertandingan antara tim tuan rumah Arema fc menghadapi tim tamu PSIS skor tetap dua kosong tidak berubah sampai peluit panjang babak kedua di bunyikan. Kalah dan menang aku akan tetap setia mendukungmu, garuda di dadaku arema di jiwaku kamu didalam hatiku.

Aku keluar dari area stadion dengan perasaan yang sangat senang dan puas setelah bisa melihat tim kebanggan bermain secara langsung di dalam stadion.

“Loh cewek cantik tadi kemana?” tanya Abdul.
“Udah pergi.” balasku.
“Wah padahal belum nanya namanya dan minta nomor teleponnya.”
“Kata siapa? aku sudah tahu namanya dan sudah tahu nomor teleponnya.”
“Gercep amat, semoga besok nggak galau lagi. Karena kalau lo galau aku yang repot, diajak ngomong diem aja kayak nggak semangat hidup. By the way nama bidadari tribun itu siapa?”
“Namanya Alfira Historia Anastasia.”

Cerpen Karangan: Aci Adi Iansah
Blog / Facebook: Aci Iansah


Cerpen Rindu yang Terobati merupakan cerita pendek karangan Aci Adi Iansah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Fina Juliarti

One of the beautiful and smart students at SMAN 1 HARAPAN school is named Ririn okta monica. Ririn is usually called, she becomes a woman who always attracts the




Oleh: Salsa Tsabita

Dear Mama, ini hitungan ke 365. Mama sedang apa? Rintik pertama hari ini tepat mengenai pipiku. Pipi yang sama pada 365 hari yang lalu. Aku mulai menikmati hujan walau




Oleh: Anisa Oktaviani Kurnia

Treettt… suara handphone bergetar. Itu pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk, dan ketika dia lihat ternyata benar. “Hanna lagi di mana?” “Di rumah Kak, ada apa?” Hanna balas




Oleh: Wili Novita

Pertemuan disore itu nyaris membuatku tak merasakan hidup, semenjak dia mengucapkan kata sayang hidupku serasa dibuat beku, beku oleh cibirnya yang meluluhkan hati anak remaja ketika hendak beranjak dewasa,




Oleh: Novia Fernanda

“Nanda tunggu, pulang sekolah sekarang ngumpul pramuka kata Kak Nida, Ngumpulnya di kelas 8,” ucap seorang perempuan sambil memegang pundakku. “Oh iya Pril, Kan katanya jam 2 ngumpulnya, jam



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: