8 tahun cerpenmu

Cerpen Roti Manis (Part 2)

Spread the love

Cerpen Roti Manis (Part 2)





Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 31 July 2022

Kamis malam di bulan Oktober

Setelah mengerjakan tugas sekolah, aku pergi ke teras depan rumahku dan duduk disitu. Seperti malam sebelumnya, aku duduk terdiam menatap ke arah kolam ikan milik ayahku lalu pikiranku melayang-layang. Tadi setelah Bu Lisa keluar dari kelas, kelasku sangat riuh dengan pembagian kelompok. Aku sih langsung keluar kelas dan pulang karena tidak mungkin ada orang yang mengajakku berkelompok. Tapi saat aku sudah sampai rumah, aku mulai berpikir keras. Bagaimana ini? Aku tidak bisa kabur lagi dari tugas kelompok. Mau tidak mau aku harus menemukan kelompok yang mau menerimaku.

Tapi, apa ada? Tiba-tiba aku teringat dengan satu orang di kelasku, namanya Dini. Di kelas, aku melihatnya sebagai orang yang ceria dan selalu dikelilingi banyak teman. Dia juga salah satu orang yang mau menanggapi pertanyaan “Kemarin ada PR apa?” dariku. Saat upacara bendera hari Senin kemarin, aku terkejut karena ada seorang perempuan bertubuh tinggi dan berwajah bulat dengan bola mata abu-abu yang indah berdiri di sebelahku. Dia adalah Dini. Saat aku secara tidak sengaja memperhatikan wajahnya (hal itu aku lakukan karena saking terkejutnya aku ada orang yang mau berdiri di sampingku), Dini yang merasa diperhatikan spontan menoleh ke arahku dan dia tersenyum! Aku hampir tidak percaya dengan kejadian itu. Aku terus memperhatikannya karena aku takut setelah tersenyum dia akan menyeringai sinis seperti yang biasa aku lihat dari orang-orang yang menatapku dari dekat. Tapi Dini benar-benar hanya tersenyum, karena setelah itu dia segera menghadap ke depan lagi dan mengelap peluh yang menetes di dahinya dengan tangannya.

Aku mulai menimbang-nimbang, “Apa aku coba tanya ke Dini ya?” ujarku. Aku tahu rumah Dini tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku pernah menaiki angkot yang sama dengannya dan dia turun di dua gang sebelum gang rumahku. Ah, aku datangi saja rumahnya. Kalau bicara di kelas aku takut dia malu berbicara denganku. Tapi, kalau ternyata akhirnya yang aku dapat hanya penolakan lagi bagaimana? Ah, gak jadi deh. Masa aku harus sedih lagi karena ditolak?.

Aku mengalihkan pandanganku ke langit yang penuh dengan bintang-bintang. Aku jadi teringat dengan kalimat bijak semalam, “bermimpilah setinggi langit jadi kalau jatuh pun di antara bintang-bintang”. Bermimpilah setinggi langit? Mimpiku sekarang adalah Dini bisa menerimaku di kelompoknya. Kalau jatuh pun di antara bintang-bintang? Jadi kalau pun Dini tidak menerimaku, siapa tahu dia bisa membantuku menemukan kelompok lain. Apa lagi teman dia banyak. Tapi kalau temannya tidak mau menerimaku bagaimana? Ah, aku tidak peduli. Yang penting aku harus mencobanya. Lagi pula ini sudah sangat mendesak. Aku harus segera mendapatkan kelompok untuk tugas musikalisasi puisi ini. Aku harus memberanikan diriku.

Oleh karena itu, sebelum keberanianku ini surut, aku segera bangun dari dudukku dan pergi ke kamar. Kuambil sebuah cardigan putih di lemariku dan memakainya. Sekilas, aku menatap pantulan diriku di cermin depan lemari itu dan berkata, “Ayumi harus berani!” lalu keluar kamar untuk pamit ke ayah dan ibuku dan pergi ke rumah Dini.

Sesampainya di depan gang rumah Dini, aku bingung saat melihat begitu banyak rumah di depanku. Untunglah tak jauh di depanku ada beberapa bapak-bapak yang sedang duduk di salah satu rumah itu.

“Permisi, Pak.” kataku pada bapak-bapak itu, “Maaf mau tanya, rumahnya Dini di sebelah mana ya?”
Kemudian bapak yang memakai baju berwarna oranye itu menjawab sambil menunjukkan tangannya ke suatu arah, “Itu, Dek, yang di depannya ada motor warna biru putih.”
Aku langsung melihat ke arah yang dituju bapak itu lalu berterima kasih disertai anggukan kecil.

Aku pun menuju rumah yang diarahkan oleh bapak tadi. Melihat pintu rumah Dini yang sedikit terbuka, aku ragu. Apa benar yang kulakukan ini? Tapi aku segera menyingkirkan keraguanku itu. Perlahan kakiku melangkah ke depan pintu rumahnya.

“Permisi.” sahutku berkali-kali dari depan pintu rumah Dini. Tak lama kemudian, Dini terlihat berjalan menuju pintu. Saat matanya melihatku, aku menangkap keterkejutan dan keheranan dari gesturnya.
Sejenak ia terdiam, lalu berkata, “Ayu. Ada apa?”

Jantungku berdegup cepat sekali. Aku takut. Aku mencoba menyusun kembali kata-kata yang telah aku rangkai selama di jalan tadi, namun yang keluar justru,
“Din, tolong aku. Tolong, aku pengin masuk kelompok kamu buat musikalisasi puisi.”
Ah, tidak! Bukan itu yang ingin aku katakan pada Dini.

“Din, maaf aku ganggu malem-malem begini. Tadi siang kan ada tugas musikalisasi puisi, dan aku belum dapet kelompok. Biasanya kalau ada tugas kelompok aku kerjain sendiri tapi kayaknya tugas kali ini aku gak bisa kerjain sendiri. Boleh gak aku sekelompok sama kamu? Tolong ya, Dini.” Seperti itu lah kata-kata yang sudah aku rangkai sebaik mungkin selama di jalan tadi. Tapi mengapa yang keluar dari mulutku berbeda? Aku masih terpaku dengan kata-kata yang sudah aku ucapkan pada Dini. Dini juga tampaknya tidak bisa langsung menanggapiku dan masih berdiri terdiam di sana.

Setelah beberapa lama kami berdua terdiam dalam lamunan masing-masing, Dini pun bersuara, “Kelompok aku sih emang kurang dua orang. Baru ada aku sama Gea. Terus aku mau ngajak Lena besok. Tapi kamu…” ada jeda di ucapannya, “Yaudah deh boleh. Soalnya Sabtu besok mau langsung latihan, jadi harus cepet lengkap orangnya.”
AJAIB! Dini menerimaku. Mendengar hal itu, aku tidak bisa lagi menahan senyumku. Aku senang sekali.
“Makasih ya, Din. Aku mau ngerjain apa pun itu di kelompok kamu.”
Dini yang sebelumnya hanya berdiri di ambang pintu kini mulai berjalan mendekatiku. “Iya. Sabtu kerja kelompok di rumah aku jam 3 sore.”
“Iya aku dateng. Makasih banyak ya, Din. Aku pulang dulu ya.” kataku sekaligus pamit ke Dini.

Aku berjalan pulang menuju rumahku. Sekali aku menoleh ke rumah Dini lalu senyum-senyum sendiri. Aku tidak menyangka Dini akan menerimaku di kelompoknya. Ini suatu keajaiban. Aku tidak peduli apa alasannya sampai Dini mau. Yang penting aku sudah berhasil untuk berani berbicara padanya dan ia menerimaku! Ah, malam ini melegakan sekali.

Sesampainya di rumah, kulepas cardiganku dan berjalan ke dapur untuk meminum obatku. Aku masih tidak bisa berhenti tersenyum. Aku sangat senang karena usaha kerasku berhasil.

Sabtu pagi di bulan Oktober

Aku sedang berada di dapur. Di hadapanku sudah berjejer bahan dan peralatan untuk membuat kue. Ya, pagi ini aku akan membuat kue coklat untuk dibawa saat kerja kelompok sore nanti. Kemarin ibuku yang berbelanja semua bahan kue coklat ini di pasar setelah aku beri tahu kalau besok paginya aku akan membuat kue untuk kerja kelompok di sore hari. Ibu sangat antusias mengetahui kalau aku akan pergi kerja kelompok dan langsung membelikanku bahan-bahan kue ini. Bahkan tadinya ibuku juga ingin langsung membuat kuenya, tapi aku memintanya agar aku saja yang membuat kue itu. Semalam aku juga sudah mempelajari beberapa video tutorial membuat kue coklat. Jadi dengan modal video tutorial dan semua bahan ini, aku berharap bisa membuat kue coklat yang enak untuk kelompokku. Tapi ternyata membuat kue itu bukan hal yang mudah dikerjakan.

Hari sudah siang dan sudah tiga kali juga kue hasil pangganganku gagal. Suara berisik yang aku hasilkan di dapur sejak pagi mengundang ibuku untuk datang. Melihat bajuku yang sudah hampir penuh dengan noda tepung, coklat, dan basah di sana sini, ibu menawarkan bantuan padaku. Spontan, aku memeluknya dan mengiyakan tawarannya. Kami pun membuat kue coklat itu bersama dan akhirnya menghasilkan kue coklat yang manis dan tidak bantat, tidak seperti hasil pangganganku sebelumnya.

“Tuh kan, kalau dikerjain bareng-bareng bisa bagus hasilnya. Yaudah, semoga mereka pada suka ya.” kata ibuku sambil membantuku mencuci peralatan membuat kue.
“Iya, Bu. Makasih ya.” jawabku yang masih memandang kue coklat itu dengan senyuman.

Aku berjalan menuju rumah Dini dengan menggendong tas ransel kecil berwarna hijau dan menenteng bungkusan kue coklat yang aku buat bersama ibuku. Sampai di rumah Dini, ternyata di sana sudah ada Gea dan Lena yang sedang duduk di atas karpet di teras depan rumah Dini.

“Eh, Ayu. Duduk di karpet aja. Aku mau ambil minum dulu.” Dini menyuruhku untuk duduk bersama Gea dan Lena sementara dia masuk kembali ke dalam rumah.

Gea dan Lena tampaknya tidak begitu menghiraukan kedatanganku karena sedari tadi mereka asyik bermain dengan smart phonenya. Aku pun duduk agak jauh dari mereka berdua dan menaruh bungkusan kue coklatku di depanku. Aduh, kok aku jadi ragu begini? Apa mereka benar-benar akan menyukai kue coklat ini? Jangankan menyukai, apa mereka mau menerima kue coklat ini? Sepertinya aku gak jadi menawarkan kue coklatnya. Aku takut mereka tidak mau dan akhirnya kue coklat ini aku bawa pulang kembali dengan utuh. Tapi aku sudah membuatnya susah payah sejak pagi, bahkan ibu juga membantuku. Dini datang kembali membawa nampan berisi empat gelas sirup berwarna merah dan dua toples kue kering. Aku harus berani! Kemarin saja aku berani bicara ke Dini, sekarang aku juga harus berani menawarkan kue ini ke mereka.

“Aku bawa kue coklat. Mau gak?” kataku akhirnya sambil mengangkat bungkusan kue coklatku.

Gea dan Lena berhenti menatap layar smartphonenya kemudian menoleh ke arahku. Dini menaruh nampan itu di tengah-tengah kami berempat kemudian duduk. Mereka bertiga pun saling berpandangan dan terlihat ragu. Apa mereka tidak mau menerima kue coklat ini? Sepertinya mereka tidak akan mau menerimanya kalau mereka tahu aku yang membuat kue ini. Oh iya, aku bilang saja kalau kue ini aku beli di toko kue. Jadi kan bukan aku yang membuatnya.

“Ini aku beli tadi di toko dekat pasar.” Aku pun terpaksa berbohong sambil berharap mereka akan mau menerima kuenya.
“Boleh deh.” akhirnya Dini bersuara.

Aku membuka bungkusan itu dan menawarkan kue coklatnya pada mereka bertiga. Dini yang pertama kali mengambil potongan kue coklat itu lalu memakannya.

“Enak.” ujarnya.

Gea dan Lena pun ikut mengambil potongan kue setelah mendengar ucapan Dini. Lena mengangguk seakan menyetujui ucapan Dini. Pada akhirnya, mereka bertiga menikmati kue coklat itu, bahkan dalam waktu 15 menit saja kue coklat itu hanya menyisakan empat potong saja. Aku tidak ikut memakan kue coklatnya. Aku hanya ingin menatap pemandangan yang sangat asing bagiku ini. Asing namun sangat menyenangkan. Sekali lagi, ternyata aku berhasil meraih potongan impianku.

Setelah mereka makan, kami mulai mendiskusikan tugas musikalisasi puisi dari Bu Lisa. Sore itu, kami memutuskan untuk memilih puisi W.S. Rendra berjudul “Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu” yang akan dimusikalisasi secara acapella karena Dini dan Lena anggota grup acapella di sekolahku. Dari empat anggota kelompok, Gea akan mendeklamasikan puisi di awal penampilan, lalu aku yang akan memusikalisasikan puisi itu bersama Dini dan Lena yang akan beracapella mengiringiku. Aku tidak keberatan dengan pembagian tugas itu karena aku menyukai puisi W.S. Rendra itu. Membaca puisi “Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu” rasanya aku bisa lebih memahami makna yang disampaikan W.S. Rendra. Kami juga memutuskan akan berlatih tiga kali dalam seminggu sampai penampilan musikalisasi puisi ini dua minggu lagi atau pada pertengahan bulan November.

Menjelang magrib, aku pulang dari rumah Dini dengan perasaan senang, sangat senang. Aku baru saja mendapatkan pengalaman yang tak pernah kusangka. Selama di rumah Dini tadi, aku merasakan bagaimana menyenangkannya bisa kerja kelompok bersama orang lain walau pun aku lebih banyak diam dan menyetujui saja usul mereka. Dan yang utama, kue coklatku diterima walau aku terpaksa berbohong pada mereka. Tapi aku senang sekali karena mereka tampak sangat menyukai kue coklat itu, terbukti dengan ringannya bungkusan kue yang sedang aku tenteng ini. Sepanjang perjalanan menuju rumahku, hatiku diselimuti perasaan senang dan nyaman. Ah, semoga besok akan ada kesenangan lainnya.

Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Facebook: Risya Nurcholis (Facebook)
Saya adalah seorang penulis cerpen dan puisi. Karena berbicara lebih melelahkan dari pada menulis, jadi saya lebih suka bercerita lewat karya tulis.


Cerpen Roti Manis (Part 2) merupakan cerita pendek karangan Risya Nurcholis, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Shaomi Athaya Sugiharto

“Bin, gimana?” tanyaku masih dengan menopang dagu. Sabrina meneguk es jeruknya seraya mencubit pipiku. “Berisik amat dari tadi. Ini udah jam lima, tau. Diem aja, sih, dari tadi. Jadi




Oleh: Zakia Salsabila

Hujan turun dengan derasnya, angin kencang berhasil membuat ranting-ranting pohon mengikuti alunan arah angin yang membawanya. Aku memasukan tangan ke dalam almamater, menggigit bibir, hembusan angin dan sedikit percikan




Oleh: Siti Maulidia Annisa Amirwan

Namaku Ayudia Nurul Lestanti. Lebih akrab dipanggil Ayu. Aku duduk di bangku kelas 7, di SMP Nusa Bakti. Aku mempunyai 5 orang sahabat yang sangat aku sayang yaitu Diah,




Oleh: Pratiwi Nur Zamzani

“Sial!” gumam Felly menghardik dirinya sendiri dengan mengacak rambutnya. “Lo kenapa, Fel? Bangun-bangun udah marah-marah gitu. Habis tawuran sama orang di mimpi lo?” tanya Billy dengan tetap memainkan bazz-nya




Oleh: Nadzifatussya’diyah

Di sudut sebuah gedung tua itu, tersusun rapi bangku-bangku panjang ditemani deretan kursi kayu bercat kusam. Bukan karena kusam dimakan usia. Melainkan, model bangunannya yang dirancang khusus menyerupai bangunan-bangunan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: