8 tahun cerpenmu

Cerpen Ternak Menguntungkan

Spread the love

Cerpen Ternak Menguntungkan





Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Kategori: Cerpen Kehidupan

Lolos moderasi pada: 26 April 2022

Perayaan wisuda di madrasah aliyah tempat Mansur dihelat, dengan mengundang dai untuk memberikan mauizah hasanah; nasihat keagamaan, sebagai pengantar ijazah yang terselip di tangan para alumni.

“Adik-adikku wisudawan MA Darussalam, yang diberkahi Allah. Selesai belajar di sini, saya harapkan kalian melanjutkan kuliah atau bekerja. Pokoknya jangan nganggur. Harus terus menyibukkan diri, sibuk yang berkualitas dan sibuk yang produktivitas. Laysal ghina ‘ankatsratil’ardhi walakinnal ghina ghinan nafsi. Jadilah kaya, kaya bukan lantaran banyak harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa”.

Hadirin tertegun, ada juga yang melamun. Para lulusan mendengarkan, tidak sedikit pula yang melewatkan. Mansur terpaku pada seremonial. Duduk tenang, sembari melirik orangtuanya yang berada di barisan yang berbeda. Pikirannya membuncah, tak berani ia berpikir untuk melanjutkan kuliah. Alasan ekonomi jelas menjadi kendala utama. Syukur-syukur ia mampu melanjutkan sampai jenjang aliyah. Berkat adanya kartu sakti; Indonesia Pintar dan Program Keluarga Harapan.

“Di tengah zaman yang disebut ‘edan’, jauh dari sudut kewarasan. Dosa yang sudah dianggap kewajaran. Maka, kayakan dirimu wahai para lulusan.. Kaya iman, kaya ilmu, kaya hati, kaya wawasan-pengetahuan, juga kaya materi. Bekerjalah dengan keras dibarengi dengan tawakal dan doa. Petani, pegawai kantoran, pedagang, peternak, apapun itu carilah rejeki yang halal.

Berbicara tentang ternak, saya mau tanya, ternak apa yang bisa membuat cepat kaya?” Sang dai meneruskan ceramahnya dengan pertanyaan retorika untuk membuat pesona orasinya. Hadirin siap menunggu jawaban dai, yang pasti akan menderai tawa dalam benak mereka.

“Ternak yang cepat membuat kaya adalah dengan cara beternak tu..yul”. Disambut riuh tawa dari seluruh hadirin undangan wisuda.
“Ya, ternak tuyul itu cepat menghasilkan. Tapi, saya yakin lulusan madrasah Darussalam tidak akan melakukannya. Karena sudah dibekali ketahuidan, dibentengi dengan bermacam ilmu keagamaan. Akhirnya, selamat dan sukses kepada para lulusan. Wassalamualaikum Wr.Wb.”

Sang dai menutup ceramahnya. Mansur tetap tertegun, terngiang kata “sukses” yang menjadi akhir seremoni. Semua mengatakan tentang sukses. Kepala madrasah, Kepala Desa, Ketua Komite, sampai dai yang diundang, tidak pernah teralpha kata “sukses”. “Selamat dan sukses!”

Sejak sepuluh tahun silam, Mansur benar-benar membenci kata “sukses”. Kata tersebut, baginya adalah buaian. Kata bohong; sebuah noun pengingkaran tentang hidupnya kini. Sukses secara harfiah beretimologi beruntung atau berhasil. Dan harfiah “sukses” tersebut, berbanding terjungkir dengan kehidupan Mansur. Kata “sukses” bagi Mansur adalah menjadi orang kaya, punya rumah lengkap dengan perabot, sedikit kerja sudah banyak menghasilkan, punya mobil, dan setiap seminggu sekali rekreasi dengan keluarganya. Begitu, Mansur mengartikan sukses berdasarkan batasan pengetahuan dan pengalaman kehidupannya.

Setelah lulus, Mansur bekerja serabutan. Menjadi buruh tani, kuli bangunan, mencari rumput, kuli angkut pasar, marbot masjid, apa saja. Demi hidup, demi uang, demi makan dan demi sekedar untuk bisa buang hajat layaknya manusia normal. Jelas, jauh dari pengartian “sukses” yang Mansur artikan dulu hingga sekarang.

Sukses bagi Mansur adalah mimpi; dongeng kocak, fable dan dia sebagai hewan yang bisa berbicara. Dengan kemustahilan sebagai karakteristiknya. Sukses bagi Mansur adalah ketika takdir kerelaan Sundari menerimanya sebagai pendamping hidupnya. Tanpa syarat, tanpa sebab. Dan jelas kerelaannya menjadi wilwatikta, swargaloka nan indah. Smaradhana, Sundari menyempurnakan simbol kejantanan Mansur, dengan satu plasma nutfah yang nyata. Lengkap dengan hidung dan mulut. Mata dan senyum mungil yang membuat Mansur rela mengorbankan apa pun. Meruntuhkan langit jika ia meminta sanggup Mansur lakukan. Menggoyang mayapada, bila perlu. Agar Mikail sudi turun dan berdebat dengannya, tentang rejeki yang mungkin terlewat, Mansur siap melakukannya.

Mansur tidak pernah berkata tidak kepada bapaknya, meski ia miskin, meski ia harus memenuhi permintaan bapaknya dengan bersusah payah. Ia anak pertama dan terakhir, tunggal. Ibunya meninggal setelah melahirkan, maka Mansur yang juga paham sedikit ilmu agama, beranggapan bahwa bapaknya surga kedua setelah telapak kaki ibu tidak lagi ditemuinya.

Bapak Mansur tahu, anaknya miskin dan sudah berkeluarga. Paham, jika Mansur harus pandai-pandai mengatur keuangan, meski pemasukan lebih minim daripada pengeluaran. Tetapi, kepada siapa lagi, dia mengadu tentang kesusahan dan kesulitan hidup kalau bukan kepada anaknya.

Klimaks dari putar balik plot kehidupan Mansur berawal sore ini. Ketika bapaknya yang renta, menunggunya di teras tragedi. “Le, pinjami aku uang dulu yo. Untuk nggarap sawah. Beli bibit, pupuk, sama buruh tandurnya.” Mansur mengangguk satu kali.

“Bapak tahu kamu juga butuh uang, le.. Tetapi, kepada siapa lagi bapak sambat kalau tidak kepadamu, anakku. Sur, bapak tidak menuntut, tetapi tolong usahakan ya..”
Mansur mengangguk lagi. Dia tidak tega melihat sosok yang begitu hebat, bapaknya. Kambing dijual, untuk beli seragamnya dulu. Bapaknya rela berhujan ria, demi hanya mengantarkan payung ke sekolahnya. Kerelaannya merawat Mansur semenjak istrinya meninggal membuat Mansur merasa ada “keharusan” mengabulkan keinginan bapaknya.

“Oh ya, lali aku. Sekalian biaya selamaten mbahmu. Pinjami dulu ya le.”. Mansur mengangguk dua kali tak menjawab. Bapaknya tersenyum, kemudian bergegas pulang.

Mansur mengetuk pintu, mengucap salam yang dibalas istrinya dengan raut elegi, merintih yang tak terucapkan. Tergambar dalam cekungan pipinya. Daster yang tipis, sobek di dua ketiak, bahkan jauh dari kata pantas untuk sekedar dijadikan kain lap meja kotor. Tapi, sambatan dari sayatan meminta kepada suami, Sundari sembunyikan dalam sepuluh ribu kesabaran, bahkan lebih. Mansur sukses mendapatkan istri yang begitu nrima ing pandum, selalu diam, tak pernah mengeluh. Justru ini semakin membuat Mansur membenci dirinya, membenci kehidupannya, seakan ingin mengepalkan dan mengajak tawuran dengan Sang malaikat pembagi rejeki.

“Mas, adikku tadi kesini. Ia bilang, ibuku butuh uang untuk kontrol diabetnya. Ibu harus terapi insulin. Pinjami dulu duit ya mas”. Mansur bergeming. Mengangguk tiga kali. Sundari kembali ke kamar, setelah mendengar Maksum putera bak parabel dengan tokoh Parikesit di dalamnya, yang mampu mengubah baratayudha di padang kurusetra, menjadi negeri dibawah kekhalifahan Pandhawa, nan sentosa, gemah ripah loh jinawi. Sundari dari dalam bilik menenangkan Maksum yang tiga puluh delapan derajat panas dijidatnya yang tak jua turun.

“Mas, maksum harus dibawa ke bidan. Ini panasnya sudah dua hari tidak turun. Sore atau besok ya mas, sekalian bayar BPJS biar dapat keringanan”, Sundari memelas kasih, suaranya tampak parau. Tersayat kekhawatiran mendengar jerit tangis buah hati. Mansur diam, dadanya bergaung sembilu, ia mengangguk empat kali.

“O ya mas, ini tadi ada pegawai bank kesini, katanya mas telat membayar. Dan besok harus bayar cicilan pokok dan bunganya”, Sundari seperti tak tega melanjutkan tuntutan, dengan suaminya sebagai terdakwa prahara kehidupan yang ia sendiri tahu, carut-marut, miskin semiskin-miskinnya, dengan tangan di bawah bentuk dari sebuah kepantasan tak terelakkan. Sundari, tidak pernah menuntut. Keterdesakan yang membuatnya harus berterus terang kepada Mansur, suaminya. Sundari, bergelut antara tega dan tidak tega. Antara meminta ataupun diam, karena mengetahui betul keterbatasan keuangan keluarga.

Mansur mengangguk lima kali, bahkan lebih. Tak berkata, hanya mengangguk. Anggukan untuk melegakan bapaknya, istrinya, tapi tidak kepada dirinya sendiri. Makhluk-makhluk yang menjadi anugerah “kesuksesan” versinya sendiri. Bapaknya, istri, dan anaknya, harus dipenuhi keinginannya. Karena Mansur adalah anak, Mansur adalah suami, dan Mansur adalah Bapak. Lelaki sejati bagi Mansur, tidak pernah mengatakan keluhan di depan. Beruntung, 3 makhluk anugerah Mansur, tidak pernah menuntut lebih. Hanya jika dalam keterdesakan.

Mansur lunglai, ia menutup pintu triplek rumahnya. Berjalan seperti biasa ke TPQ masjid untuk mengajar santri kecilnya. Tetap dalam mengangguk disertai cabikan kehidupan tak mapannya. Mansur mengadu:

“Ya Allah, perkenankan aku sambat. Kewajibanku sebagai hamba telah aku lakukan. Kuikuti perintahMu, kujauhi laranganMu. Selayaknya derita menjauhiku. Seharusnya aku pantas menyandang kata sukses. Sudikah diriMu mengiyakan? Aku tidak berbuat yang sekiranya membuatMu marah, jadi tolaklah kemiskinanku, tolak segala ketidakberuntunganku. Gantikan nasib burukku. Dunia ini fana, tapi batin ini meronta. Karena Mansur adalah manusia biasa, tak lepas dari keinginan fiddunya hasanah..wa fil akhirati..”. doanya terputus.

Mansur menutup doanya, tetapi tidak dengan mengusap kedua tapak tangan ke wajah. Doa yang ditutup dengan batas kesabaran. Batas pengharapan yang baginya tak pernah nyata berbalas. Batas ketabahan dari garis nasib yang begitu perih, tersayat luka dunia, yang semakin menganga. Lebih perih lagi, seakan luka itu tertetesi air garam, sedikit demi sedikit. Tangan kanan Mansur menelungkupkan jarinya ke dalam. Mengepal erat, kemudian memukul ke dinding tembok masjid yang keras. Pukulannya penuh tekad. Keras hingga kulit luarnya sedikit mengelupas.

Kini, Mansur tak peduli apapun. Ia siap dengan segala konsekuensi. Ia harus akrab dengan kata “sukses”. Mulai sekarang. Nasibnya yang terus di bawah, harus diubah ke atas, menyentuh awang-awang langit nasib. Merobek kertas derita. Mengoyak jala “kesusahan”.

Puncak klimaks tragedi, yang jelas bukan komedi TV, disertai anggukan Mansur dua tahun lalu, secara cepat berganti ode; pujaan untuk dirinya sendiri. Mansur kini telah sukses, secara “mendadak”. Bertani beberapa petak, namun hasilnya sangat menghentak. Ternak sapi, ayam kampung, membuka toko, melengkapi kesuksesannya. Bapak, istri, dan anaknya ia penuhi kebutuhannya, bahkan lebih dari permintaan mereka. Ketika tiga makhluk anugerah tadi tersenyum karena keinginanannya dipenuhi, Mansur tidak hanya mengangguk, juga tersenyum, bahkan, “Apa ada lagi yang ingin Bapak minta?”,

“Istriku, sudahkah belanja ke pasar? Belikan Maksum mainan, jajan, atau apapun. Ambil saja uang di dompet. Pakailah sesukamu, jika menipis ataupun habis, aku takkan marah. Sebab kamu adalah anugerah.”.

Bapak, istri, dan anaknya bahagia. Mereka menganggap Mansur telah sukses karena bekerja keras. Karena kesabarannya, karena keuletan, dan ketekunannya. Mansur di mata mereka adalah anak, suami, dan bapak yang “sukses” bagi keluarga.

“Ayo, kang.. cepat carikan sewa tanah untukku. Aku siap menanami apa saja. Tebu, padi, apa saja”, kata Mansur kepada Kang Seno.
“Apa belum cukup to, Nak Mansur. Hampir sepertiga tanah di desa ini telah kau sewa. Telah kau garap. Biarkan mereka menggarap sendiri meski hasil tidak seberapa, setidaknya penduduk bisa menjadi juragan di tanahnya sendiri”, Kang Seno menasihati.
“Ah, mereka itu pemalas, Kang! Aku dulu juga pernah diposisi itu. Tidak sedikitpun aku minta bantuan mereka. Aku kerja keras, Kang. Dan, kini lihat.. Aku sukses sekarang. Aku telah memiliki toko sembako, sewa tanah dimana-mana, justru aku membantu mereka, Kang. Biar mereka sukses seperti aku. Sukses, Kang.. sukses..” Mansur berbalik. Kini ia akrab dan mencintai dengan kata “sukses”.

Mansur tempo dua tahun sejak mengepalkan tinju dendamnya ke langit berubah. Ia kaya. Tangannya tak lagi di bawah. Tapi, di atas dengan tapak tangan berposisi ke bawah.

Santri kecil di TPQ malas Mansur memberi ngaji. Kini, ia menjadi juragan toko sembako terbesar di desanya. Tuan tanah. Rumah megah, mentereng, dengan pagar menjulang. Seolah memisahkan dan menjadi metafor kesuksesan. Gubuk kemiskinan, ratapan rintihan tak lagi berdenging di gendang telinga. Bahwa, Mansur kini seorang yang sukses, memunyai banyak harta, melimpah kebendaan duniawi, dan jauh dari kata sambatan yang dulu ia sering ucapkan pada dirinya sendiri ataupun Tuhan.

Mansur tidak pernah sambat atau mengeluh lagi kepada Sang Ghani. Ia jauh, bahkan terlampau jauh, untuk sekedar mengingat, apalagi menyebut dan menyembah bersujud, sudah samar. Mansur berada di puncak kata “kesuksesan”.

“Jadi begini saja, Pak Darno. Saya sepakat kemitraan dengan Bapak dalam usaha ternak ayam petelor dan pedaging. Segera nanti sampeyan urus semua. Saya tinggal teken dan transfer uangnya”, Mansur bermufakat dengan rekan bisnisnya.
“Baiklah kalau begitu Pak Mansur. Segera saya urus pembuatan kandang dan bibit ayamnya. Untuk masalah limbah nanti bagaimana Pak? Ya, takut kalau ada warga yang protes karena menyengatnya bau kotoran ayam, kerumunan lalat, juga limbah lainnya?”
“Santai saja, Pak. Biar nanti saya tepuk muka mereka dengan uang, biar mereka diam. Wong miskin saja, kalau dikasih duit juga akan diam. Hahaa”. Mansur dan Pak Darno terkekeh membayangkan pundi laba yang segera bertambah.

Tersilap, Mansur melihat dua makhluk gundul, hanya menggunakan cawat menatapnya. Berkulit putih pucat, dengan bola mata yang bulat. Buah hati Sundari? bukan!.
Mansur melihat dan memahaminya. Tapi, Pak Darno tidak menyadari keberadaan dua makhluk tak kasat mata tadi, melihatpun tidak. Hanya Mansur yang bisa melihat, karena dua makhluk tadi adalah rumatannya.

Mansur meminta izin kepada tamunya, “Sebentar saya tinggal dulu, ya Pak. Saya mau ternak dulu”
Pak Darno bingung, “Memang ada ternak yang lebih menghasilkan dari ternak ayam ini, Pak?”
“Lo..ada. Ternak tuyul..”, jawab Mansur tergelak persis derai tawa saat lulusan waktu silam. Dan Pak Darno menganggapnya sebagai tiupan angin lalu.

Cerpen Karangan: Anang Zunaidi
Blog / Facebook: Anang Zunaidi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 26 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Ternak Menguntungkan merupakan cerita pendek karangan Anang Zunaidi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Khairul A.El Maliky

Seorang gadis mengenakan kerudung dan gamis putih berdiri di hadapanku ketika aku baru saja membuka pintu kayu pinus apartemenku. Seolah melihat musim semi di kawasan Red Square, kedua mataku




Oleh: Halimatus Sa’adah

Aku putih, tapi aku juga bisa coklat, bisa juga kuning, hijau dan pink. Tapi mereka menyukai aku bebewarna putih. katanya, putih itu terlihat bersih dan terlihat mahal. padahal, semua




Oleh: Choirul Imroatin

Tak ada yang istimewa dalam hidup Rofan. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai seorang kakak perempuan, satu adik cewek dan satu adik cowok. Kakak perempuannya sudah




Oleh: Triyana Aidayanthi

Pendiam tapi menyenangkan, itulah aku, versi diriku sebulan yang lalu. Ya, andai saja mahasiswa jurusan sastra Indonesia itu tidak PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sekolahku, tepatnya di kelasku. Hari




Oleh: Erdi

Ali hanyalah seorang pemuda desa. Ya itulah Ali, ia terlahir dari keluarga biasa aja. Di desanya, orangtua Ali bisa dibilang tidak kaya atau pun tidak miskin dan wajarlah disebut



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: