8 tahun cerpenmu

Cerpen Sensitif Mode

Spread the love

Cerpen Sensitif Mode





Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Kategori: Cerpen Romantis

Lolos moderasi pada: 13 July 2022

Maya mengepal erat tangannya ketika handuk bekas mandi suaminya lagi-lagi bertengger di atas kasur. Dengan perasaan dongkol, ia meraih handuk itu dengan kasar kemudian menjemurnya di tempat biasa.

Lagi, ketika membuka lemari, kaos putih bertumpuk itu sebagian menyembul karena ditarik paksa ketika suaminya mengambil salah satunya.

Maya menarik nafas kemudian menghembuskan dengan kasar. Dadanya naik turun. Matanya terpejam erat. Sejenak, ia mendudukkan dirinya di tepi kasur.

Masih pagi, emosinya sudah naik turun. Akhirnya, ia memilih untuk menenangkan diri di gazebo belakang rumah dengan sepiring mie instan pedas juga jus buah mangga. Ah nikmat sekali.

Pukul 16.00 WIB deru mesin mobil terdengar dari luar rumah. Suaminya sudah pulang, kebiasaan Maya menyambutnya di depan pintu masuk sembari memberikan senyuman terbaiknya.

Dan itu yang disukai Dony Arnando dari istrinya. Maya berdiri sudah dengan kecantikannya yang paripurna, tubuhnya sudah wangi, rambutnya di sisir rapi membuat rasa lelahnya seketika hilang.

Dony berjalan menenteng tas kerja yang langsung diambil Maya ditangan kirinya, kemudian tangan kanannya meraih tangan Dony untuk ia kecup.

“Satu buah coklat untuk istriku yang cantik sore ini.” Maya memekik bahagia. Dengan satu tangkai bunga mawar, coklat itu diikat dengan sebuah pita berwana silver. Dony, tipe suami menyebalkan tapi romantisnya bikin Maya tidak kuat untuk tidak bisa meleleh.

Meskipun bukan barang mewah tapi ini satu perhatian kecil yang begitu romantis yang selalu Maya puja-puja. Ketika teman-temannya mengeluh kalau suami mereka jarang melakukan hal seperti Dony, sedangkan Maya mendapatkan itu hampir setiap hari.

“Makasih, Mas.” Ucap Maya tulus.
“Sama-sama sayang” balas Dony sambil mengacak rambut istrinya yang harum jeruk itu.

Tidak lupa, Maya menyodorkan segelas air minum untuk Dony teguk. Salah satu kebiasaan Bunda ketika Ayah pulang bekerja, maka Maya mengingat hal itu kemudian ia praktekkan kepada suaminya.

Pagi berikutnya, hal yang sama Maya jumpai. Sebuah handuk tetap tergeletak nyaman di kasur. Beranjak ke lemari, pakaian sang suami menyembul lagi. Lagi-lagi Dony tak mau berubah.

Seketika Maya duduk di tepi kasur. Air matanya mulai berlinang. Dadanya tiba-tiba sakit mengingat selama menikah ini Dony tak pernah berubah soal kebiasaan buruknya. Handuk basah bekas mandi tak pernah ia jemur sendirian, ketika mengambil baju sebagai dalaman, Dony tak pernah merapikannya kembali. Atau, ketika makan, piring dibiarkan berantakan.

Maya menangis sesenggukan. Akhir-akhir ini ia merasa begitu sensitif. Ketika lahir batin lelah, maka ia akan menangis karena merasa tak diberi pengertian.

Pekerjaan istri memang mengurus semua rumah tangga, melayani suami, mengurus anak kalau sudah punya anak. Tapi apakah sesulit itu menjemur handuk sendiri, dan mengambil pakaian diangkat dulu baru diambil, buka langsung ditarik.

Karena sensitif, Maya jadi mengingat kesalahan-kesalahan Dony dari semenjak hingga sekarang. Tanpa mengingat kebaikannya, Maya semakin emosi.

Karena kesal, Maya membiarkan handuk itu di kasur. Maya ingin tahu bagaimana respons suaminya jika handuknya bau karena tidak dijemur. Pakaian juga ia biarkan menyembul. Dia lelah. Lelah sekali dengan perilaku suaminya.

Dengan hentakan kaki, Maya kembali menyalakan komputer mengerjakan Project-nya karena deadline yang tinggal beberapa hari lagi.

Dan respons Dony ketika matanya berserobok dengan handuk basah adalah terkejut. Membuat ia langsung memanggil istrinya.

“Yang, kenapa handuknya nggak di jemur, sih? Nanti bau handuknya, terus bisa bau nanti ke kasurnya.” Protes Dony sambil bertolak pinggang. Sedangkan Maya masih bergeming di sofanya.

Maya sedang membaca novel dengan serius, seketika helaan nafas keluar dari mulut suaminya.

“Sayang.. aku lagi ngomong sama kamu, loh! Kamu denger aku nggak?” Tanya Dony sembari melangkah menghampiri istrinya.

Maya ikut berdiri setelah menutup bukunya kemudian meletakkan di meja.

“Baru sehari aku nggak jemur handuk kamu, dan kamu protes koar-koar sama aku?” Tantangnya dengan dagu terangkat.

Ini bukan Maya sama sekali. Dony jadi bingung, Maya kenapa?
Mata Maya berkaca-kaca. Semakin membuat Dony kebingungan.

“Biasanya kamu yang jemur sayang, kenapa hari ini nggak?”
“Kalau aku capek, gimana? Capek aku, Mas sama kamu. Tiap berangkat kantor yang aku temui handuk lagi handuk lagi yang nongkrong di kasur. Terus setiap ngambil baju kenapa langsung ditarik sih? Kenapa nggak diangkat dulu sebagian?” Tanyanya lagi dengan beruntun membuat Dony mengernyitkan dahi karena Maya bersikap diluar kebiasaannya.
“Kamu nggak biasanya kayak gini, sayang!”

Otomatis air mata Maya tumpah karena sang suami benar-benar membuatnya kesal. Dony nggak peka apa gimana, sih? Harusnya dia mengerti kalau Maya ingin Dony merubah sifat buruknya.

“Sekarang aku kayak gini, kamu mau protes? Aku cape, Mas. bisa nggak bantu istrinya buat meringankan beban. Contohnya kamu jemur handuk sendiri, bukannya main simpan aja handuk basah di kasur. Bikin emosi tau, nggak?”

Sepertinya tak ada gunanya Dony mendebat sang istri. Akhirnya Ia mengalah dengan menyetujui permintaan sang istri.
“Oke.” Putusnya mengangguk. Tapi Dony masih heran dengan istrinya yang berubah dalam satu hari. Kemarin masih biasa-biasa saja ketika handuk ia simpan di kasur. Tapi hari ini berbeda 180 °. Dony menarik tubuh sang istri untuk ia dekap ke dalam dadanya. Seketika tangis Maya pecah mengingat akhir-akhir ini sifat Dony membuat ia muak, jengah, kesal dan bikin ia emosi.

“Kami kenapa, sih, sayang? Mau PMS ya?” Tanya Dony tanpa berniat meminta jawaban.
Sedangkan Maya diam seketika. Wajahnya mendongak untuk melihat Dony yang seketika menaikkan sebelas alisnya dengan heran.

Mendengar kata PMS Maya baru ingat. Bukan lagi masalah PMS, bahkan ia merasa sudah melewati jadwal PMS seharusnya.

Dengan cepat, Maya meraih ponselnya di atas meja. Kemudian ia mencari aplikasi kalender mens-nya. Dengan mata membulat, Maya menutup mulutnya yang menganga. Telat 1 minggu?
Maya menoleh pada suami yang menampilkan ekspresi yang sama. Hanya Dony tak membuka mulutnya.

Apa jangan-jangan?

Dua garis merah terlihat jelas di alat tes kehamilan yang kemarin malam Dony beli dari minimarket. Mungkin ini yang jadi alasan Maya—istrinya—uring-uringan tidak jelas. Maya hamil, dan salahkanlah hormon kehamilan Maya yang sedikit sensitif saat ini.

Dony mengucap syukur berulang kali sejak mengetahui istrinya hamil anak pertama. Membuat hati Dony membuncah tak terkira. Dari tadi Maya tak lepas dari pelukan sang suami yang sangat erat. Kecupan penuh cinta mendarat di kening, pipi, kepala juga bibir. Dony sampai tidak tahu bagaimana lagi mengekspresikan rasa bahagianya.

“Jadi ini alasan istriku marah-marah nggak jelas kemarin? Hormon kehamilan yang bikin kamu sedikit sensitif, hm?” Tanya Dony sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas.

Maya mengerucutkan bibir kesal. Tapi soal kemarahan Maya sore kemarin benar-benar ungkapan hati Maya. Bukan bohong-bohongan, kok.

“Tapi aku serius, Mas. Aku cape lihat handuk basah di kasur terus tiap pagi. Sekali-kali kamu dong yang jemur.” Seru Maya dengan nafas memburu membuat Dony mengusap tengkuknya salah tingkah.
“Iya, sayang, maaf ya!” Pintanya sambil memelas.
“Jangan lupa juga kalau ambil kaos jangan langsung ditarik, diangkat dulu baru ngambil. Kamu pikir gak cape apa beresin baju yang sama?” Tanyanya dengan penuh kekesalan. Sepertinya ini adalah sesi Maya memuntahkan segala unek-uneknya.
“Iya sayang. Iya.. maafin Mas ya cantik. Gak lagi, deh, kaya gitu.” Janji Dony dengan nyengir kuda.
“Awas, ya, kalo diulang!” Peringat Maya dengan mata memicing.

Dony frustasi di tempatnya. Gemas sekali dengan sikap istrinya yang tiba-tiba cerewet.
“Iya, Maya-ku yang baik hati dan tidak sombong. Ya udah, kita tengok dede bayi, yuk!” Ajaknya sambil mengerling nakal.
“Idihh.. ogah!!”

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
ipeeh.h (instagram)


Cerpen Sensitif Mode merupakan cerita pendek karangan Latifah Nurul Fauziah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Sukma Ayu Mutia Wardhani

Hujan deras mengguyur kota Ponorogo. Hujan disertai angin kencang itu membuat Icha ketakutan dan memilih untuk tetap berada di kelasnya meskipun teman-temannya semua memutuskan untuk pulang walau dalam keadaan




Oleh: Ervinta Ivory Amartia

“Selamat Pagi Sayang.” Tiba-tiba ada sms masuk ke hpku, ternyata dari Eza kekasihku. “Selamat Pagi juga Sayangku, semangat sekolahnya ya.” Begitulah smsku kepada Eza setiap pagi hari, aku dan




Oleh: Delfi Anwar

Aku pun termenung mengingat semua itu. Oh tuhan… sungguh benar-benar membuatku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Semua yang ku ingat tentangnya itu benar-benar kejadian yang konyol, gila bahkan membuat




Oleh: Risti Fauziyah Habibie

Namanya Hilman Aditya Natria, seseorang yang membuatku jatuh cinta. Dia satu kelas denganku, Jani Rahmania Kiranti. Setiap hari, dia selalu menghampiriku untuk sekedar curhat atau bercerita. Setiap hari, dia




Oleh: Stefani

Pandanganku tak lepas dari air yang menetes ini. Satu jam sudah berlalu dan aku masih memandanginya. Aku tidak merasa bosan sedikitpun. Tentu saja, hujan adalah hal yang paling aku



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: