8 tahun cerpenmu

Cerpen Sepasang Album Kembar (Part 1)

Spread the love

Cerpen Sepasang Album Kembar (Part 1)





Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 28 June 2022

Bermula dari saran Agus, teman satu Kabupaten Kendal sekaligus teman satu Fakultas Pertanian-IPB. Agus berasal dari Kecematan Weleri, semetara aku dari Cepiring. Agus ambil Jurusan Sosial Ekonomi sementara aku ambil Jurusan Agronomi. Bersama dengannya, aku tinggal satu asrama di Asrama Sukasari, salah satu asrama IPB yang berada di jalan Sukasari. Kala itu aku mengalami kesulitan keuangan untuk menyelesaikan pendidikan di IPB yang hanya tinggal satu semester lagi. Orangtuaku sudah tidak mampu lagi membiayaiku. Aku bersyukur mendapat Beasiswa Supersemar dari Pak Harto sebesar Rp. 12.500,- per bulan. Meski demikian, beasiswa tersebut jauh dari mencukupi. Biaya kehidupan di Bogor lumayan tinggi.

“Juno, kamu kan tinggal menyusun skripsi saja. Waktumu bisa digunakan untuk memberi les siswa SMA.”
Betul juga saran Agus. Aku memberi les dalam pelajaran kimia, fisika dan matematika pada siswa kelas 2 dan kelas 3 SMA di Bogor. Lumayan banyak siswa yang mengikutinya. Masalah keuangan teratasi, bahkan dengan uang yang aku peroleh, aku dapat meningkatkan makanan yang lebih bergizi, tidak melulu mie dan mie saja.

Dewi Agustini salah satu gadis kelas 3 SMA 1 Bogor yang memerlukan jasaku dalam memahami pelajaran kimia, fisika dan matematika. Dewi, gadis Bogor yang logat Sundanya mulai luntur. Wajahnya mirip Widyawati kala remaja, artis yang sukses dalam film “Pengantin Remaja” bersama Sophan Sopian. Ia cantik alami, tanpa make up, kulit mulus dan bersih. Ia yang ramah, ceria, suka lalapan dan asinan Bogor. Ia termasuk siswi yang cerdas, apa yang aku ajarkan dengan mudah disimpan dalam memorinya.

“Dewi, setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah dimana?”
“Di IPB Mas. Fakultas apa yang sebaiknya Dewi ambil?”
“Semua fakultas baik siih. Tapi menurut Mas Juno, Dewi cocok ambil Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Pertanian. Nanti ambil jurusan Teknologi Pangan. Mas Juno perhatikan pelajaran kimianya sangat bagus.”

Kala aku berkunjung ke rumahnya, orangtuanya menyambutku dengan ramah.
“Oh…, ini Nak Juno ya…, terima kasih atas bimbingannya kepada Dewi. Tahun depan Dewi kepengin kuliah di IPB juga.” Ya…, itulah awal perkenalan dengan orangtua Dewi. Sepertinya, orangtuanya tidak melarang aku menggandeng tangan mungilnya.

“Dewi, bagaimana kalau malam Minggu nanti kita nonton film “Cintaku di Kampus Biru.” Dari resensi yang aku baca, film tersebut dapat bintang 5, bintang filmnya, Roy Marten, Rae Sita dan Yati Octavia.”
Ia mengangguk, hatiku bagai bunga mekar. Itulah pertama kali aku mengajaknya nonton film.

Malam Minggu yang kunanti datang tanpa aku jemput. Bak bidadari, Ia memakai celana jean, kaos warna putih motif bunga melati dibalut dengan jaket warna coklat muda, pakai topi baseball cap dan sepatu kets. Aroma melati menempel di tubuhnya, aroma favoritku. Hujan rintik-rintik, menambah suasana romantis. Kami bergandengan tangan menyusuri jalan Pajajaran di bawah naungan pohon kenari. Sesekali aku rangkul pundaknya. Sebuah bemo, kendaraan roda tiga khas Bogor, menepi menghampiri. Sepertinya sang sopir tahu kalau aku berdua akan menuju gedung bioskop Sukasari, bioskop terbaik di kota Bogor.

“Sukasari?”
Aku lihat tidak ada penumpang.
“Bang, saya charter ke bioskop Sukasari.”

Duduk berdua, berhadapan, lututku berada dengan lututnya, maklum tempat duduk bemo sempit. Aku gemgam kedua tangannya, aku tatap wajahnya. Alangkah cantiknya.
“Iiih…, kenapa Mas Juno pandang Dewi terus.”
“Habis Dewi cantik siiih, seperti bidadari. Ini kesempatan Mas Juno memandang Dewi sepuasnya.”
“Emangnya Mas Juno pernah lihat bidadari?”
“Pernah, lha ini yang di depan Mas Juno kan bidadari.”
“Mas Juno itu pintar merayu.” Dewi mencubit lenganku dengan pelan.

Sampai di bioskop Sukasari, penonton yang sedang antri sangat banyak, terutama para remaja. Aku pesan karcis duduk di deretan kursi paling belakang di ujung kanan.

“Dewi …” teriak temannya yang bergandengan dengan pacarnya.
“Hai…, Agi.” Jawab Dewi .
“Dewi…, aku iri sama yang nggadeng kamu!” Teriak teman laki-laki Dewi.

Dengan bergandengan tangan aku dan Dewi memasuki gedung bioskop yang suasananya gelap. Kursi penonton penuh, full fouse. Selama film berputar, Dewi menggandeng tanganku dengan lembut. Ketika ada adegan yang romantis, Dewi mencekeram tanganku dengan kuat. Aku lihat wajahnya, aku tatap matanya dalam kegelapan. Dewi menatapku juga. Dengan jantung berdebar, aku memberanikan diri mencium keningnya, mencium rambutnya dan berakhir mencium bibirnya. Dewi pun membalas dengan lembut, matanya terpejam.
“Ah…, Mas Juno nakal.” Dewi mencubit tangaku dengan pelan. Itulah ciuman pertamaku dengan seorang gadis. Aku catat dalam buku harianku, 15 Juni 1977.

Hari yang tidak aku harapkan datang tanpa diundang. Aku menerima surat darinya, isinya sangat pendek.
“Mas Juno, kita jumpa di kafe Mahatani jam 13.10.”

Jam sudah menunjukkan 13.10, Dewi belum juga keluar dari ruang kuliah fisika. Sudah 20 menit aku menunggu di kafe, satu-satunya kafe di IPB. Kafenya kecil, bersih, namun agak mahal untuk kantong mahasiswa. Sekitar jam 13.15, aku lihat Dewi keluar dari ruang kuliah dan langsung menuju ke kafe. Suasana kafe sepi, hanya aku dan dia.

“Dewi mau minum apa?”
“Teh manis hangat saja Mas.”
Untuk sejenak Dewi diam. Aku lihat wajahnya muram, matanya agak sembab, sepertinya menahan tangis. Pasti ada sesuatu. Dewi adalah gadis ceria, gadis manja.

Setelah agak lama diam.
“Mas Juno, kayaknya hubungan kita sampai di sini saja.” Suaranya tersendat. Air mata yang menggenang, akhirnya tumpah. Dewi, menangis tanpa suara, wajahnya ditutupi sapu tangan. Kepalanya menunduk ke bawah, bagai orang bersalah. Aku masih kurang paham, kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu. Tidak ada angin tidak ada hujan. Hubunganku dengannya selama ini baik-baik saja.
“Maksud Dewi, hubungan kita putus? Memangnya kenapa?”
“Kalau kita berlanjut ke jenjang perkawinan, tidak akan langgeng. Mas Juno orang Jawa dan saya orang Sunda.”
“Aku nggak paham. Tapi kenapa orangtuamu membiarkan kita menjalin kasih selama ini?”
“Ini…, sudah menjadi keputusan orangtuaku, Mas. Mumpung hubungan kita belum terlalu jauh.”

Malamnya, aku ke rumahnya, untuk bertemu dengan orangtuanya.
“Nak Juno, hubungan Nak Juno dengan Dewi, sudah Bapak dan Ibu rundingkan dengan matang. Bukan hanya Bapak dan Ibu, tetapi juga melibatkan saudara-saudara. Kesimpulannya jika hubungan Nak Juno dan Dewi tetap dilanjutkan, tidak akan langgeng. Nak Juno orang Jawa dan Dewi orang Sunda. Tidak baik bagi Dewi, tidak baik juga bagi Nak Juno. Ini sudah suratan takdir.”

Bunga-bunga cinta yang telah tumbuh dan bersemi di hatiku, rontok dalam sekejab. Aku bagai jatuh kedalam jurang tanpa dasar. Sangat menyakitkan. Sebagai mahasiswa yang dididik secara rasionalitas, apa yang disampaikan ayah Dewi tidak masuk akal.

Selama beberapa bulan aku mengalami shock. Skripsi yang sedang aku susun terbengkelai. Nasehat ibuku ternyata benar. Sebelum berangkat ke Bogor ibu sudah wanti-wanti.
“Ingat Juno, di Bogor kamu hanya belajar untuk menjadi insinyur pertanian. Jangan pacaran dulu. Kalau perkara jodoh sudah ada yang menentukan.“

Hari-hari berlalu dengan suram. Awan mendung selalu menyertaiku. Foto kenangan bersama Dewi, aku lihat kembali. Duduk berdua di atas banir pohon shorea, menyeberang di jembatan gantung Kebun Raya Bogor, makan asinan Bogor di Pasar Gembrong, bergandengan tangan di sepanjang jalan Pajajaran, naik delman keliling Kebun Raya Bogor, duduk di bawah pohon randu raksasa IPB, bergaya di depan Gedung IPB dan beberapa foto lainnya. Album aku tutup, aku masukkan dalam koper, aku kunci rapat-rapat. Entah kapan aku berani membukanya.

Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Blog / Facebook: Bambang Winarto
BAMBANG WINARTO dilahirkan di Magelang 15 Juni 1954. Setelah lulus dari SMA Kendal, mengikuti pendidikan di Fahutan- IPB (1974-1978). Bekerja sebagai ASN di Kementerian Kehutanan sampai purna tugas (1979-2010). Memperoleh gelar Magister MM di UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik. Ia aktif menulis berbagai artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan Cerita Pendek. Cerpen-cerpen yang dikirim di CERPENMU masuk nominasi terbaik : Malam Yang Tidak Diharapkan (Part 1,2) (Bulan Juni, 2022) Malaikat Keempat, Sepenggal Catatan (Part 1,2), Konspirasi, Menjemput Rindu. (Bulan Mei 2022). Pencuri Raga Perawan, Pita Putih Di Pohon Pinus.(Bulan April 2022).
Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, Email: bambang.winarto54[-at-]gmail.com ;


Cerpen Sepasang Album Kembar (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Bambang Winarto, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Annisa Resmana

Aku masih ingat, betapa sakitnya berpisah dan sakitnya dipisahkan secara tiba-tiba, ketika cinta menumbuhkan kebun bunga dan seketika datang pemangkas pisau kepala dua meratakan semua, ketika waktu mengurung kita




Oleh: Asep Kurniawan

Senin pagi, matahari yang baru beberapa waktu membuka matanya menampilkan sinar kuning terang menerobos lobang-lobang tirai jendela kamar kostku, yang aku sendiri pun tidak mengerti kenapa tirai ini berlobang.




Oleh: Nada Tiara Maharani

“kringgg…” bel sekolah berbunyi. itu tandanya sudah waktunya masuk kelas. “awww… sorry” ucapku ketika aku tak sengaja menabrak seseorang. kepalaku menunduk, aku takut dia marah padaku. “udah gak papa




Oleh: Sekar Pinestri

Layaknya keajaiban, memilikimu sebagai malaikatku adalah sebuah anugerah. — “Lit, kamu belum tidur?” Ucap Ratna memasuki bilik kamar Lita. Lita hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang langit malam. Ia




Oleh: Ahiru

Hijau itu membuat daun jambu yang melambai padaku terasa menyegarkan. angin yang berhembus di antara ruas ruas rambut sebahuku terasa bisu. aku hanya dapat merasakan rumput yang membelai lembut



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: