8 tahun cerpenmu

Cerpen Roti Manis (Part 4)

Spread the love

Cerpen Roti Manis (Part 4)





Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 31 July 2022

Jumat pagi di bulan Desember

Aku bangun pagi dengan tubuh yang terasa sangat lelah. Aku berjalan ke depan meja belajarku. Di sana terdapat kalender yang menunjukkan padaku bahwa ini sudah memasuki bulan Desember. Setelah solat subuh, aku tidak langsung mandi pagi lalu menyetrika baju seragam sekolahku seperti biasa. Aku kembali ke kamarku dan duduk di atas kasurku. Sudah lebih dari dua minggu aku tidak bersekolah karena kondisi kesehatanku menurun sejak hari di waktu aku tertampar oleh perkataan Lena usai penampilan musikalisasi puisi.

Hari itu, aku pulang ke rumah larut malam sekitar pukul 10 malam. Seingatku, setelah sekolah berakhir aku mengambil tasku di kelas lalu kembali ke belakang musholla dan merenung di sana sampai malam. Untungnya tidak ada orang yang mengetahui keberadaanku di sana. Hanya saja saat aku keluar melewati gerbang sekolah, satpam sekolahku menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin dia mengira aku ini hantu sekolah. Yah, mana ada anak di sekolahku yang baru keluar dari sekolah semalam itu.

Keesokan paginya, aku bangun dengan wajah pucat dan tubuh yang basah oleh keringat dingin. Aku pun jatuh sakit. Begitulah aku jika mengalami tekanan batin yang sangat besar. Selama dua minggu lebih ini pun aku hanya beristirahat di rumah dan sesekali mengerjakan beberapa tugas ringan yang guruku berikan untuk menjaga nilai pelajaranku tetap aman selama sakit.

Aku masih sering menangis di malam hari jika mengingat kejadian terakhirku di sekolah. Aku masih terus memikirkannya. Aku masih terus menyesalinya. Tapi malam ini aku bisa sedikit tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Dini.

“Yu, gimana kabarnya? Tadi Bu Lisa ke kelas kita terus ngumumin kalo video musikalisasi puisi kelompok kita menang juara 2 di tingkat provinsi yang Bu Lisa waktu itu bilang. Sekelas pada seneng banget. Makasih banget ya, Yu. Ini kan karena improvisasi dari kamu. Besok aku, Gea, sama Lena mau main ke rumah kamu. Kita sekalian mau minta maaf sama kamu karena udah marah-marah sama kamu waktu itu. See you soon.” Seperti itulah pesan singkat yang aku baca dari Dini.

Benarkah ini? Benarkah improvisasi egoisku kemarin justru mengantarkan kelompokku memenangi lomba itu? Bibirku menyunggingkan senyum kecil. Benarkah akhirnya aku bisa bermanfaat untuk orang lain? “Iya, Din. Aku juga seneng. Makasih juga. Ini juga karena permainan acapella kamu sama Lena yang hebat banget bisa ngikutin alurku. Aku tunggu besok ya.” kataku menatap pesan singkat Dini, berharap Dini dapat mendengarkanku.

Malam itu aku tidak menangis di pojok kamar sambil memeluk bantalku seperti malam-malam sebelumnya selama aku sakit. Malam ini aku tidur telentang di kasurku dan tersenyum penuh kedamaian, “Terima kasih Allah.” ujarku sebelum menutup mata untuk tidur.

Sabtu pagi di bulan Desember

Sesuai dengan janjinya, Dini, Lena dan Gea datang ke rumahku. Tak kusangka, ternyata mereka tidak hanya datang bertiga, tapi datang bersama semua orang dari kelasku. Aku sangat senang mereka semua datang karena ini pertama kalinya rumahku menjadi tuan rumah acara perkumpulan kelas. Ibuku menyuguhkan roti manis rasa susu yang biasa aku bawa sebagai bekal ke sekolah kepada mereka. Mereka pun mencicipi roti itu dan berkata bahwa roti itu enak. Aku pun iseng berujar pada mereka,
“Kalau gak enak ya gak bakalan aku tawarin di kelas.”

Selama kelasku berkunjung ke rumahku, mereka banyak membicarakan soal video kelompokku yang ternyata memenangkan lomba musikalisasi puisi setelah video itu dikirim oleh Bu Lisa. Katanya, mereka senang sekali dan tidak menyangka pemenangnya datang dari kelas ini. Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan celotehan mereka yang tampak sangat senang itu sampai akhirnya ada salah satu dari mereka yang berkata,

“Makasih banyak ya, Ayu. Kehadiran lo ngasih berkah banget buat kelas kita. Kita semua bener-bener seneng banget. Maaf ya kalau kita sering nyuekin lo dan bertingkah gak mau berbaur sama lo. Kita salah, Yu. Maafin kita.” Lena lah yang mengatakannya.
“Iya, aku udah maafin.” kataku dengan senyum. Tak lama, bibirku yang sedang tersenyum itu bergetar dan aku pun menangis. Kami semua pun berpelukan dan menangis dalam pelukan itu. Kami semua tenggelam dalam emosi terdalam yang tidak bisa diutarakan dengan sepatah kata pun. Kami semua membiarkan seluruh rasa dan emosi itu menguar lewat pelukan pertemanan yang sangat panjang ini.

Pada akhirnya, aku bisa menjadi sebuah roti manis yang telah berhasil melewati ujian-ujian berat dalam hidupku. Sebuah roti manis berawal dari bahan-bahan seperti tepung, gula, mentega, ragi, dan bahan lainnya. Kemudian bahan-bahan itu diproses dengan cara diaduk, diputar, dibanting, digiling, dan dipanggang. Dari semua bahan yang telah dicampurkan, hanya mereka yang tetap bertahan mulai dari proses pengadukan hingga pemanggangan yang layak disajikan sebagai roti manis yang menawan.

Sejak lama, aku sudah biasa diperlakukan kurang baik oleh orang-orang sebayaku yang selalu memandangku sinis. Aku sudah biasa dikucilkan dan tidak dianggap ada oleh mereka. Namun kini setelah semua ujian yang kuhadapi, aku keluar dari “panggangan” itu dengan menawan karena akhirnya orang-orang di sekitarku mengakui keberadaanku. Pada akhirnya juga, hidupku bisa menjadi seperti pohon pisang. Ingat, kan? Pohon pisang tidak akan mati sebelum dia berbuah dan bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya. Dan kini aku pun akhirnya bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitarku dengan keberhasilan video musikalisasi puisi itu.

Kami pun melepaskan pelukan penuh keharuan itu.

“Lega ya rasanya.” ujar Dini yang masih berlinang air mata.
“Pokoknya mulai sekarang kita semua harus kompak ya. Kita harus bareng-bareng terus dan berteman sama semuanya. Iya kan, Ayu? Kita semua teman.”

Mendengar ucapan Dini, aku mengangguk dan tersenyum penuh kebahagiaan. Aku bahagia karena akhirnya aku memiliki teman, tidak hanya satu, tapi banyak sekali. Semua orang di kelasku ingin berteman denganku dan aku sangat bahagia dengan hal itu. Terima kasih Allah, terima kasih teman-temanku. Aku merasa amat sangat bahagia, walau pun kini dua bagian terpenting dari diriku telah terpisah.

Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu
WS Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak napas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta pada-Mu

Cerpen Karangan: Risya Nurcholis
Facebook: Risya Nurcholis (Facebook)
Saya adalah seorang penulis cerpen dan puisi. Karena berbicara lebih melelahkan dari pada menulis, jadi saya lebih suka bercerita lewat karya tulis.


Cerpen Roti Manis (Part 4) merupakan cerita pendek karangan Risya Nurcholis, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Rizzack

Angin berhembus menerpa wajah Ara yang terlihat sendu. Kalau kalian lihat mata Ara sembab itu karena Ara habis nangis. Kenapa Ara nangis? sepertinya pertanyaan itu gak usah Ara jawab




Oleh: M. Irvan Tanjung

Akhirnya, bukan binatang lajang… Jatuh cinta pada pandangan pertama itu memamang indah, apalagi kalau kita bener-bener bisa mendapatkan tuh cintanya. Mungkin ini yang gue rasaain saat untuk pertama kalinya




Oleh: R. Eka Putri

“Lili.. haha… kenapa nggak ali aja panggilannya atau Lian gitu. Masa Lili? Kaya nama cewek! Pantes deh kalau waktu itu gue ngira dia bukan cowok. Kira-kira orangnya kaya apa




Oleh: Triyana Aidayanthi

Awal pertama jumpa, Lyra di kenalin sama Rio lewat Shanti. Shanti adalah “Mak Comblang” paling top di kelas X. Kien’nya bertebaran di mana-mana, mulai dari satu bangku ke bangku




Oleh: Hanifah Nk

Sore itu Lita bernyanyi sambil menyirami bunga-bunga di depan halaman rumahnya. Ia terlihat begitu senang sore itu ya karena hari itu adalah hari Ulang tahunnya. Malamnya ia akan mendapat



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: