8 tahun cerpenmu

Cerpen Roti Manis (Part 1)

Spread the love

Cerpen Roti Manis (Part 1)





Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 31 July 2022

Rabu malam di bulan Oktober

Kamu pernah gak punya mimpi? Atau saat ini kamu punya suatu mimpi yang pengin banget kamu raih? Kata orang, bermimpilah setinggi langit jadi kalau jatuh pun di antara bintang-bintang. Kalimat bijak itu katanya ampuh memotivasi banyak orang untuk bermimpi. Yaah saat mimpi itu mereka raih, mereka bisa bahagia. Sekali pun mereka gagal, masih banyak kesenangan yang diibaratkan “bintang-bintang” itu yang mereka bisa syukuri.

Namaku Ayumi. Mimpiku sederhana: punya teman, karena realitanya adalah aku tidak mempunyai teman. Di tahun terakhir masa SMA-ku, saat kebanyakan orang lain mulai mengatur rencana bareng teman-temannya sebelum lulus seperti travelling atau setidaknya saling tukar kado, justru aku masih memimpikan dan mencari hadirnya teman di kehidupan sekolahku ini layaknya anak SMA tahun pertama. Kasian banget ya? Sebenarnya, dari awal masuk SMA pun aku sudah berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan teman. Sayang kenyataannya sampai sekarang usahaku belum berhasil. Padahal tahun depan aku akan lulus dari sekolah ini. Jadi, apa aku akan lulus tanpa membawa kenangan dengan setidaknya satu orang teman?

Saat ini aku sedang duduk di teras depan rumahku. Di depanku ada sebuah kolam ikan kecil milik ayah yang di sekelilingnya berbaris bebatuan kecil warna-warni. Dari kolam itu terdengar suara-suara berisik mulai dari gemericik air, ikan-ikan yang berenang kesana kemari seperti menari-nari di dalam air, hingga seekor kodok yang ada di atas batu besar dekat kolam. Tapi sepertinya suara berisik itu hanya sebentar masuk ke telingaku, karena seterusnya yang terdengar hanyalah suara lamunan di kepalaku sendiri. Ya ampun, aku sudah melamun setengah jam lamanya. Aku harus segera tidur agar besok pagi tidak telat berangkat ke sekolah.

Kamis pagi di bulan Oktober

Hari ini aku membawa empat potong roti manis rasa susu untuk makan siang di sekolah. Empat roti? Banyak sekali. Memang, untuk ukuran orang kurus sepertiku makan dua potong roti saja sudah cukup mengenyangkan. Tapi seperti biasa, aku selalu membawa bekal melebihi porsiku, berharap porsi lebih itu bisa aku bagi ke orang yang mau makan siang bersamaku, walaupun sampai sekarang hal itu masih berupa harapan.

Aku mulai memakan roti itu sambil mengamati keadaan kelas di sekitarku. Wah, asyik ya mereka di pojok sana bisa duduk melingkar dan memakan bekalnya bersama. Ada yang membawa nasi dan ayam goreng, nasi goreng, nasi dan sayur sop, ada juga yang hanya membawa kotak bekalnya saja lalu ia menyiduk bekal-bekal yang dibawa orang lainnya.

Dulu, beberapa kali aku pernah mencoba untuk ikut makan bersama di kelasku, tapi begitu aku selesai bicara, “Aku ikutan makan ya,” tatapan mata mereka langsung aneh. Sampai sekarang aku juga masih beberapa kali berusaha menawarkan bekal makananku ke orang-orang di kelasku, tapi orang yang ditawari langsung menggelengkan kepala lalu berkata, “Aku bawa bekel kok,” atau “Aku mau jajan di kantin aja,” kemudian berlalu. Yah, begitulah gestur jika orang lain tidak menginginkanmu.

Bel tiba-tiba berdering nyaring tanda waktu istirahat sudah selesai. Aku memasukkan kembali kotak bekalku dengan sisa dua potong roti yang seperti biasa juga, tidak habis. Lima belas menit berlalu, tapi Bu Lisa, guru bahasa Indonesia, belum juga datang. Ah, aku paling gak suka kalau ada jam kosong seperti ini. Kalau punya teman sih seru-seru aja kayak orang-orang yang di depan kelas sana tuh yang sedang menyanyi diiringi gitar, atau yang di dekat pintu sana tuh yang sedang menjahili temannya dengan menempelkan kertas bertuliskan “Aku cantik, kan?” di punggung temannya. Atau gak perlu jauh-jauh deh, dua orang yang duduk di depanku saja sedang tertawa cekikikan sambil saling bercerita entah tentang apa. Aku? Aku hanya duduk terpaku di bangku sambil menonton keasyikan orang-orang di kelasku yang sedang menikmati jam kosong ini. Habis mau ngapain? Membaca buku? Aku lebih suka membaca di rumah karena suasananya tidak bising seperti di sekolah. Berkeliling sekolah? Aku jenuh. Dari dulu setiap ada jam kosong aku pasti langsung berkeliling sekolah lalu menyapa burung-burung di halaman sekolah. Bermain smartphone lalu berpura-pura sedang chatting atau browsing di internet? Andai hal itu bisa aku lakukan, karena sayangnya sekolahku tidak memperbolehkan siswa-siswinya membawa smartphone ke sekolah.

Di tahun terakhirku ini, aku lebih memilih untuk menghadapi kesendirianku dengan lapang dada. Tahun-tahun sebelumnya, aku sering kali mencoba berbicara kepada orang-orang di sekitarku seperti, “Boleh ikut ngerjain tugas bareng?” , “Boleh liat catetan kamu?”, “Kemarin ada PR apa?”, atau “Mau roti? Aku bawa banyak.” Tapi selama itu juga aku hampir selalu ditolak oleh mereka baik dengan tatapan mata yang aneh atau gelengan kepala. Mereka menanggapiku hanya saat aku menanyakan PR kalau hari kemarinnya aku tidak masuk sekolah. Oleh karena itu, sekarang aku terlalu takut untuk memulai percakapan, lebih tepatnya sih terlalu takut untuk kembali ditolak. Bahkan, terkadang butuh waktu sepuluh sampai lima belas menit bagiku untuk bisa berani lagi berbicara ke orang lain.

Bu Lisa sudah memasuki ruang kelas. Hari ini, kelasku belajar tentang musikalisasi puisi. Suasana kelas begitu hening sampai aku mendengar percapakan orang-orang yang duduk di belakangku,

“Eh nyium bau aneh gitu gak?”
“Bau apaan?”
“Ya bau aneh gitu. Masa gak kecium.”
“Ah paling dari dia. Makanya bawa minyak kayu putih kalau gak mau kecium baunya.”

Aku berpura-pura seolah tidak merasa dibicarakan oleh mereka dengan tetap duduk tegak menghadap ke depan dan berusaha mendengarkan penjelasan Bu Lisa walau mataku terasa pedih sekali menahan tangis. Sampai akhirnya sebelum bel pergantian pelajaran, Bu Lisa meminta kelasku untuk membentuk kelompok yang terdiri dari empat orang. Tiap kelompok akan menyajikan sebuah musikalisasi puisi di depan kelas pada dua minggu berikutnya. Oh no, tugas kelompok lagi. Biasanya saat ada tugas kelompok aku dengan segera memberitahu guruku kalau aku mengerjakannya secara individu saja. Aku sudah lelah ditolak untuk berkelompok dengan siapa pun itu di kelasku.

Sebenarnya para guru sering menawariku bantuan untuk memasukkan namaku ke dalam salah satu kelompok, tapi aku menolaknya. Yah, dari pada kelompok yang menemukan namaku di kelompoknya itu merasa sebal padaku lalu mereka jadi membenciku, lebih baik aku mengerjakannya sendiri bukan? Aku sudah tidak mempunyai teman, jadi aku tidak ingin memiliki musuh juga. Para guru pun memahamiku, jadi saat ada tugas kelompok dan aku minta untuk aku kerjakan secara individu, mereka memberikanku keringanan atas tugas itu. Keringanan itu bisa berupa pengurangan jumlah soal, pengurangan jumlah halaman kalau itu berupa makalah, atau bentuk keringanan lainnya. Tapi masalahnya adalah kali ini tugasnya dalam bentuk pertunjukan. Apa aku akan melakukan dan mempertunjukkan semuanya seorang diri?

Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Facebook: Risya Nurcholis (Facebook)
Saya adalah seorang penulis cerpen dan puisi. Karena berbicara lebih melelahkan dari pada menulis, jadi saya lebih suka bercerita lewat karya tulis.


Cerpen Roti Manis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Risya Nurcholis, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Mima

Hari yang cerah mewarnai suasana di sekolah pagi ini. “Mel, kamu udah ngerjain PR?” “Oh ia aku lupa. Gimana nih.. Pak Toni masuk jam pertama lagi, tolongin aku dong




Oleh: Fitri Asri Nur Fatimah

BRAK! Pintu Lab. IPA terbuka. “Kens! Pelan-pelan atuh bukanya! Jantungan nih orang yang di dalam!” protes Vrein. “Vrein!” seru Rena dan Sisca berbarengan. Rena dan Sisca berlarian dan memeluk




Oleh: Aulia Thasha Zelianti

Aku sekarang telah duduk di kelas 5 sdit, di kelas 5 wahid Hasyim.. kini Aku tidak sekelas dengan sahabatku, jingga. Namun, aku tetap bersemangat untuk sekolah. Hari ini aku




Oleh: Shinta Regita Cahyani

Hari ini hari selesai UN hari ini pula aku dan sahabatku melepas tegang dengan berjalan-jalan ke puncak bersama teman teman kami yang lain. Aku, Renata, Sindy, Chika, Aldy, ROY




Oleh: Nola Dewanti

“Da..ri musim duren hingga musim rambutan tak juga aku dapatkan” ujar Egi, sambil memainkan ukulelenya. “Aggh.. suara lo itu ngeganggu konsen belajar gue tau gak?” ujar Adriyan sambil memegang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: