8 tahun cerpenmu

Cerpen Tersenyum Dibalik Hujan (Part 1)

Spread the love

Cerpen Tersenyum Dibalik Hujan (Part 1)





Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Kategori: Cerpen Cinta Sedih

Lolos moderasi pada: 2 August 2022

Rintikan hujan turun membasahi bumi dengan beribu-ribu tetes dalam waktu 1 detik. Embun karenanya pun menghiasi kaca jendela kamar seorang gadis yang menatap pilu rintikan hujan dihadapannya. Tak ada senyuman dibalik tatapan itu hanya air mata yang entah kapan menetes di mata bulat nan indahnya.

Dulu, dulu sekali Ia gadis penikmat hujan yang selalu bahagia dikala hujan datang, mengukir senyum yang selalu menjadi jati dirinya setiap saat tapi disaat itulah senyumnya mulai pudar, tak ada lagi senyum yang bisa dilihat orang darinya. Senyuman Raina si gadis penikmat hujan yang tak akan pernah dilihat orang lagi darinya.

“Raina.” Wanita paruh baya berkerudung cokelat itu menarik selimut bergambar tetesan hujan dari tubuh putrinya yang masih setia dengan tidur nyenyaknya. “Ayo bangun, sudah jam berapa ini? Pamali anak gadis bangun siang entar jodohnya diambil orang.” Ujarnya membuka jendela kamar Raina, seketika sinar mentari pagi menerobos masuk kedalam kamar Raina membiarkan gadis mungil itu menggeliat-geliat diatas ranjangnya karena silau mentari menyorot ke iris matanya.

“Eum Mama ini masih pagi tahu!” Ucapnya tanpa melihat terlebih dahulu jam berapakan saat ini.
“Ini sudah hampir siang sayang.”
“Oke nanti Raina bangun.”
“Ya sudah Mama tunggu dibawah ya.” Raina berdehem sebagai jawaban yang Ia berikan pada Sang Mama.
Wanita yang Ia sebut sebagai Mama pun akhirnya keluar dari kamarnya yang bertema hujan itu. Sementara Raina merenggangkan otot-ototnya yang terasa tercekat.

Ny. Darmawan menuruni satu per satu anak tangga rumahnya yang didekor minimalist menuju ruang tengah untuk sekedar istirahat karena sejak tadi melakukan pekerjaan rumah. Belum sempat Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya, mungkin untuk sekedar bertamu dipagi hari.

Pria tampan berkulit putih berdiri dibalik pintu dengan senyum manis yang Ia ukir dari bibirnya.

“Gilang!” Ny. Darmawan tersenyum melihat siapa yang sudah datang pagi-pagi seperti ini.
“Pagi Tante, Rainanya ada?” Ucapnya dengan sebelumnya mencium punggung tangan kanan Ny. Darmawan terlebih dahulu.
“Ada, dia ada di kamar langsung keatas saja.” Ucapnya tanpa ragu menyuruh pria yang Ia sebut Gilang itu menuju kamar gadisnya.

Raina berdiri di balkon kamarnya, merentangkan kedua tangannya seraya menghirup aroma udara pagi Ibu Kota Jakarta. “Disini udaranya segar.” Ucapnya sedikit tersenyum pada sang surya yang sepenuhnya memancarkan cahayanya pagi ini.

HAP.. Raina terkaget menerima pelukan yang mendadak dari arah belakang. Ia memutar kepalanya untuk melihat siapakah orang yang mendadak memeluknya. “Gilang.” Ia menekan nada suaranya saat mengetahui jika yang memeluknya adalah Gilang, tunangannya!
“Pasti baru bangun yah?”
Raina mengangguk. “Iya.”
“Pantesan dari tadi aku nyium aroma kaya terasi busuk. Pasti belum mandi kan?” Kata Gilang disertai kekehan kecil diujung perkataannya.

Raina membulatkan mulutnya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gilang. Terasi busuk? Apa aroma tubuhnya sebau itu? Bilang padanya tidak, setidaknya hanya sekedar menyenangkan hatinya saja jika aroma tubuhnya tidak sebau itu. Raina melepaskan kasar tangan Gilang yang melingkar dipinggang rampingnya, memutar bola matanya kesal. “Apa sebau itu?”
Gilang tersenyum penuh arti. “Tidak kok sayang, aku bercanda! Ya sudah sana pergi mandi aku tunggu dibawah. Aku mau ajak kamu jalan-jalan.”
“Baiklah.”

Gilang, pria tampan yang telah menjadi bagian dari hidup Raina sejak bertahun-tahun lalu. Kehadirannya di hidup Raina menjadi penyemangat untuknya, bukan hanya menjadi pangeran di hidup Raina tapi Gilang juga telah menjadi Guardian Angel yang selalu ada untuknya setiap saat.

Dulu waktu mereka bertemu saat hal konyol itu hampir saja Raina lakukan karena entah kenapa Raina dengan bodohnya ingin mengakhiri hidupnya karena masalah asmara yang menimpanya. Waktu itu hujan deras menimpa kota Jakarta, Gilang baru saja ingin pulang seusai mata kuliahnya selesai. Saat mobil yang dibawanya melintasi sebuah jembatan layang matanya tertuju pada seorang gadis yang menaiki satu persatu pagar besi disisi jembatan. Ia memberhentikan mobilnya dan menghampiri gadis itu dibawah derasnya hujan. “Hei apa yang ingin kamu lakukan?” Teriakan Gilang mampu membuat Sang Gadis menengok kearahnya. Walau air hujan membasahi wajahnya Gilang bisa tahu jika dia sedang menangis, terlihat dari hidungnya yang memerah dan matanya yang membengkak.

“Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri.”
“Kau ingin sendiri dengan berdiri diatas sana? Jangan bodoh! Jangan sia-sia kan hidupmu dengan hal konyol seperti ini.”
“Hal konyol apa? Ini hal terbaik yang harus aku lakukan.”
“Kenapa kamu ingin mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini?” Gilang berusaha tenang dan bertanya baik-baik pada gadis dihadapannya supaya dia tidak nekad meloncat dari atas jembatan yang tingginya diperkirakan lebih dari 20 meter.

“Pacarku hiks hiks dia, dia selingkuh didepan mataku sendiri dan dia berani mutusin aku dengan kasar didepan wanita selingkuhannya itu.”

Gilang tertawa mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh gadis itu. Sang Gadis menatap heran kearah Gilang, kenapa dia tertawa diatas penderitaannya sekarang. “Kamu ingin mengakhiri hidupmu hanya karena seorang pria yang sama sekali gak sayang sama kamu? Dia bahkan gak akan peduli terhadapmu jika seandainya kamu mati. Mungkin dia sekarang sedang bersenang-senang dengan seorang wanita yang kamu sebut selingkuhannya itu. Berfikir dengan logika seandainya kamu bunuh diri disini bagaimana dengan keluargamu? Terutama bagaimana perasaan orangtuamu? Mereka orang yang paling berjasa dalam hidupmu? Apa kamu rela melihat air mata mereka terus-menerus tumpah mengiringi kepergianmu? Kamu tidak ingin itu terjadi kan? Masih banyak pria yang lebih baik diluaran sana. Kamu jangan terlalu mengharapkan seorang pria yang jelas-jelas tidak menginginkan kamu kembali dalam hidupnya. Move On hargailah hidupmu selagi itu bisa.”

Raina membatin akan perkataan Gilang yang seakan menusuk kedalam relung hatinya. Fikirannya kembali jernih setelah kata-kata Gilang Ia resapi. Benar katanya, jika Ia dengan bodohnya bunuh diri disini bagaimana dengan orangtuanya? Mama, Papa yang selama ini selalu ada untuknya. Yang selalu menjaganya hingga sekarang. Dia bodoh bahkan sangat bodoh tidak pernah memikirkan mereka. Ia hanya memikirkan perasaannya saja tanpa mempedulikan mereka nantinya seperti apa tanpa dia.

Gilang menarik tubuh Raina dari pagar besi dalam satu gerakan sampai gadis itu berada dipelukannya.

“Apa yang ingin kamu lakukan? Lepaskan aku, lepaskan!!” Teriakan dan berontakan Raina mampu membuat Gilang melepaskan pelukannya.
“Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin membantumu turun dari sana karena aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih fatal jika seandainya kamu benar-benar melompat kebawah sana.”

Raina menundukkan wajah cantiknya. Suara isakan itu terdengar jelas olehnya. “Maafkan aku. Aku memang benar-benar bodoh bisa berfikir ingin mengakhiri hidupku seperti ini. Aku sadar jika hal yang aku lakukan ini tidak benar. Aku menyia-nyiakan hidupku hanya untuk orang yang gak ingin aku ada lagi dihidupnya. Aku tahu sekarang jika hidupku lebih berharga dari dia dan aku akan berusaha untuk menjadi sosok wanita yang lebih tegar dalam menjalani apapun.”
Gilang tersenyum lega mendengar perkataan yang diucapkan gadis didepannya. “Nah begitu. Baru itu namanya wanita yang kuat.”

Raina melihat kearah Gilang, pria yang telah menyadarkannya pada hal konyol yang baru saja ingin Ia lakukan. “Makasih. Aku Raina, kamu?”
“Gilang.”
Mereka saling bersalaman memperkenalkan diri masing-masing. Sejak saat itu Raina sangat menyukai hujan karena hujan telah menyadarkannya dari hal konyol itu dan karena hujan juga dia bisa bertemu dengan Gilang pria yang selama beberapa tahun ini ada dalam hidupnya.

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Blog / Facebook: Ineu Desiana


Cerpen Tersenyum Dibalik Hujan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Ineu Desiana, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Rofinus Jatong

Di sini aku pernah mengkhianati dirinya, pada senja hari seperti saat ini. Ia duduk di sampingku seperti yang engkau lakukan. Ia bertanya dan meminta padaku untuk selalu mengisahkan kenangan-kenangan




Oleh: Emma Lini Rizky

Mungkin malam ini adalah kali terakhir untukku dapat menikmati langit gelap yang sarat akan bintang. Mungkin udara yang aku hirup saat ini adalah sesapan napas terakhir yang dapat ku




Oleh: Yulia Lily

Dera sedang duduk di halaman belakang rumah sambil memandangi bunga yang tumbuh subur, hujan baru saja berhenti. dia selalu sedih setiap ingat sosok pria gagah, cool dan keren yang




Oleh: Rizal Rahman

Rikal adalah anak pertama dari 2bersaudara, dia memiliki seorang adik perempuan yang masih balita bernama fila. Rikal termasuk anak yang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya, meski orangtuanya bekerja sebagai




Oleh: Dita Merdekawati

Ketika cinta, masih terasa, walaupun sudah jauh. Hari sudah semakin sore, malam sudah ingin menyambut, hujan pun tetap setia menemani Nona yang sedang menunggu. Bell sekolah sudah lama sekali



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: