8 tahun cerpenmu

Cerpen Santri, Kakek Tua, dan Harimau

Spread the love

Cerpen Santri, Kakek Tua, dan Harimau





Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat

Lolos moderasi pada: 31 May 2022

Angin sepoi-sepoi dengan ciri khas suara semilirnya membawa beberapa daun kering yang jatuh dari pohonnya, senja dengan jingganya yang belum sepenuhnya menampakkan dirinya dengan warna sempurna, puluhan burung terbang bebas berkelompok di atas awan, suara serangga saling menyahut satu dengan lainnya, semuanya saling bekerja bersama untuk melengkapi keindahan sore menjelang matahari terbenam.

Di pertigaan jalan, terlihat seorang santri pulang belajar dari pondok pesantren dengan menaiki kereta kuda milik seorang lelaki tua. Awalnya santri hanya diam dan fokus membuka beberapa buku dan kitab pelajaran selama mondok, karena merasa bosan, maka santri tersebut mengajak sang kakek untuk berdialog.

Santri mulai bertanya pada kakek, “Apakah kakek punya anak?”
“Sudah, satu laki-laki.” Jawab kakek sambil dengan tenang fokus mengendarai kereta kudanya
“Di mana dia sekarang? ngaji atau Sekolah?” santri itu bertanya lagi
“Dia berjualan ikan hasil tangkapannya di pasar,” jawab lelaki tua itu di tengah fokusnya menunggangi dan mengendalikan kudanya “Anak kakek tidak sekolah dan ngaji. Sekolahnya hanya sampai kelas empat SD, kami tidak mampu, kami tidak punya uang, “lanjutnya
“Waaah, sayang sekali,” kata siswa itu.

“Apakah kakek mengerti ilmu syariat?” santri bertanya kembali
“Tidak nak, kakek hanya bisa wudhu dan shalat, mungkin juga wudhu dan shalat kakek banyak salahnya,” jawab kakek singkat
“Wah, sayang sekali, Kakek tidak mengerti syariat. Kakek telah kehilangan setengah dari kehidupan kakek,” jawab santri dengan nada sinis
“Lalu apakah kakek mengerti tasawuf?” Santri bertanya kembali seperti sedang mengintrogasi
“waaah apa itu tasawuf? tidak mengerti sama sekali, setiap hari kakek hanya menggunakan kereta kuda kecil ini untuk mencari kayu di hutan dan kemudian menjualnya ke pasar untuk makanan sehari-hari keluarga di rumah. Bahkan jika beruntung, kakek menggunakan kereta kuda sebagai alat transportasi bagi orang yang membutuhkannya” jawab sang kakek
Sang santri menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aduh, sayang sekali kakek pun tidak mengerti tasawuf, itu artinya kakek telah kehilangan lagi separuh dari kehidupan kakek”

Tak terasa hari mulai gelap, suara adzan mulai terdengar dari beberapa surau. Di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang besar dan sangat keras. Memang benar di depan ada seekor harimau muda, suasananya tegang mencekam. Santri tampak gemetar dan merasa takut serta raut kekhawatiran di wajahnya.

Segera kakek bertanya, “Nak, bisakah kamu memanjat pohon atau tahu cara mengusir harimau?”
Sang santri dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada cemas penuh ketakutan, “Saya tidak bisa memanjat pohon, apalagi mengusir harimau. Setiap hari saya hanya membaca dan berteman dengan kitab dan buku, cepat bantu saya.”
“Kamu tidak bisa memanjat pohon, apalagi mengusir harimau, nak. Apalah arti hidupmu. Arti dari apa yang kamu dapatkan dari kitab dan buku. Kamu akan kehilangan bukan hanya setengah melainkan seluruh dari hidupmu sekarang juga.”

Pesan moral: Pepatah mengatakan melihat ke atas sebagai motivasi, bukan untuk minder, melihat ke bawah untuk pandai bersyukur, bukan untuk sombong.

Cerpen Karangan: Wahyu Nugraha

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 31 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Santri, Kakek Tua, dan Harimau merupakan cerita pendek karangan Wahyu Nugraha, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Anniesha Imarchama

Misool, Agustus 2006 Suara deburan ombak memecah kesunyian malam ini. suara patroli para tentara itu, bersahut-sahutan di radio. Adri malam ini ditugaskan hanya untuk menjaga pos, tidak sampai berpatroli




Oleh: Yoga P. Wijaya

“Untuk dunia engkau mungkin hanya seseorang. Tapi bagi seseorang engkau bisa saja dunianya.” Dr. Seuss Anda bertanya mengenai sahabat terbaik? Ya aku saat ini memiliki banyak sahabat. Bahkan wanita




Oleh: Bahrul Ulum

Jalanan becek pagi ini, bekas hujan semalam. Kampung sempit yang kumuh ini semakin kumuh dengan hadirnya genangan air di jalanan kampung. Aku berjalan dengan berjingkat-jingkat untuk menghindari genangan air




Oleh: Angga Syahputra

Di suatu siang yang terik aku sedang memesan mie instant dan segelas minuman pasangannya yaitu es teh dingin. Iya, aku sekarang lagi di kantin kampus tempat dimana aku dan




Oleh: Lasmi Sopia Sari

Suara gerobak kayu tuaku terdengar sangat fasih, mengukir setiap jejak di tanah pemakaman, aku menatap langit yang mulai gelap, nampaknya hujan akan turun. Aku menatap batu nisan yang bertuliskan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: