8 tahun cerpenmu

Cerpen Ternyata Tak Sendiri (Part 1)

Spread the love

Cerpen Ternyata Tak Sendiri (Part 1)





Cerpen Karangan: Dianathalie Julianthy
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati

Lolos moderasi pada: 28 April 2022

Bulan ini akan menjadi bulan yang bersejarah di hidupku, dimana hari ini adalah hari ulang tahun David pacarku selama tiga tahun ini, yang begitu kusayangi, dan besok hari jadi kami yang ke tiga tahun. Semenjak pacaran 3 tahun lalu, kami cukup kesulitan dalam menjalaninya, karena hubungan jarak jauh ini, terkadang dia harus ke kota ini, Balikpapan, untuk menemuiku. Kadang aku ke Jogja untuk menemuinya, tapi hingga hari ini kami masih baik-baik saja.

Yaa, walaupun dihari bersejarahku maupun dia kami hanya bisa merayakannya via telfon atau video call saja, tapi.. tidak memudarkan rasa cintaku padanya. Jarak tak membuatku lelah menjalani hubungan dengannya.

Untuk merayakan ulang tahun David ditambah hari jadi kami, aku berencana akan ke Jogja hari ini, penerbangan sore hari, tanpa mengabarinya. Sebelum makan siang, aku segera bertemu Kepala Bidang untuk memberikan surat pengambilan cutiku bulan ini. Wanita paruh baya bernama Asti selaku kepala bidangku mengizinkan, empat hari sepertinya cukup untuk menikmati waktu bersama David.

Sambil menikmati makan siang, kuceritakan pada Rara teman kantorku mengenai rencanaku ke Jogja. Selesai makan, kami kembali ke kantor dan aku bersiap akan menuju ke bandara. Rara akhirnya menanggapi perkataanku, pasalnya dia sedari tadi hanya menyimak sambil menghabiskan ayam gepreknya.

“Serius nggak mau nelfon dia lebih dulu?” tanya Rara padaku.
“Yaa, nggak. Aku mau kasih kejutan dong ke dia.” jawabku.
“Astaga, kok aku jadi gugup sih dengernya? Haha..”
“Kurasa kayaknya dia mau lamar aku deh, Ra..”
“Haa? Serius? Kamu bisa rasakan itu?”
Aku mengangguk, “Minggu lalu, dia tiba-tiba kirim foto cincin ke aku, cantik banget..”
“Wah.. bener tuh, kayaknya mau lamar kamu, Lis…”
“Pas aku nanya itu untuk apa, dia bilang temennya nanya ‘apa cincinnya bagus buat ngelamar?’ Ya, mungkin dia nggak tau bagus apa nggak, jadi dia nanya pendapatku, tapi.. kayaknya cuma akal-akalan dia aja buat beralasan..”
“Uhh, manisnya… terus nanti kalian bakal ngelola kafe bareng dong di Jogja, sebagai pasangan baru yang hidup bahagia gitu?”
“Hehehe, bisa jadi… Tunggu ya, aku akan kembali dengan cincin disini..” kataku pada Rara sambil menggerakkan jari manisku di depannya.
“Disini ya.” tunjuk Rara pada jari manisku.

“Yup.. aku pergi yaa.. Daaahhh…”
“Daaahhh Lisaa…”

Tiba di bandara, aku berniat ingin mengambil video perjalananku kali ini, kurasa semuanya akan berjalan dengan baik hari ini.

“Hai, David… saat ini 13 Februari, pukul 14.35, dua jam sebelum mendarat di Jogja, kamu nggak tahu kalau aku sedang menuju ke sana. Aku merekam ini karena firasatku mengatakan kita akan mengalami momen bersejarah bersama. Aku juga akan nunjukkin ini ke calon anak-anak kita. Ahhh… jadi malu..” kataku memulai video di depan kamera yang kugenggam.

Tiba di depan loket tiket, kuberikan tiket yang telah kupesan kemarin melalui aplikasi online. “Aku lagi ngantri, ngasih tiket ke mba-mba yang jaga loket, mudahan dapat kursi yang empuk dan nyaman..” kataku lagi, lalu pelayan loket memberikan tiket yang telah diberi cap penerbangan.

“Nona Lisa Emeli, anda kami alihkan ke penerbangan kelas bisnis, ini promo dari aplikasi yang anda gunakan.. Selamat menikmati perjalanan..” kata sang pelayan padaku.
“Terimakasih..” kataku pada pelayan, “Wah.. senengnya dapat pernerbangan kelas bisnis, firasatku bener kan, kayaknya semesta merestui pertemuan kita kali ini deh, David..” kataku ke depan kamera.

Ini pertama kali naik penerbangan kelas bisnis, kabin terasa luas dan kursinya empuk dan nyaman, pramugarinya begitu ramah, setelah menerima segelas air putih hangat, aku kembali merekam. Dannn.. berniat untuk meminta salah satu penumpang memberikan ucapan selamat padaku. Kebetulan ada seorang wanita berambut pendek, berjas cokelat yang duduk di sampingku, dia fokus melihat tabletnya. Tapi tak masalah, jika kuganggu sebentar bukan?

“Permisi.. Mba, bisa bantu saya sebentar saja?” tanyaku pelan.
Dia menoleh tersenyum ramah, “Iya, ada apa?”
“Saya sepertinya akan dilamar hari ini.. disini akan ada cincin.” kataku menunjuk, jari manisku.
“Oya? Selamat ya, Mba..”
“Terimakasih, Jadi saya mau merekam ucapan selamat, dan Mba mau memberikan ucapan selamat?” tanyaku.
Dia mengangguk “Ohh, ya boleh Mba..” lalu ia memperbaiki posisi duduknya menghadap ke kamera.

Aku mulai merekam, “Selamat atas lamaran anda, dan semoga dipermudah dalam mempersiapkan pernikahan nanti, semoga bahagia..”
“Terimakasih Mba, oh.. nama saya Lisa.. maaf lupa kenalan..” kataku mengulurkan tangan.
“Saya Laras..” katanya lembut membalas uluran tanganku.

Selesai berkenalan, kami sembari menunggu penerbangan, berbincang mengenai pekerjaan, dia seorang perawat di salah satu rumah sakit besar di Balikpapan, dan akan dipindahkan ke rumah sakit di Jogja, atas permintaan orangtuanya, dan hal itu mempermudah dirinya dan kekasihnya untuk bersama. Ternyata orangnya suka ceritaan, membuat penerbangan kali ini tak terasa. Tiba di bandara, kami berpisah dan saling melambaikan tangan.

Aku segera memberhentikan taksi dan berniat ingin belanja keperluan masak untuk David malam ini. Dia pasti sudah pulang kerja, dan sekarang pasti ada di kafe. Sampai di supermarket, aku kembali membuka kameraku dan mulai merekam.

“Hai.. David, tebak aku udah dimana? Yap, aku mau belanja bahan buat masakin kamu masakan yang eennaaakkk banget, boleh kan?” kataku di depan kamera, sembari mendorong troli dan menuju rak-rak bahan makanan. Memilih bahan terbaik dan tak lupa satu kotak kue ulang tahun, “Happy Brithday ke 28, David My Boo…” kataku pada pelayan yang hendak menulis diatas kue berlapis cokelat tersebut. Kurasa selesai dengan semua persiapan, kulanjutkan perjalananku menuju ke kafe milik David.

Di halaman kafe yang sempit, ada Feri yang tengah menata pot bunga, kusapa dia, dia menyambutku hangat. Kunyalakan kameraku dan mulai merekam.

“Feri.. apa kabar?” tanyaku.
“Kabar baik Mba Lisa, masuk Mba.. ada Mas David di dalam…” katanya.
“Terimakasih..”
“Sama-sama..”

“Nah, sekarang udah nyampe depan kafe..” kataku ke depan kamera, lalu mengarahkan ke papan nama kafe yang ada di depanku, yang bertuliskan “My Coffee Day”, “Sampai ketemu di dalam…”
Aku segera masuk, Jaya sudah ada di depan pintu kafe menyambutku.

“Apa kabar?” sapaku.
“Baik Mba Lisa, tumben kemari?” kata Jaya.
“Aku mau kasih surprise buat David, dia ada di atas kan?” kataku.
“Iyaa Mba, ada.. Di atas lagi di renovasi Mba, Saya panggilkan Mas David aja?”
“Nggak usah, aku aja yang ke atas..”

Aku segera naik, aku gugup sekali ingin berjumpa dengannya, terakhir kali bertemu saat malam tahun baru. Kami begitu menikmati malam itu, sambil makan jagung bakar manis di puncak kota, sambil menikmati kembang api meriah yang hiasi langit malam yang cerah waktu itu. Kali ini akan menjadi pertemuan yang romantis untuk kesekian kalinya.

Anak tangga kunaiki satu persatu, gugupku berubah menjadi rasa penasaran. Suara tawa merdu seorang perempuan terdengar. Aku berhenti, kemudian melihat ke arah bawah, memastikan apakah ada pelanggan yang tengah tertawa. Tidak ada. Lalu suara siapa itu?

“Udah ahh.. geli ihhh…” suara merdu itu memanja, diselingi tawa.
“Udah apa?” suara berat terdengar, nada itu nada manja milik david.

Aku memilih mempercepat langkahku. Tiba diambang pintu ruangan luas itu, ada hiasan-hiasan indah berwarna merah, beberapa balon putih dan merah melayang, lilin-lilin kecil ada di lantai, balon tulisan berwarna rosegold “Will you marry me?” ada di dinding. Diatas meja ada kue berukuran lumayan besar bertuliskan “I Love You”, yang terakhir.. punggung David membelakangiku tengah bercumbu dengan seorang perempuan.

Melihat mereka begitu menyakitkan, aku yang tadinya begitu bahagia merasa dunia ini mengangkatku kini seperti terjatuh ke dalam jurang yang dalam, jurang pengkhianatan. Sesak di dadaku tak bisa kutahan, membuatku terjongkok, sambil menepuk pelan dadaku yang terasa sesak.

Mereka masih bercumbu, belum sadar akan kehadiranku, sampai kulepaskan paper bag berisi belanjaan dari tanganku. David menghentikan aktifitasnya, matanya memelalak melihat kehadiranku.

“Li-Lisa?” katanya tergagap.
“Mba yang tadi?” kata perempuan yang kini wajahnya terlihat olehku, dia adalah Laras, wanita yang kutemui selama penerbangan tadi.
“Mba?” tanya David heran.
“Dia Mba yang aku ceritain tadi. Jadi dia yang mau kamu lamar apa aku?” tanya Laras.
“Kalian udah ketemu sebelumnya di pesawat, ya?” tanya David entah pada siapa.
“Katamu kalian sudah putus?” kata Laras.
“Aku sudah-”

Aku begitu tak percaya dengan situasi yang kualami saat ini, David ingin melamar siapa? Aku apa perempuan aneh itu?
“David coba jelaskan..” kataku tegas.

Cerpen Karangan: Dianathalie Julianthy
Blog: mystoryjulianthydn.blogspot.com
Hai, Aku Dianathalie, kembali dengan cerita baru.. kunjungi blog aku ya, untuk baca beberapa karya aku, terimakasih..

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Ternyata Tak Sendiri (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Dianathalie Julianthy, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+


” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Audhina Novia Silfi

Sebelum muncul di langit yang cerah, matahari terbit sudah ku dahului. Aku sudah menunggu di halte, selalu masih pagi-pagi buta, menunggu bus datang, sebagai alat transportasiku menuju sekolah. Ku




Oleh: Salwa Salsabila Rahman

“Kenapa sih lo itu gak pernah bisa jauhin gue? Sehari aja, lo gak deketin gue!”, teriak Alya “Gimana gue bisa jauhin lo Al, dari kecil kita emang dijodohin. Jadi




Oleh: Manimbul Sihotang

Ini aku dan aku sedang patah hati. Bukan berarti aku cowok lemah tapi memang ini menyakitkan. Jika Pagi biasanya aku spam dia dengan ucapan selamat pagi, kini aku dispam




Oleh: I Gede Abdi Negara

Alunan lagu lembut Cinta Putih dari Kerispatih seperti dentuman lagu rock haeavy metal yang memecah gendang telingaku di telingaku melalui headphone. Badanku tergolek lemah, mataku tak sanggup terbuka. Hanya




Oleh: Cind Andriani

Entah mengapa, saat kutatap lekat-lekat kedua bola mata coklat pria itu rasanya ada perasaan aneh yang menyelimuti perasaanku. Jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya dan mukaku tak henti-hentinya memancarkan



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: