8 tahun cerpenmu

Cerpen Terluka

Spread the love

Cerpen Terluka





Cerpen Karangan: Afief Rahmat Hudiyawan
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra

Lolos moderasi pada: 4 June 2022

Terluka selalu menjadi bagian yang tak lepas dari perjalanan,
Ketika bocah yang meronta-ronta ketika lututnya tergores karena sepak bola,
Ketika rengekan seorang remaja yang terhempas ke aspal berkat kehilangan kendali dari motornya,
Ketika seorang pemuda tanggung yang meneteskan air mata dengan sembunyi-sembunyi dibelakang pintu kamar,
Ketika seorang seorang pria yang hanya menghela nafas didepan teras bersama dengan lamunan liarnya.

Sesal, ketika seharusnya berhenti mengejar bola, sesal ketika seharusnya sedikit lebih bersabar menanti usia, sesal ketika seharusnya apa yang harusnya tak dimulai dipaksa untuk bermula, sesal ketika seharusnya bisa diperbaiki telah dibiarkan rusak.

Semua orang pernah mengalami luka, entah goresan fisik, entah itu patahan-patahan rasa. Semacam rangkuman dari berbagai hal yang menjadi alasan, bagi kita untuk meneteskan air mata.

Beberapa pujangga menyatakan waktu adalah sosok yang tepat untuk menyembuhkan, beberapa orang meyakini, beberapa orang meragu, dengan sosok waktu yang tak bisa kita pastikan kapan dia mampu. Mungkin besok, mungkin juga tahun depan, tidak ada yang tahu, tapi sebagian besar meyakini bahwa sang penyembuh adalah waktu.

Terluka memang menyakitkan, hanya saja dengan kadar yang berbagai macam. Terluka dengan kadar yang paling hebat bukan dari kucuran air mata, bagiku terluka yang paling hebat adalah ketika kita hanya bisa menghela nafas dengan apa yang telah dialami, kemudian menipu diri dengan persona yang ditampakkan, dengan dalih menguatkan, padahal bentuk penipuan. Langkah apa yang seharusnya dilakukan? Tidak ada yang tahu, semua orang punya cara mereka sendiri.

Kuat, adalah satu kata yang diinginkan orang lain ketika tahu kita terluka, cukup tahu, mereka tidak memiliki hak untuk mengetahui lebih dalam, mereka tidak perlu merasakan atas apa yang mereka lihat, mereka dengar, cukup tahu bagiku adalah hal yang cukup.

Bagaimana cara kita untuk melewati, bagaimana cara kita untuk melangkah, entah itu kembali memperjuangkan, entah itu memilih menyerah. Menyerah adalah pilihan, berjuang pun juga pilihan, semuanya memiliki dampak, tergantung apa yang dipilih.

Terluka kali ini membuat untuk memilih menyerah, pasrah, lelah. Menyerah ketika kita merasa cukup atas apa yang ada didepan kita, pasrah atas apa yang akan kita hadapi setelahnya, lelah atas apa yang selalu muncul sejenak sebelum terpejamnya mata.

Perpisahan adalah alasan tepat untuk terluka, menjadikan kita sosok yang berada di masa dimana kita merasa kehilangan kenyaman dalam setiap berkegiatan, memaksa untuk tidak terpikirkan tentang hal muncul dihadapan.

Perlahan mengobati, perlahan melupakan, kata yang mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dijalankan. Melelahkan diri secara fisik untuk menyembuhkan kelelahan psikis, berupaya lelah fisik mampu menghentikan lamunan.

Cerpen Karangan: A.R. Hudiyawan
Blog / Facebook: Hudiyawan
Hidup adalah berbagi, media cerpen ini pun adalah tempat untuk berbagi, kepada mereka yang ingin mengetahui isi hati, kepada mereka yang ingin mengingat kembali, kepada mereka yang ingin memanggil memori, kepada mereka … yang gagal bermimpi.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 4 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Terluka merupakan cerita pendek karangan Afief Rahmat Hudiyawan, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Ymir

“Ayah tolong, ikutlah dengan diriku dan hidup selamanya” “Anakku, diriku sudah hidup cukup lama. Aku mensyukuri 200 tahun hidupku ini” “Tapi mengapa ayah harus pergi?” “Karena kematian memang tidak




Oleh: Chaa

Aku bingung. Semua orang menatapku sedih. Bahkan tidak sedikit yang menangis. Aku masih termenung. Mama tidak menjawabku. Apakah mama marah padaku? Apakah aku tidak melakukan permintaan mama? Aku rasa




Oleh: Faz Bar

Ini terjadi saat aku masih berada di sekolah menengah atas. Dulunya aku sering sekali bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dicari dalam sebuah pendidikan. Banyak dari manusia di dunia ini hidup




Oleh: Gracia Asriningsih

Emak berangkat jam sebelas malam. Kamu pasti mengira emakku pel*cur. Aku ganti pastikan kalau emakku bukan pel*cur, aku bahkan yakin kalau tidak ada laki-laki lain dalam hidupnya kecuali bapakku.




Oleh: Lilis Ulfah Andriyani

Angin membelai halus rambutku, ombak berdebur memberi sapa yang halus. Kupandang langit yang mulai menghitam. Dikala seperti ini, ingatanku selalu memutar peristiwa 3 tahun silam, tanpa ada sedikitpun yang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: