8 tahun cerpenmu

Cerpen Tentang Rindu

Spread the love

Cerpen Tentang Rindu





Cerpen Karangan: Siti Ika Mudjaenah
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Rindu

Lolos moderasi pada: 24 June 2022

“Jika ini akhir dari semua yang sudah kita ciptakan, maukah kamu menungguku di masa depan mengulang semua?” — Vano

Sore ini di penghujung hari di tengah-tengah keramaian taman. Awan yang terlihat keabu-abuan serta orang-orang yang sudah siap dengan tantangan sebentar lagi akan menghampiri. Mereka mulai berlalu lalang mencari tempat teduh kala menerima setitik air dari langit.

Berbeda dengan dua pemuda di ujung taman yang masih asik becanda dengan senyuman yang bisa dipastikan mereka sangat bahagia hingga tidak memperhatikan langit yang sudah lelah dengan hari ini dan segera ingin menurunkan segala beban yang dipikul.

Kesya dan Vano masih asik bermain suit untuk menentukan siapa yang harus mentraktir makan malam di angkringan tempat biasanya.
“Yey … Lo kalah Van!” teriak Kesya senang ketika dirinya menang.
Vano menghela napas pasrah dan tersenyum terpaksa ketika dirinya dua kali dikalahkan oleh perempuan di depannya.

Ketika dengan cepat air hujan turun dengan deras. Vano menarik Kesya untuk menjauh dari area taman dan meneduh di depan kios toko yang sudah tutup.
Melihat Kesya kedinginan, dengan segera Vano menyodorkan jaketnya ke arah Kesya. Sedangkan Kesya menerimanya dan mulai memakai jaket Vano.

“Maafin gue ya, gue enggak tahu kalau bakalan hujan,” sesal Vano dengan wajah sedih dan menatap Kesya.
“Santai aja kali. Gue sih yang enggak enak sama Lo, soalnya Lo kalah dua kali. Gimana nasib uang saku Lo bulan ini,” ujar Kesya. Di balik wajah cerianya ternyata Kesya memikirkan nasib uang Vano yang menipis akibat mentraktir Kesya yang makannya banyak sekali.

“Gimana kalau anggap aja Lo yang kalah, dan nanti Lo gantian yang traktir?” tanya Vano dengan alis yang sengaja di naik turunkan.
“Gimana-gimana?” tanya Kesya mendekatkan telinganya ke arah Vano. Jaga-jaga jika Kesya salah dengar dengan ucapan Vano.
“Enggak-enggak, nanti makan yang banyak biar kenyang,” balas Vano dengan kedua tangannya melambai ke arah Kesya yang menatapnya horor.
Kesya tersenyum puas, sebenarnya Kesya juga punya uang jika sekadar mentraktir Vano. Namun, di dalam pikirannya selalu mengatakan jika mengusili Vano itu sangat menyenangkan menurutnya.

“Udah reda, gimana kalau kita pergi sekarang aja?” tanya Vano menyakinkan Kesya.
“Ayok, tapi ini hoodie Lo, mau Lo pakai lagi enggak?”
“Pake aja dulu, gue nggak kedinginan kok,” bohong Vano. Di dalam hati, Vano berteriak kedinginan.

Di perjalanan menuju angkringan favorit mereka berdua. Kesya dengan senang berjalan dan sesekali melompat girang. Vano yang melihatnya hanya bisa tersenyum hangat dan mengikuti segala perintah konyol yang dilemparkan oleh Kesya.

“Awas Vano, di depan ada batu. Lompat Vano, lompat!” seru Kesya sambil bernyanyi memerintah Vano menurutinya.
Vano melompat dan mengikuti Kesya yang berada di depannya.
“Sya … Lo mau kemana? Ini sudah sampai,” ucap Vano menarik kerudung hoodie yang Kesya pakai. Kesya langsung berhenti dan menoleh ke arah Vano dengan senyum idiotnya.
“Ngejar katak soalnya, jadi nggak lihat hehe,” ucap Kesya gampang ketika melihat Vano yang mulai kesal.

Setelah drama Kesya dan Vano selesai, tatapan orang-orang yang berlalu lalang menghangat ketika melihat Kesya dan Vano tertawa seperti hanya mereka yang ada di dunia ini. Namun, ada juga orang yang memandang mereka sebagai pasangan dan ada juga yang menyebut mereka seperti kakak beradik.
Vano dan Kesya hanya bisa membalas dengan senyuman dan pamit meninggalkan mereka. Karena sejatinya, mereka tidak lebih dari seorang sahabat dari kecil karena rumah mereka yang berdekatan.

Selesai dengan acara makan malam yang ditraktir oleh Vano, Kesya membalas traktiran Vano dengan kembali mentraktir eskrim yang dijual di depan angkringan tersebut.
“Gue aja yang beli, Lo tunggu di sini aja,” ucap Kesya sebelum pergi membeli es krim di depan lokasi angkringan tersebut.
Vano hanya mengangguk dan memberi perintah ke Kesya untuk cepat, agar tidak kemalaman sampai rumah.

“Vano … Lo mau yang mana?” tanya Kesya dengan suara cemprengnya menatap ke arah Vano dan mengangkat es krim strawberry dan blueberry di tangannya.
Vano menunjuk ke arah eskrim blueberry dan setelah itu hanya dibalas anggukkan oleh Kesya.

“Dua puluh ribu ‘kan pak? Kembaliannya ambil aja pak. Terimakasih!” seru Kesya. Penjual tersebut mengucapkan syukur berkali-kali dan tidak lupa berterimakasih dengan Kesya yang kini sudah berjalan menjauh dari gerobaknya.
Kesya yang terlampau senang, kini memandang Vano dengan tangannya yang menggenggam kantong plastik berisi eskrim milik dirinya dan Vano.
Dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya, Vano memandang Kesya sedari tadi ketika Kesya sedang memesan eskrim.
Tanpa disadari, Kesya melangkah ke arah jalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Vano yang kewalahan ingin menolong Kesya. Akhirnya ia lari menuju Kesya yang masih tertawa riang di tengah jalan sembari menatap Vano yang berlari ke arahnya. Kesya bingung ketika Vano semakin cepat berlari menghampirinya sembari berteriak tidak jelas.
“KESYA … AWAS!! KESYA … AWASS, SYA!” teriakan Vano membuyarkan lamunan Kesya. Kesya menoleh ke arah kiri yang sangat silau karena sebuah cahaya dari kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.

Tiba-tiba, tubuhnya terhempas ke tepi jalan. Kepalanya sangat berat, matanya menelisik apa yang terjadi sebelumnya. Kesya terkejut ketika melihat Vano terbaring dengan kepalanya yang berlumuran darah.
Setelah itu, hujan mengguyur dirinya. Kesadaran Kesya mulai hilang dan matanya terpejam dengan air mata. Sedangkan Vano, entah apa yang terjadi Kesya tidak bisa mengingat lebih jelas.

Waktu terus berlalu, tetapi Kesya masih berada di masa lalu yang sangat sulit untuk dilalui sendiri. Bayangan Vano yang selalu menghantui setiap langkahnya membuat Kesya merasa bersalah ketika mengingat Vano menolong dirinya. Kesya ingin sekali kembali pada masa lalu itu dan mengatakan apa yang selama ini ingin Kesya katakan, dan merubah kecelakaan itu menjadi sebuah kenangan. Namun, entah mengapa waktu seakan tidak ingin Kesya mengatakannya. Dengan sangat cepat, waktu merebut Vano dari dunianya.

Kesya duduk di bangku taman. Bangku ini adalah saksi di mana Kesya merasakan debaran ketika sedang becanda dan bersenang-senang dengan Vano. Di sini juga Kesya menemukan Vano yang menjadi pusat kehidupannya. Di sinilah Kesya memutar ulang kenangan dirinya dengan Vano dari kecil hingga Vano meninggalkannya sendirian.

“Vano, udah dua tahun gue nunggu kehadiran Lo, tapi sekali aja Lo nggak mau bertemu gue? Gue enggak mau kehilangan Lo, gue Cuma mau Lo tahu bahwa gue udah cinta sama Lo dari lama.”

Tanpa disadari, cairan bening yang berkali-kali Kesya tahan di kelopak matanya, kini sudah meluap di pipi pucatnya. Kesya menyeka air matanya dan mulai berjalan ke arah jalan raya. Namun, langkahnya terhenti ketika tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang.

“Berhenti Sya, gue minta pelan-pelan Lo lupain gue. Enggak selamanya Lo harus terkungkung kesedihan Sya. Gue tetap ada di sisi Lo. Gue juga suka sama Lo. Tapi tolong, di dunia ini bukan hanya gue. Masih ada orang yang sayang sama Lo, cinta sama Lo. Dan sekarang, gue minta Lo lupain kehadiran gue.” Ujar seseorang yang berada di belakang Kesya.
Dengan cepat, Kesya memeluk Vano dan menangis sesenggukan.

Orang-orang yang kebetulan berlalu lalang menyempatkan melihat Kesya, merasa iba dengan kondisinya yang memeluk buket bunga mawar sembari menangis tanpa henti.

Cerpen Karangan: Siti Ika Mudjaenah
Blog / Facebook: shinjaeeeee


Cerpen Tentang Rindu merupakan cerita pendek karangan Siti Ika Mudjaenah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Jie Laksono

“ditepinya sungai serayu waktu fajar menyingsing pelangi merona warnanya nyiur melambai lambai” Suara lagu di tepinya Sungai Serayu terdengar indah tengah malam itu di Stasiun Purwokerto. Tidak ada yang




Oleh: Fatimah Zahroh

CINTA tak berwujud… Namun membuahkan banyak drama.. Tersenyum, gelisah, sendu, berbunga bahkan air mata.. Semua erat dengan istilah cinta… Bola mata sayu sedikit demi sedikit terbuka. Sejenak kuhela nafas..




Oleh: Paii

Yang sekarang bisa aku lakukan hanyalah menangis di kesendirian. Ya menangis sendiri di atas atap di tengah hujan sambil menghisap sebatang rok*k dan mendengarkan musik kesukaanku saat istirahat, tapi




Oleh: Eka Yanti Kesuma

Setiap memikirkan ucapan Ibunya Narin selalu merasa seperti seorang wanita yang paling menyedihkan di dunia ini. Pagi itu memang bukan pagi yang cerah awan putih berubah hitam, desis angin




Oleh: Ersa Nazwa

Semburat senja membentang di langit. Sepasang mata menatapnya penuh kerinduan. Rindu ingin menatapnya lebih lama. Jemari lembutnya masih menempel pada senar gitar. Rangkaian melodi telah ia mainkan penuh haru.



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: