8 tahun cerpenmu

Cerpen Roti Manis (Part 3)

Spread the love

Cerpen Roti Manis (Part 3)





Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 31 July 2022

Rabu malam di bulan November

Kali ini aku pulang ke rumah cukup malam, pukul setengah 9 sampai di rumah. Itu karena ini merupakan hari terakhir aku dan kelompokku latihan musikalisasi puisi sebelum tampil pada esok harinya. Aku bersyukur kelompokku sudah makin mantap dalam berlatih. Dini, Gea dan Lena juga sempat memuji suaraku yang semakin terdengar jelas dan lantang karena di awal-awal latihan suaraku terdengar sangat kecil. Selama kami berlatih, aku pun selalu membawa kue coklat untuk dimakan Dini, Gea, dan Lena. Mereka seakan tidak bosan memakan kue coklat itu dan aku sangat senang. Yah, walau pun aku juga harus berbohong terus dengan mengatakan kue coklat itu aku beli di toko.

Aku sangat menikmati proses latihan musikalisasi puisi ini. Banyak hal yang membuatku senang, mulai dari ikut terlibat dalam kerja kelompok, melihat Dini, Gea, dan Lena memakan kue coklatku dengan lahap, hingga menonton perlombaan makan kue coklat antara Dini dan Gea. Perlahan, Gea dan Lena pun mulai mau berbicara denganku walau hanya sekedar “Eh, Ayu dateng.”, “Kerasin suaranya lagi, Yu.”, atau “Pulang duluan ya, Yu.” Tetap saja itu suatu progres, bukan? Oh no, ini sudah pukul 10 malam. Aku harus segera tidur agar besok aku bisa fit untuk berangkat ke sekolah dan tampil musikalisasi puisi. Aku pun segera mematikan lampu kamarku untuk tidur.

Kamis siang di bulan November

Bu Lisa masuk ke ruang kelasku bersama satu asistennya yang mengalungi sebuah kamera dan membawa sebuah tripod. Kelasku yang tadinya ramai oleh suara orang-orang yang sedang berlatih kini mulai hening.

“Gimana? Udah siap kan buat tampil musikalisasi puisi?” tanya Bu Lisa saat beliau sudah duduk di kursinya.
“Sudah, Bu.” jawab kelasku.
“Oke bagus. Ibu mau ngasih tau dulu, jadi kalian tampilnya Ibu rekam ya. Nanti penampilan terbaik dari seluruh kelas 12 akan Ibu ajukan buat dikirim ke panitia lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi.”
Mendengar perkataan Bu Lisa, sontak kelasku protes. “Yah, Bu. Kok baru bilang sekarang? Mana tingkatnya ketinggian lagi, Bu.” sahut seorang siswa.
“Yaa kan coba-coba. Tinggal ngirim kok. Siapa tahu beruntung, iya kan?” bela Bu Lisa.

Akhirnya mau tidak mau kelas kami menerima saja. Setelah kamera dan tripod terpasang di tengah ruang kelas, Bu Lisa langsung memulai penilaian. Kelompokku mendapat urutan tampil ketiga. Waktu semakin dekat menuju penampilan kelompokku dan aku pun semakin merasa gugup. Aku takut suaraku akan terdengar sangat kecil seperti saat awal latihan karena saking gugupnya tampil di depan orang lain.

“Kelompok tiga.” seru Bu Lisa, mengagetkanku yang sedang melamun.

Kulihat Dini, Gea, dan Lena dengan percaya dirinya sudah berjalan ke depan kelas. Aku pun segera mengekor mereka.

“Kami akan memusikalisasi puisi W.S. Rendra berjudul ‘Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu’ ” Gea membuka penampilan kami.

Orang-orang di kelas yang ada di hadapanku saat ini tampak heran melihat aku ada di antara kelompokku. Sebagian dari mereka berbisik-bisik dengan mata yang tampak sinis melihat ke arahku. Aku mencoba menguatkan mental dan hatiku. Aku harus tampil sebaik yang aku bisa di hadapan orang-orang ini. Setelah Gea mendeklamasikan puisi, Dini dan Lena mulai beracapella. Kini saatnya aku mengeluarkan seluruh keberanianku. Aku mulai memusikalisasikan puisi itu bersama Dini dan Lena.

Awalnya semua terasa begitu lancar karena kami dapat menghasilkan harmoni yang bagus dalam musikalisasi ini. Saat kami akan masuk ke bait kedua dari puisi, aku merasa emosiku semakin meningkat. Aku tahu makna terdalam dari bait itu. Aku mengerti. Rasanya ingin sekali aku luapkan juga emosi dan perasaanku dalam puisi itu. Tanpa kusadari, hal itu pun terjadi. Kami sudah tidak lagi berharmoni. Dini dan Lena yang sangat terkejut pun sekuat tenaga mengimbangi alur pembacaanku. Aku terus melanjutkan apa yang kuingin sampaikan hingga saat bait terakhir puisi itu selesai dimusikalisasikan dengan gayaku, aku pun terjatuh lemas.

Perlahan kudengar suara tepuk tangan dari hadapanku, awalnya terdengar kecil namun lama-kelamaan tepuk tangan itu terdengar ramai dan meriah. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat sumber keriuhan itu. Ternyata, seisi kelas bertepuk tangan ke kelompokku yang baru saja selesai tampil. Kulihat Bu Lisa sampai mengusap matanya yang mengeluarkan air mata. Apa ini? Apa aku benar-benar melakukan apa yang aku pikirkan saat memusikalisasikan puisi ini? Segera aku menoleh ke arah kelompokku. Disana Gea, Dini, dan Lena hanya berdiri terdiam tanpa ekspresi. Lena menoleh dan menatapku tajam. Wajahnya mengerut tanda ada hal yang tidak disukainya saat melihatku. Kami berempat pun mengakhiri penampilan kami dengan salam lalu kembali ke tempat duduk bersama murid lainnya.

Lena menarik tanganku dan membawaku keluar kelas saat penilaian musikalisasi di kelasku sudah selesai. Di belakangku, Gea dan Dini berjalan mengikuti kemana Lena akan membawaku. Setelah kami sampai di belakang ruang kelas, Lena langsung membentakku,

“Maksud lo apa hah improvisasi kayak tadi? Ngerasa paling hebat? Ngerasa paling oke? IYA??”
“Tadi Lena mati-matian ngikutin alur kamu, Yu. Kamu kok tiba-tiba ngubah alur gitu sih? Emang gak liat Dini sama Lena kelimpungan ngikutin kamu?” Gea pun angkat bicara.
Aku tahu mereka akan marah karena improvisasiku di penampilan tadi. Aku pun berniat untuk meminta maaf di waktu istirahat ini, tapi aku kurang cepat dari Lena yang segera membawaku kesini setelah penilaian selesai. “Maaf semuanya. Aku tadi kelepasan.” Aku hanya bisa mengatakan itu.
“Semau lo banget ya. Masih untung lo dapet kelompok eh malah ngancurin penampilan. Mau lo apa sih, hah?” Tatapan Lena sinis sekali saat berbicara kepadaku. Aku jadi tak bisa menanggapi perkataannya.
“Muak gue sama lo. Yuk tinggalin, biar dia mikir!” ujar Lena yang langsung menggamit lengan Gea dan Dini lalu meninggalkanku sendiri.

Setelah mereka pergi, aku pun pergi dari tempat itu menuju belakang musholla dan duduk disitu. Aku merasa ada bagian di dalam diriku yang meledak. Aku merasa ada bagian di dalam diriku yang hancur. Aku merasa ada bagian di dalam diriku yang luluh lantak. Apa yang selama ini aku sangat takutkan akhirnya terjadi. Aku yang tidak memiliki seorang pun teman, kini memiliki tiga orang musuh. Aku yang tidak disukai oleh satu orang pun, kini dibenci oleh tiga orang sekaligus. Tangisku pun akhirnya pecah. Aku menyalahkan tindakan bodohku yang telah menyebabkan semua ini. Semua yang Lena dan Gea katakan itu benar. Aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Hanya karena aku ingin meluapkan apa yang kurasakan, aku membiarkan Lena dan Dini berjuang mati-matian mengikuti apa yang kumau.

Aku sangat menyesal sampai tidak berani untuk kembali ke kelas. Kuhabiskan sisa waktu sekolahku hari itu di belakang musholla sambil menyesali tindakan bodohku. Aku tidak peduli jika ada yang mencariku karena aku tidak ada di ruang kelas. Lagi pula, siapa juga yang akan peduli? Aku hanya Ayumi, siswi kelas 12 yang tidak memiliki seorang pun teman dan kini memiliki tiga orang musuh yang membenciku! Aku duduk menghadap pohon-pohon pisang yang sudang ditebang. Batang pohonnya pun sudah kering dan mati, kemungkinan besar buahnya sudah dipetik dahulu sebelum pohonnya ditebang. Ya, pohon pisang tidak akan mati sebelum dia berbuah dan bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya. Ingin rasanya hidupku bisa seperti pohon pisang itu. Tapi setelah semua yang terjadi hari ini, apa aku bisa?

Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Facebook: Risya Nurcholis (Facebook)
Saya adalah seorang penulis cerpen dan puisi. Karena berbicara lebih melelahkan dari pada menulis, jadi saya lebih suka bercerita lewat karya tulis.


Cerpen Roti Manis (Part 3) merupakan cerita pendek karangan Risya Nurcholis, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Nadhira Putri

“Kenapa kamu gak percaya sama aku? Aku sama Dewi itu nggak ada hubungan spesial Cha!!” Kata-kata Ravi semalam masih terpikirkan olehku. Aku nggak percaya dia jalan sama Dewi. Kapten




Oleh: Akane Amagawa

Hai aku Magdalena. Aku senang sekali bisa bersahabat dengan Euniqe, Edenlya, Maria, Zefanya, Vorenza, dan Agnesia. Mereka sangat baik padaku. Aku bersahabat dengan mereka sejak kelas 1 SD. Saat




Oleh: Lany Pono

Ini kisah kami bedua, aku dan Aurel kembaranku, dan kembaranku Carol dan aku. Bingung kan? Kami berdua akan menceritakan kisah kami secara berbalas-balasan. Aku si kakak bernama Carol, dan




Oleh: Marwan Syah

Sudah seminggu aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang berada di daerah kota Bandung. Aku dan keluargaku baru pindah di kompleks ini. Sekarang aku bersekolah di SDN. 05 BANDUNG.




Oleh: Ikke Nur Vita Sari

18 September 2014, Aku hanya bisa terdiam, melihat kelakuannya yang tidak seperti dulu, hal yang paling tidak aku suka adalah menjadi dan memiliki mantan. Kisah indah dalam sebuah hubungan,



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: