8 tahun cerpenmu

Cerpen Sepenggal Catatan (Part 1)

Spread the love

Cerpen Sepenggal Catatan (Part 1)





Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis

Lolos moderasi pada: 15 May 2022

Pada usia yang sudah menginjak senja, entah mengapa tiba-tiba aku kepengin menulis tentang diriku sendiri. Tidak panjang, hanya sepenggal catatan yang nantinya akan aku simpan dalam kumpulan surat wasiat untuk anakku.

Aku coba mengingat masa remaja, di SMP dan SMA Kendal. Kata orang, masa remaja merupakan masa paling indah. Mungkin benar tapi tidak sepenuhnya bagiku. Keindahannya hanya sempat aku nikmati sampai dengan pertengahan kelas dua SMA. Selebihnya, sungguh menyakitkan.

Oh…, ya…, nama lengkapku Dewi Sylvalestari, panggilannya Dewi. Kala remaja, kata teman-temanku, wajahku mirip Widyawati.

Cerita bermula dari kelas tiga SMP Negeri 1 Kendal, sekolah menengah pertama terbaik di kota Kendal. Gedungnya merupakan bangunan bersejarah, dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, tahun 1868. Kokoh dan megah, berada tepat di jantung kota Kendal. Persis di depan sekolah menjadi tempat pemberhentian bus antar kota, Semarang – Pekalongan atau sebaliknya. Sekitar 25 meter darinya dijumpai alun-alun dan berbagai perkantoran, Kantor Bupati, Kantor DPR, dan berbagai kantor lainnya. Di sebelah kirinya terdapat gedung Sasana Budaya, sedangkan sebelah kanannya berdiri Masjid Agung Kendal.

Aku naksir Arjuno, teman satu kelas 3/1. Anaknya lumayan ngganteng, sedikit agak pemalu dan senang olah raga. Anak paling pandai di kelasku. Berbagai pelajaran sepertinya sangat mudah baginya, apalagi pelajaran yang memerlukan perhitungan seperti aljabar dan ilmu ukur sudut. Arjuno duduk sebangku dengan Dulkamdi, baris kedua dari depan di sebelah kiri, sedangkan aku duduk dekat Ayu, di depan juga di baris kedua sebelah kanan. Aku sering curi pandang kepadanya. Kalau pas lagi curi pandang, Arjuno melihatku, jantung terasa copot, berdetak dengan cepat, muncul kupu-kupu di perutku. Dheg…, Dheg…, Dheg…

“Ada apa Dewi?” Tanya Ayu.
“Nggak…, nggak ada apa-apa. Itu lho… Arjuno mencuri pandang kepadaku.” Jawabku berbohong.
Baru menatap saja aku sudah dheg dheg dhegan. Apalagi kalau Arjuno menggandengku, dan lebih-lebih kalau menciumku, mungkin aku pingsan atau mati berdiri.

“Dewi, tolong dong pinjamkan catatan aljabar yang barusan diterangkan Ibu Nunik kepada Arjuno.” Kata Ayu.
Entah mengapa Ayu tidak berani pinjam langsung kepadanya atau mungkin Ayu sengaja supaya aku mulai dekat dengannya.
“Juno, pinjam sebentar catatan aljabarnya.”
Ayu dengan cepat menyalinnya.

“Juno ini bukunya aku kembalikan, ada catatan kecil dariku, terima kasih ya…”
Aku telah selipkan sobekan kertas di dalam bukunya.
“Juno nanti malam ke rumah ya…, Dewi kurang paham aljabar yang tadi diterangkan Ibu Nunik.”

Sebentar-sebentar aku lihat Arjuno untuk memastikan bukunya dibuka dan membaca kertas sobekan dariku. Olehnya, buku dibuka, melihatku sambil mengangguk. Aduuh…, senengnya bukan main, Arjuno akan datang pertama kali ke rumahku.

Sorenya aku sibuk di dapur.
“Dewi, tumben di dapur, sibuk apa?” Tanya ibuku.
“Lagi goreng pisang Bu. Nanti malam Arjuno ke rumah mau ngajari aljabar pada Dewi.”
Ibuku tersenyum melihat pisang goreng hasil karyaku, beberapa diantaranya gosong.

Arjuno datang tepat waktu dengan membawa buku aljabar beserta catatannya. Arjuno memang pandai menerangkan. Pelajaran aljabar yang tadi siang susah, jadi gampang. Jantungku berdetak setiap Arjuno menatapku.

“Juno, terima kasih ya…, pelajaran aljabarnya, aku jadi ngerti. Juno, engkau cocok jadi pak guru menggantikan Ibu Nunik.”
Arjuno hanya tersenyum sambil makan pisang goreng. Nikmat sekali sepertinya. Besok pagi aku akan bawakan pisang goreng yang banyak untuknya.

Sejak itu, hampir setiap malam Minggu Arjuno datang ke rumahku. Ya… ngobrol apa saja, tentang sekolah, teman-teman, kadang-kadang jalan-jalan saja sambil bergandengan tangan, jajan di warung bakso Suryani atau nonton bioskop di Gedung Sasana Budaya. Malam Minggu, malam yang selalu aku nantikan kedatangannya.

Ada satu malam Minggu menjadi kenangan ketika nonton film Pengantin Remaja.
“Dewi, mau nggak, malam Minggu nanti kita nonton film Pengantin Remaja, kita nonton jam pertama saja, supaya tidak terlalu malam.”
“Juno, kemana pun kamu ngajak, Dewi pasti mau. Emangnya, filmnya bagus?”
“Kata teman-teman yang sudah nonton, filmnya bagus. Tapi Juno kepengin lihat Widyawati yang wajahnya mirip Dewi.”
“Aah.. Juno, engkau itu ada-ada saja.” Hatiku pun mekar, dikatakan wajahku mirip Widyawati.

Jam 16.30 Arjuno sudah menjemputku. Film pertama jam 17.00 dimulainya. Berdua berjalan kaki menyusuri rel kereta api yang berada di depan rumah. Jarak dari rumah ke Sasana Budaya memang tidak terlalu jauh.

“Juno, kita jalan di atas rel ya…, aku di rel kiri, Juno di rel kanan. Jangan jatuh yaa.”
Bergandengan tangan, tangan kiriku memegang tangan kanannya sampai di bioskop Sasana Budoyo.
“Juno, kapan aku diajak nonton,” teriak Endang saat ketemu di jalan.
“Dewi, asyiik yaaa, diajak Juno nonton film,” teriak Bogel.

Meski sudah satu minggu film “Pengantin Remaja” selalu full house. Penonton masih berjubel. Arjuno terpaksa membeli dari calo dengan harga yang lebih mahal tentunya. Beruntung masih dapat tempat duduk. Ruang gedung bioskop sudah gelap suatu tanda bahwa film sebentar lagi akan diputar apalagi lagu Romi dan Yuli sudah diperdengarkan.

“Romi dan Yuli
Dua remaja saling menyinta
Berjanji sehidup semati
Kekal abadi
Oh Romi dan Yuli
Lambang kasih suci.”

Pengantin Remaja cerita tentang sepasang kekasih yang masih muda, Romi dan Juli. Romi yang diperankan Sophan Sophiaan mengalami kesulitan dalam percintaan dengan teman sekolahnya, Juli, diperankan Widyawati. Hubungan percintaannya tidak direstui oleh orangtua Juli. Namun Romi tidak bisa berpaling dari Juli. Ternyata Juli terkena penyakit kanker darah dan oleh dokter, hidupnya telah divonis tinggal satu bulan lagi. Perkawinan pun berlangsung meski hanya sebulan. Kematian Juli tak terelakkan.

“Juno, ceritanya sedih ya…?”
“Iya…, sangat sedih. Perkawinannya hanya berlangsung beberapa bulan.”
“Tapi, itu lho cintanya Romi begitu besar kepada Juli. Dewi pun berharap Juno seperti Romi.”
Aku berharap Arjuno akan menjawabnya. Ternyata harapanku meleset. Arjuno hanya diam dengan tetap menggendengku ketika pulang. Ketika mau pulang Arjuno memandangku dengan tajam.
“Dewi, selamat malam, engkau cantik seperti Widyawati.”
Arjuno pun dengan bergegas mencium pipiku. Aku sangat kaget, tapi senang. Kapan Arjuno kamu akan menciumku lagi.

Tapi…, yang paling menyebalkan dari Arjuno itu lho cuek bebeknya.
“Juno, selamat ulang tahun, ini kado dariku.”
Arjuno hanya bilang terima kasih tanpa ekspresi. Ketika hari ulang tahunku datang, aku tanya kepadanya.
“Juno, sekarang hari apa.”
“Hari Rabu.”
“Maksudku, tanggal berapa.”
“Tanggal 2 September, emangnya ada apa?”

Aku betul-betul mau nangis. Arjuno, apakah kamu tidak tahu, itu hari ulang tahunku. Hari yang istimewa, setiap tahun sekali dirayakan. Hari ini, tidak ada hadiah darimu, tidak ada ucapan selamat ulang tahun, tidak ada sun di pipi.
Arjuno…, Arjuno… Tapi ya…, sudahlah. Hal-hal yang mestinya romantis, berubah jadi ngeselin. Kalau sekarang nggak romantis ya sudah nggak apa-apa…, yang penting baik padaku. Nanti lama-lama kan bisa juga jadi romantis.

Pacaran sudah lebih dari sepuluh bulan. Sebentar lagi ujian, kelas 3 SMP akan berakhir. Aku selalu menanti kata-kata darinya “Dewi, aku cinta kamu.” Tapi kata-kata itu belum juga terucap. Apakah aku yang harus mengatakan terlebih dahulu “Juno, aku cinta kamu.” Rasanya kurang elok, masa gadis mengutarakan cintanya terlebih dahulu pada laki-laki.
Apakah ini yang disebut cinta monyet? Aku tidak tahu apa itu cinta monyet, yang jelas jika aku berdekatan dengannya ada rasa senang, rasa bahagia, jantungku dheg dheg dhegan dan hatiku ser ser seran Apakah cintaku bertepuk sebelah tangan? Apakah Arjuno juga mencintaiku tanpa kata-kata? Judeg memikirkannya, aku jadi stres, uring-uringan tanpa sebab.
Namun…, ada kenangan yang tidak terlupakan hingga kini, ya…, hingga kini.

Kala itu habis ujian akhir SMP.
“Juno kita ikut rekreasi bersama teman-teman ke Kedung Pengilon ya…?”
Arjuno mengangguk.
“Nanti pakai sepedaku saja, aku mbonceng, Juno yang ngayuh ya…”
Kembali Arjuno mengangguk.
Hatiku mekar, berbunga. Baru kali ini aku akan rekreasi bersamanya. Aku siapkan bekal istimewa. Untuk makan siang: opor ayam, tahu dan tempe bacem serta kerupuk udang. Sementara untuk kudapannya pisang goreng dan jadah bakar. Semua makanan kesukaannya. Minumannya teh manis dan air putih biasa.

Berangkat bersama rombongan yang berjumlah lima belas orang. Dalam waktu relatif singkat, rombongan sudah jauh meninggalkannya. Sepertinya mereka sudah terbiasa naik sepeda. Kedung Pengilon sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 11 Km. Hanya saja, Arjuno ngayuh sepedanya pelan, ditambah beban aku memboncengnya.

“Juno kita istirahat dulu, minum dulu, makan pisang goreng ya…”
Aku dan Arjuno istirahat di bawah rimbunnya papringan di tepi Sungai Kendal. Aku keluarkan handuk kecil, aku usap keringat yang mengalir di wajahnya. Alangkah nggantengnya. Kapan Juno…, kapan…, kamu akan ngomong “Dewi aku cinta kamu.” Jika kamu tidak bilang, nanti di Kedung Pengilon, aku yang akan bilang “Juno, aku cinta kamu.” Biarin dianggap nggak elok juga nggak apa-apa, kan yang tahu hanya Arjuno.

Cerpen Karangan: Bambang Winarto
Blog / Facebook: Blog Bambang Winarto
BAMBANG WINARTO (mBang Win) dilahirkan di Magelang 15 Juni 1954. Setelah lulus dari SMA Kendal, mengikuti pendidikan di Fahutan- IPB (1974-1978). Bekerja sebagai ASN di Kementerian Kehutanan sampai purna tugas (1979-2010). Memperoleh gelar Magister MM di UGM tahun 1993, dengan predikat lulusan terbaik.
Ia aktif menulis berbagai artikel tentang kehutanan di majalah kehutanan. Saat ini sedang menekuni penulisan Cerita Pendek.. PENCURI RAGA PERAWAN dan PITA PUTIH DI POHON PINUS, di WEB CERPENMU masuk nominasi 1 dan 15 cerpen terbaik bulan April 2022.
Alamat: Kebun Raya Residence F-23 Ciomas, BOGOR, Email: bambang.winarto54[-at-]gmail.com ;

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 15 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Sepenggal Catatan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Bambang Winarto, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Lidya Silaban

Hari ini giliran Ino yang kebersihan kelas, dan dibantu dengan teman-teman yang lainnya juga. “Ino, tolong bersihkan penghapus papan tulis itu” kata temannya sambil menunjukan telak penghapus papan tulis.




Oleh: Kerin Irawan

Jam masih menunjukkan pukul 4:30 pagi, dengan malas ku buka mataku yang masih belum ingin beranjak dari mimpi-mimpi indah, tanganku segera meraba-raba mencari handphone yang sepertinya tidak ku pindahkan




Oleh: Chera Lee

“Siska siapa?” Gadis bernama Cherry itu menatap lelaki di hadapannya dengan seksama. “Siska?” Lelaki itu tampak berpikir. “Wah lo kepoin sms gue yah?” Raffi merebut handphone-nya yang ada di




Oleh: Salsa Dilah

Namaku Anggita Saraswati. Aku adalah siswi di salah satu SMA di Tanggerang. Aku adalah siswi yang cukup terkenal di sekolah karena prestasiku. Banyak yang ingin dekat dan memiliki diriku




Oleh: Arina Afiana Sari

“waaaaaw, kereeeen. Hmmmmph, akhirnya aku pake seragam putih abu-abu.” Kata Angle dengan bangga. “biassa aja kalee.” Kata Chintya dan Anggun bebarengan. “hehehe, yaudah yuk masuk.” Ketiga remaja itupun memasuki



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: