8 tahun cerpenmu

Cerpen Sebuah Impian

Spread the love

Cerpen Sebuah Impian





Cerpen Karangan: Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pendidikan

Lolos moderasi pada: 12 June 2022

Hari ini hasil SNMPTN diumumkan. Perasaan Arda sudah tidak karuan lagi. Ribuan do’a telah ia langitkan dan kini tinggal menunggu hasil saja. Tepat pukul 15.00 WIB Arda membuka hasil pengumuman itu. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tulisan “SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNMPTN 2022 UNIVERSITAS INDONESIA PROGRAM STUDI KEDOKTERAN”. Seketika isak tangis bahagia mengalir di pipi Arda, begitupun kedua orangtuanya.
“MasyaAllah nduk, selamat ya,” begitu ujar ayah Arda sambil memeluknya.

Arda sangat bersyukur bisa diterima di universitas terbaik di Indonesia. Meskipun dia terlahir dari keluarga yang serba kekurangan, tapi tidak menciutkan niatnya untuk mencoba mendaftar. Tekad dan usahanya tidak main-main. Banyak waktu yang dia korbakan untuk bisa meraih semua itu. Apalagi program studi kedokteran, sudah pasti ribuan orang memperebutkan bangku itu. Ternyata benar, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Meskipun demikian, dia juga merasa sedih. Sebab untuk meraih cita-cita ia harus rela meninggalkan kampung halaman dan berada jauh dari orangtuanya. Ardapun menjadi bimbang apakah dia harus mengambil kesempatan ini atau tidak.
“Sudah nduk jangan bersedih, berangkatlah, raih impianmu. Jangan khawatirkan ayah ibu di sini,” kata ibu Arda sambil menepuk pundaknya.

Dengan berat hati, Arda bergegas menuju ke universitas impiannya menaiki kapal karena ini satu-satunya transportasi yang pas dengan kantongnya. Meski butuh waktu beberapa hari untuk sampai, namun Arda tetap enjoy menikmatinya. Hidup sendiri di kota orang tidaklah mudah. Apalagi bagi Arda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. Ia perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya kini. Mulai dari memanage biaya hidup, bergaul dengan teman yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, maupun hal lainnya.

Betapa terpananya Arda ketika berada tepat di depan universitas impiannya. Tak terasa buih air matanya mengalir. Namun tak selang lama, ia mengusap air matanya dan beranjak pergi ke auditorium utama. Di sana serangkaian acara penerimaan mahasiswa baru segera dilangsungkan. Ribuan mahasiswa beralmet kuning itu bersorak gembira ketika remsi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia.

Menjadi mahasiswa kedokteran itu tidak mudah. Arda sering kali merelakan waktu tidurnya demi menyelesaikan tugas. Tak hanya itu, dia juga harus membaca buku-buku untuk praktikum yang tebalnya sudah tidak ditanyakan lagi. Namun, dia tak pernah sekalipun mengeluh, sebab dia yakin bahwa dia mampu melewatinya.

Seiring waktu, dia merasa bahwa biaya hidup di sana semakin mahal. Uang yang dimilikinya kini hanya cukup untuk makan saja. Belum lagi untuk membeli buku-buku kedokteran yang harganya tak murah. Namun dia tak mau meminta tambahan uang bulanan karena dia takut membebani orangtuanya. Alhasil ia memutuskan untuk kerja part time di sebuah coffee shop guna mencukupi kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika, ayah Arda merasa sangat merindukan putri pertamanya. Dia memutuskan untuk terbang ke Univesitas Indonesia sekaligus memberikan kejutan untuk ulang tahun Arda yang ke 20 tahun. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, dia memutuskan untuk rehat sejenak serambi meneguk coffee. Dia mendekati puluhan pembeli yang mengantri di sebuah coffee minimalis pada seberang jalan. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui putrinyalah yang sedang melayani para pembeli itu. Dengan mata sebam dia tetap ikut mengantri.

“Mau rasa apa pak?” tanya Arda.
“Cappucino saja.” jawab ayah Arda sambil menurunkan topi yang dipakainya.
“Baik, tunggu sebentar ya,” ujar Arda.

Beberapa saat kemudian,
“Ini pak coffeenya,” ujar Arda sambil memberikan satu cup coffee itu.
“Terimakasih Arda,” kata ayah Arda.
Arda terdiam sejenak serambi memikirkan mengapa pembeli itu tau namanya. Seketika dia menangis ketika melihat lelaki bertopi itu adalah ayahnya. Dengan segera dia memeluk lelaki itu dan menceritakan segalanya.

Cerpen Karangan: Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas
Blog / Facebook: Zahroh Chindy Putri W
Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas lahir di Magelang, 01 Februari 2002. Kini sedang menempuh S1 di UIN Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto Program Studi Pendidikan Agama Islam.


Cerpen Sebuah Impian merupakan cerita pendek karangan Zahroh Chindy Putri Wahyuningtyas, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Amalia M

Duh berisik! Aku kan besok ujian, gimana bisa konsen belajar kalo dari tadi berisik. Adek teriak-teriak lah, kak Ari karaokean nggak jelas, mama nonton tv. Berisik! berisik! berisik! Aku




Oleh: Wisnu Wijayandaru

Peluit Pak Karta yang terdengar begitu keras membuat kami semua berlari begitu kencang mengelilingi lapangan bulu tangkis yang berjajar sebanyak sepuluh buah. Beliau adalah pelatihku di klub bulu tangkis




Oleh: Wiwin Lestari

“Kesempatan terakhir untukmu akan nenek berikan. Jika hidupmu di sana makin menderita, nenek tak akan mengizinkanmu memilih jalan hidup yang katanya membawa kesuksesan bagimu”. Entah beberapa kali kata-kata tersebut




Oleh: Ainun Najib Azzuhry

Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di




Oleh: Fitria Anggraeni

“Ibu berwajah bulat, sama sepertimu Rin. Tapi kadang terlihat lonjong. Ah, mungkin wajah ibu sedikit oval dan sedikit lonjong. Akak tak pernah memperhatikan secara detail, tapi karena setiap hari



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: