8 tahun cerpenmu

Cerpen Rosariomu dan Tasbihku

Spread the love

Cerpen Rosariomu dan Tasbihku





Cerpen Karangan: Seli Oktavia
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Uncategorized

Lolos moderasi pada: 5 July 2022

Hari ini aku hendak pergi ke apotek untuk membeli obat gatal untuk adikku. Seperti biasa dia mengalami alergi karena salah makan. Dengan mengendarai motor, kubergegas ke apotek. Jarak rumah ke apotek tak terlalu jauh, cukup dijangkau 15 menit saja.

Sesampainya di apotek aku segera membeli obat gatal yang biasa adikku konsumsi. Pelayan apotek segera mengambilkannya dengan cekatan. Saat aku hendak membayarnya di kasir, ada seorang wanita muda. Aku pun mengantri dibelakangnya. Sayup sayup terdengar suara kasir dan wanita itu.

“Totalnya 85 ribu mbak” ucap kasir
“Maaf mbak, aku cuma bawa 65 ribu. Dompetku ketinggalan di rumah.” Ucap wanita muda itu sembari merogoh isi tas kecil yang ia bawa, berharap ada uang yang menyempil di dalamnya. Tapi tak ada.
Aku mendengarnya, kebetulan aku bawa uang lebih jadi ku mengambil inisiatif.

“Kurang berapa mbak?” Tanyaku pada kasir. Wanita muda itu terkejut melihatku dari samping.
“20 ribu mas” ucap kasir.
“Sekalian hitung aja sama obat saya ini” ucapku. Kasir itu mengangguk.
“Baik mas” ucap kasir itu.

Wanita muda itu terlihat tak enak hati.
“Terimakasih banyak mas, terimakasih” ucapnya bahkan sambil menunduk menghormatiku.
“Iya kebetulan saya bawa uang lebih kok” ucapku sambil tersenyum. Wanita itu ikut tersenyum manis, aku sedikit tersipu melihat senyuman manisnya yang ditujukan padaku. Lebih tepatnya salah tingkah.

Aku memberikan total uang yang harus kubayarkan. Lalu keluar apotek bersama dengan wanita muda itu.
Saat di parkiran wanita muda itu kembali mengucapkan rasa terimakasihnya padaku.
“Terimakasih ya mas sudah bayarin kekurangan tadi” ucapnya. Aku tersenyum.
“Sama sama mbak, sudah selayaknya saya membantu.” Ucapku. Wanita muda itu mengangguk sopan sambil tersenyum. Wajah cantiknya terlihat sangat menawan.
Kami pun berpisah, karena tujuan kami berbeda arah.

Seminggu kemudian..
Aku sedang berjalan menuju fakultas tempatku menimba ilmu di bangku kuliah. Tanpa sengaja aku melihat dia. Wanita muda yang aku temui di apotek. Aku menyapanya, dia terlihat terkejut melihatku.
“Hai, masih ingat aku?” Tanyaku
“Eh mas, mas kuliah juga disini?” Ucapnya terlihat terkejut.
“Iya. Kebetulan banget kita ketemu disini” ucapku. Kami pun tertawa ringan bersama.
“Iya kebetulan yang menyenangkan” ucapnya. Ia merogoh tas kecilnya.
“Ini buat mas, buat kekurangan waktu di apotek” ucapnya memberiku uang. Aku segera menolaknya.
“Saya ikhlas mbak, saya nggak ngarepin apapun.” Ucapku menolak halus uluran tangannya.
“Beneran loh mas, mumpung aku bawa uang” ucapnya masih menyodoriku uang.
“Saya ikhlas mba” ucapku. Terjadi sedikit perdebatan tapi akhirnya aku yang menang. Ia menyimpan kembali uangnya. Karena memang aku ikhlas saat membayarkan kekurangannya saat di apotek.

“Aku belum pernah nemuin orang sebaik mas” ucapnya sambil tersenyum. Aku salah tingkah.
“Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin namaku Vania” ucapnya sambil menjulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.
“Oh iya yah, kenalin namaku Adnan” ucapku lalu menyambut uluran tangannya. Kami bersalaman. Lalu kami mengobrol ringan, dan aku segera tahu dia berada di fakultas kedokteran. Aku kagum dengannya, pasti dia akan menjadi dokter yang hebat. Beberapa menit kemudian kami berpisah, sebelum berpisah kami saling bertukar nomor whatsapp. Kami pun berpisah.

Dari pertemuan saat di kampus itu, obrolanku dan dia beralih ke whatsapp. Tak sehari pun kami absen berbalas pesan. Aku semakin dekat mengenalnya, begitupun dia semakin dekat mengenalku. Jujur saja, aku sangat kagum padanya. Wanita muda, cantik, pintar, tutur kata nya sopan dan sangat mudah bergaul.

Waktu dengan cepat berlalu, aku mengajaknya bertemu di suatu cafe. Niatnya aku akan mengatakan perasaanku padanya. Selama aku mengenalnya aku sangat kagum dan menyukainya hingga aku putuskan aku akan mengatakan perasaanku.

Kami saling duduk berhadapan, mengobrol ringan masalah kuliah. Hidangan yang kami pesan sudah menghampiri meja. Kami sudah tak sabar ingin menyantapnya. Tapi sebelum itu, kami berdoa terlebih dahulu. Aku begitu terkejut saat dia berdoa dengan menangkupkan kedua tangannya lalu menunduk dalam dalam. Cara berdoa kami berbeda. Sebelumnya aku tak pernah menyangka kalau dia non muslim. Aku kira dia adalah seorang muslim. Setelah selesai berdoa, sepertinya dia menangkap keterkejutanku dari raut wajahku.

“Kenapa kamu terkejut begitu?” Tanyanya. Aku terdiam, tak mampu berkata apa apa.
“Kamu pasti nggak nyangka aku non kan?” Tanya nya.
“Iya Van, kamu non muslim?” Tanyaku.
“Iya aku non muslim” jawabnya. Seketika hatiku seperti hancur berkeping keping. Bayangan bayangan indahku bersamanya perlahan memudar. Bagaimana ini?.
“Aku kira kamu muslim Van..” ucapku dengan nada lemah. Dia tersenyum lalu memakan hidangan yang ada di hadapannya. Aku juga memakan hidangannya, namun dengan lunglai.

Di sela sela acara makan kami, tiba tiba saja dia menayakan ada apa dia mengajakku makan bersama.
“Hmm.. aku pengen kita lebih deket aja Van” ucapku dengan memaksakan tersenyum dihadapannya.
“Gak ada maksud lain?” Tanyanya. Aku terkejut. Bergegas menggeleng perlahan. Dia ikut menggeleng mengerti.
Hatiku sedang berkecamuk, berada dalam dilema.

“Van..” ucapku.
“Hmm..” dia membalas dengan berdekhem karena dia sedang menyantap makanannya. Suasana disekitar kami mendadak hening.
“Aku sebenarnya ngajak kamu kesini aku mau ngomongin sesuatu sama kamu” ucapku. Vania menatapku.
“Ngomongin apa?” Tanya Vania antusias.
“Tapi sepertinya kalaupun kamu mengetahuinya, takkan merubah apapun diantara kita.” Ucapku. Dia menatapku lebih dalam.
“Kamu suka aku?” Tanya nya. Aku sangat terkejut mendengarnya.
“Kok kamu.. tahu” ucapku terbata bata.
Dia tersenyum sangat manis.
“Aku sudah lama tahu dari Leo.” Ucapnya. Aku merutuki Leo dalam hati, temanku yang satu itu terkadang tidak dapat dipegang janjinya untuk tidak mengatakan rahasiaku. Aku sebal padanya.
Wajahku memerah, aku begitu malu.

“Kalau kamu selama ini peka, sebenarnya aku menyukaimu Adnan.. melebihi teman.” Ucapnya. Aku kembali didera rasa terkejut. Ternyata dia mempunyai rasa yang sama padaku.
“Tetapi aku sadar diri, aku dan kamu berbeda. Aku tahu kamu seorang muslim yang taat beribadah, tapi kamu tidak tahu kalau aku non muslim. Pasti kamu baru tahu tadi saat kita berdoa akan makan kan?” Tanyanya, aku perlahan mengangguk. Selama ini obrolan kami tak pernah membahas agama ataupun menyinggung masalah agama. Aku sungguh tidak tahu.

“Selama ini aku berusaha mati matian agar perasaan ini tak tumbuh subur. Aku tersiksa setiap saat. Wajahmu selalu ada dalam anganku, kepribadianmu membuatku luluh dan satu lagi kamu adalah laki laki yang baik Adnan. Aku sadar ada tembok yang amat tebal dan tinggi diantara kita.” Ucapnya, aku melihat ia menangis. Aku menghapus air matanya dengan tisu.
“Terimakasih” ucapnya padaku.
“Fakta ini tidak akan mengubah apapun Van, maaf..” ucapku, Vania perlahan mengangguk. Ia juga menyadari selamanya kami tidak akan pernah bersatu.

Pikiranku berkecamuk, kenapa kami dilahirkan berbeda?. Kenapa perasaan itu tumbuh pada hati kami. Jika kami tidak akan pernah bersatu harusnya tuhan tidak memberikan perasaan indah yang kami sebut cinta. Alangkah benar bait dari sebuah lagu yang pernah aku dengar.

‘Tuhan memang satu
Kita yang tak sama.
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta takkan bisa pergi?’

Aku termenung di dekat jendela kamarku. Selepas pertemuan tadi, kami memutuskan untuk saling menjaga perasaan masing masing agar tak tumbuh membesar lagi. Kami memutuskan untuk berteman, melupakan fakta bahwa kami saling mencintai. Aku selalu mendukungnya mengikuti kegiatan keagamaan, dia juga sangat mendukungku beribadah. Kini kami menjalin hubungan pertemanan yang erat dan positif. Aku sangat kagum padanya, dia memang wanita yang sangat baik. Aku sangat beruntung bisa berteman dengannya meskipun tembok yang amat tinggi dan besar memisahkan rosarionya dan tasbihku.

Tamat

Cerpen Karangan: Seli Oktavia
Blog / Facebook: Selliii Oktav Ya


Cerpen Rosariomu dan Tasbihku merupakan cerita pendek karangan Seli Oktavia, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Helena Yasinta Kartikasari

Bel akhirnya berdering, pelajaran akhirnya usai. Semua siswa bergembira, wajah-wajah lemas berubah menjadi sorak sorai. Ana, teman sebelahku juga demikian. Dia tadi tertidur sepanjang pelajaran namun saat bunyi bel




Oleh: Annisa Shabrina

Pagi buta ini menyiratkan berbagai kata-kata yang tak sanggup aku suratkan untuknya. Bintang juga mengisyaratkan hal yang sama, seperti tak bisa lagi membendung kesedihan dan menampung air mata yang




Oleh: Ayu Citra Milania

“Kalau kalian mencari pasangan itu yang memiliki perbedaan yang besar, jangan yang memiliki persamaan apa pun dengan kalian. Karena ikatan suatu hubungan itu lebih kuat dan tahan lama jika




Oleh: Aria Rostiana

Di dalam mobil, Bilqis hanya asik memakan coklat dari Kelvin. Kelvin pun suka dengan ekspresi wajah Bilqis saat memakan makanan kesukaannya itu “Suka banget coklat ya?” tanya Kelvin “Banget,




Oleh: Nur Cahyati

Senja itu aku terdiam melamun di tepi danau, entah apa yang sedang melanda hati dan pikiranku semuanya menjadi kacau tatkala aku mengingat kembali kejadian yang begitu menyayat hatiku. Bermula



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: