8 tahun cerpenmu

Cerpen They Are Girls Too (Part 1)

Spread the love

Cerpen They Are Girls Too (Part 1)





Cerpen Karangan: Da Azure
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja

Lolos moderasi pada: 24 May 2022

This ain’t Build-A-Bitch (A bitch)
I’m filled with flaws and attitude
So if you need perfect
I’m not built for you (one, two, three)
This ain’t Build-A-Bitch (A bitch)
You don’t get to pick and choose

Lagu itu mengalun dari panggung yang tak bisa disebut sederhana di tengah-tengah lapangan SMA PB alias Pemuda Bangsa. Hari ini adalah hari kedua SMA PB mengadakan Pentas Seni. Apa yang biasanya ada di acara yang biasa disingkat Pensi itu? Ada menyanyi, menari tradisional, dance, musikalisasi puisi, dan jangan lupakan stan-stan makanan maupun hasil kerajinan dari masing-masing kelas yang tersebar di kanan kiri panggung Pensi.

Siswa-siswi berlalu-lalang di sekitar panggung Pensi. Mereka menunggu bintang sekolah yang akan segera tampil. Di antara lautan siswa-siswi yang memasang ekspresi senang sekaligus tak sabar, ada seseorang yang memasang ekspresi wajah bosan.

“Eh eh mau ke mana Der?” Cewek dengan sweater pink itu menarik temannya untuk kembali duduk. “Kenapa sih Lin? Aku bosen tau.” Sungut seseorang yang dipanggil ‘Der’ itu. Temannya menggoyang-goyangkan tangan gemas. “Itu Reon mau tampil loh. Kamu ga penasaran?” Kalimat itu dibalas angkatan bahu.

Alin melotot sebal pada temannya itu. “Deratna dengerin aku.” Ucap Alin serius. “Itu Reon mau tampil. Tampil nyanyi. Kamu kok biasa aja?!” Dera mengernyit, tak mengerti kenapa teman sekelasnya itu sedikit ngegas. “Alinda, aku mau tanya apa sih yang dikagumi dari si Reon-Reon itu?” Ucap Dera kesal. Alin menggeplak lengan Dera. “Ntar fansnya pada denger habis kamu dikeroyok Der.”
“Udah ah aku mau ke kelas. Tidur. Bye!”

Sebelum Alin menarik kembali tangannya untuk duduk di depan panggung Pensi, Dera sudah ngacir menuju kelasnya yang ternyata memutar lagu yang sama dengan lagu yang diputar di panggung. Untuk mengisi keheningan sebelum Reon tampil.

Ngomong-ngomong soal Reon, Dera sebenarnya tak terlalu tahu tentang cowok itu. Dera hanya tau bahwa Reon adalah siswa populer di SMA tempat ia menimba ilmu. Satu angkatan dengan Dera namun berbeda jurusan. Cowok badboy? Benar sekali. Reon adalah cowok badboy dari jurusan IPA yang memiliki fans terbanyak dibandingkan most wanted lainnya. Bahkan lebih banyak dari Ketua OSIS.

Tunggu … sepertinya Dera sudah tahu terlalu banyak tentang Reon. Dera menggeleng, mengusir pikirannya tentang Reon yang tiba-tiba hinggap. “Aku emang butuh tidur.” Gumam Dera pada diri sendiri.

Alin menepuk-nepuk pipi Dera keras. Ini sudah kelima kalinya Alin membangunkan teman kelasnya itu yang merangkap sebagai sahabatnya. Sadar bahwa tepukan di pipi takkan mengganggu tidur lelap Dera, Arin mengeluarkan jurus terakhirnya. Jika Dera tak bangun juga, ia akan meninggalkan cewek itu sendiri. Alin kesal.

“DERA, ADA REON NYAMPERIN!”

Teriakan itu membuat Dera gelagapan. Matanya mengerjab, berusaha memulihkan pandangan. Masih dengan kesadaran di bawah 100%, Dera mengangkat kepalanya yang membuat cewek itu mengerang pelan. Kepalanya mendadak pusing.

“Baru bangun tidur jangan langsung angkat kepala. Ntar pusing.” Ucap Alin. Dera diam sejenak untuk menuruti ucapan temannya itu setelah kesadarannya full 100% cewek itu menggeplak lengan Alin. Membuat Alin mengaduh. “Aduh, tenaga kamu udah keisi ya abis tidur.”

Dera mengabaikan sungutan Alin, matanya membulat ketika menyadari sekarang jam berapa. “Aku tidur 3 jam?” Dera ngeri sendiri. Apalagi melihat Alin yang mengangguk, membenarkan ucapannya. “Aku udah bangunin kamu 5 kali Der. Agak was-was juga sih takutnya kamu ga bangun lagi.” Jelas Alin. Dera menggeplak lagi lengan temannya itu. “Sembarangan kalau ngomong.”

Keduanya lalu keluar dari kelas, berjalan menyusuri koridor yang telah sepi. Bel pulang sekolah telah berbunyi 35 menit yang lalu.

“Alin, kamu pulang sama siapa?” Tanya Dera. Mereka telah sampai di halte sekolah. Alin menunjuk angkot yang terlihat dari kejauhan. “Kamu ga mau bareng aku aja?” Tanya Dera menawari tumpangan. Mobil hitam jemputan Dera sudah stand by dari 15 menit yang lalu.

Alin menggeleng. “Aku naik angkot aja.” Tolak cewek itu halus. Dera menatap kecewa, sudah berkali-kali dirinya menawari Alin tumpangan namun selalu ditolak. Alin selalu menjawab alasan yang sama yaitu: “Aku ga mau repotin kamu Der. Lagian tempat tinggal aku juga padat penduduk. Ntar yang ada kamu nyasar ga bisa balik.”

Tuh kan! Alin tersenyum. “Serius. Gapapa. Maaf Der. Aku ga mau repotin.” Senyum Alin sangatlah tulus, Dera menyadari itu. Senyum paling manis setelah senyum Mama Dera.

“Kalau gitu, sampai rumah chat aku Lin. Please …” Ucap Dera memohon. Netra Alin berkaca-kaca mendengarnya. Dera adalah sahabatnya sejak dua tahun yang lalu. Dengan senyum, Alin mengangguk. “Iya, aku janji. Aku duluan ya.”

Dera masih menatap angkot yang Alin naiki. Feeling Dera tak enak. Cewek itu menghembuskan napas, membuang perasaan anehnya kemudian melangkah mendekati mobil jemputan. Meninggalkan halte sekolah yang sepi. Tanpa Dera dan Alin sadari, ada seseorang yang sedari tadi bersembunyi di balik dinding halte. Menonton kedua cewek itu kemudian mengikuti salah satu dari mereka.

Dera berlarian sepanjang koridor sekolah. Sejak di depan gerbang, cewek itu mendengar dua berita buruk dari siswa-siswi. Berita yang sangat buruk. Dera bahkan beberapa kali menabrak siswa siswi yang berseliweran. Tanpa meminta maaf, Dera malah semakin menambah laju larinya.

“Permisi …”
Dengan tubuhnya yang mungil, Dera dapat merangsek membelah kerumunan. Jantung Dera makin berdegup ketika membaca satu dari dua berita yang tertera di Mading Sekolah. “Apa ini?” Gumam Dera sembari menggeleng. Cewek itu segera berbalik menjauhi Mading setelah terdiam selama beberapa menit. Dera mendudukkan dirinya di bangku depan kelas yang entah kelas jurusan apa. Kakinya sudah tak kuat untuk sekedar berdiri.

Di Mading itu terdapat dua berita. Pertama, SMA PB kalah dalam lomba MIPA se-provinsi. Kedua, ada siswi PB yang diberitakan telah di DO alias drop out.

Dengan tangan gemetar, Dera merogoh tasnya. Mencari benda persegi panjang bercasing bunga matahari. Cewek itu segera menuju aplikasi chat, mengecek apakah ada chat dari Alin. Tidak ada. Bahkan last seen Alin tertulis kemarin siang pukul 16.15, itu jam dimana Alin dan dirinya keluar dari kelas. Sebenarnya apa yang terjadi pada Alin?

“Lo temennya Alin kan?”
Sebuah suara membuat Dera mendongak. Di hadapannya kini ada 3 siswi yang menatapnya dengan pandangan jijik? Dera menganggukkan kepala namun tak menjawab sepatah kata pun.

“Bilangin temen lo itu, jangan bikin malu sekolah.” Ucap seorang cewek di tengah-tengah dengan pita merah. Cewek di sebelah kanannya berdecak. “Lo telat ngasih taunya Ren, udah kejadian malah si itu maluin sekolah.”
Cewek berpita itu tersenyum sinis. “Oiya ya. Lagian gue heran kok Alin bisa sih diterima di sekolah ini?” Nada suaranya menyindir. Dera tetap diam. Ia juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Eh kenapa? Lo belum baca berita di Mading atau website atau di grup sekolah ya?” Kali ini cewek di sebelah kiri yang bertanya. “Mau gue kasih tau?” Tanya cewek berpita. Tanpa mendengar jawaban dari Dera, ketiganya saling melirik. Melempar senyum yang bagi Dera menakutkan. Cewek berpita yang Dera kenali bernama Iren itu berdehem, lalu membaca berita yang ada di ponselnya.

“Pengumuman! Seorang siswi berinisial AD telah diskors dari sekolah. Diduga AD dan satu siswa terlibat sesuatu yang tak bisa sekolah maafkan.” Baca Iren. “Ini berita di website sekolah. Yang di Mading lo udah baca kan? Nah ini yang di grup sekolah.”

“Siswi yang dikenal sebagai Alinda Piara diskors dan diduga akan dikeluarkan dari sekolah. Cewek yang sering disapa Alin itu akan dikeluarkan karena melakukan sesuatu yang tak terduga. Pihak sekolah masih belum mengkonfirmasi bagaimana kelanjutan kasus Alin. Pihak sekolah juga masih berusaha menghubungi Alin. Bagi yang tau kabar Alin, segera hubungi guru BK. Terima kasih.”

Dera meremas roknya.

“Kami rasa kami harus beritau lo Der, bahwa Alin …”

Hampir dua bulan Alin menghilang. Dera masih mencari Alin dari hari awal Alin diskors sampai akhirnya pihak sekolah memutuskan Alin di drop out atau dikeluarkan. Sampai hari ini. Cewek itu akhirnya meminta bantuan Mama Papanya. Dengan koneksi sang Papa, Dera yakin bisa menemukan Alin, sahabatnya.

“Dera, mau titip sesuatu?” Tanya sang Mama. Yang ditanya mengangguk. “Tolong belikan susu kotak vanila sama strawberry Ma.” Mama mengangguk, keluar dari mobil lalu menuju minimarket. Sore ini Dera dan orangtuanya kembali mencari Alin. Biasanya Dera akan mencari Alin hanya bersama sopir keluarga dan Bibi, namun sudah keempat kali Dera mencari Alin bersama orangtuanya.

“Dera?”
Dera tersentak, menoleh pada sang Papa yang menatapnya khawatir. “Dera masih kepikiran Alin?” Tanya Papa. Dera terdiam, menundukkan kepala. “Alin itu cewek satu-satunya yang ga pernah minta kunci jawaban ke aku Pa.” Dera mendongak kemudian menatap Papanya dengan netra berbinar.

“Alin itu cewek yang bantuin aku waktu aku ketinggalan baju olahraga. Padahal waktu itu ada Praktek Olahraga buat ngambil nilai tengah semester. Alin bantuin aku dengan pura-pura ga bawa baju olahraga. Terus kami berdua dihukum, itu pertama kalinya aku kenal Alin.”

“Teman-teman aku ngusulin aku ga usah ikut praktek. Toh nilaiku masih di atas rata-rata. Tapi Alin engga, dia awalnya malah nawarin aku buat pinjem baju olahraganya. Biar dia aja yang dihukum.”

Dera menjeda kalimatnya. “Alin adalah satu-satunya teman kelasku yang peduli ketika aku pingsan waktu upacara. Aku cuma ingin tau gimana kabarnya Alin Pa, karena Alin itu sahabat aku. Satu-satunya sahabat aku.”

Papa Dera mengelus puncak kepala putrinya, berucap menenangkan. “Papa yakin Alin masih di sini. Sahabat Dera masih di sekitar kita. Berdoa sayang, semoga Alin baik-baik aja.” Ucapan itu dibalas anggukan Dera. “Dera takut Pa, Dera takut Alin tertimpa masalah.” Bisik Dera.

Selama mereka bersahabat, Alin jarang sekali menceritakan kehidupan pribadinya. Dera hanya tau Alin tinggal bersama kedua orangtuanya di sebuah rumah sederhana. Ya, Alin bukanlah anak orang kaya apalagi seorang sultan. Alin adalah cewek kurang mampu yang memiliki prestasi luar biasa. Sebab itulah Alin mendapat beasiswa full dari sekolah selama 3 tahun.

“Alin?”
Ketika Dera menoleh ke arah minimarket yang dimasuki Mama, netranya menemukan seseorang yang selama ini ia cari. “ALIN?” Dera buru-buru membuka pintu mobil, berlari menghampiri seseorang itu. Dera tersenyum cerah saat berhasil mencekal pergelangan tangan yang diyakininya sebagai Alin. “Alin, ini kamu kan?” Netra Dera berkaca-kaca.
“Bukan. Kamu salah orang. Permisi …”

Dera hafal betul suara sahabatnya. “Kamu Alin.” Dera bersikeras untuk membalikkan badan seseorang yang ada di hadapannya. Senyum cerah Dera berangsur menghilang ketika menatap wajah Alin yang berubah. “Alin? Kamu kenapa?”
Alin berusaha melepaskan cekalan Dera. Cewek itu menundukkan kepala setelah bersitatap dengan Dera. “Jangan sentuh aku!” Bentak Alin. Dera berjengit, menatap Alin tak percaya. Alin membentaknya?

“Dera?”
Mama dan Papa Dera menghampiri kedua cewek yang masih berdiri berhadapan itu. Alin makin menunduk. “Maaf …” Alin melangkah menjauhi Dera yang masih bergeming di tempat. Belum ada tiga langkah tiba-tiba Alin merasa perutnya sakit. Tangis Alin mulai terdengar. “Sa kitt …”

Dera tersadar. Cewek itu berlari mendekati Alin. “Alin, kamu sakit?” Tanya Dera cemas. Wajah Alin pucat. Kedua tangan cewek itu mencengkram perut. “Dera, sakitt Der.” Isak Alin makin menjadi.
“ALIN!”
Dera menjerit ketika tubuh Alin limbung. Jika saja Dera tak sigap menahan lengan dan bahu Alin, bisa dipastikan Alin akan menghantam aspal di bawah sana. “ALIN?!” Dera panik mendapati mata Alin tertutup. “PAPA, BAWA ALIN KE RUMAH SAKIT PA!” Tangis Dera meledak.

Koridor rumah sakit lengang ketika jam tangan Dera menunjukkan pukul 7 malam. Dera menunduk menatap lantai koridor. Pikirannya melayang kembali saat Alin tak sadarkan diri. Apa yang terjadi pada Alin? Apa Alin sakit? Penampilan dan wajah Alin tak luput dari pikiran Dera. Ingatan Dera tak mungkin salah saat tiga bulan lalu tubuh Alin masih kurus. Lalu kenapa sekarang malah terlihat berisi?

“Keluarga Alinda?”
Suara seseorang membuyarkan lamunan Dera. Dera sontak berdiri, memandang dokter yang baru keluar dari ruangan. “Saya sahabatnya Dok.”
Dokter wanita itu menghela napas. “Apa sudah menghubungi keluarga Alinda?” Dera menggeleng. Ia tak punya kontak keluarga Alin, satu pun.
“Kami walinya Dok.” Ucap Mama Dera yang sedari tadi menonton putrinya. Papa Dera ikut berdiri. “Bagaimana keadaan Alin, Dok?” Tanya Papa.

“Dokter Ratna.” Sapa dokter itu. “Bisa kita bicara di dalam? Pasien tidak apa-apa. Tapi ada yang ingin saya bicarakan terkait Alin.” Ucap sang dokter.
Dera mengikuti dokter wanita itu dan kedua orangtuanya. Mengekor di belakang.

“Alin kecapekan. Sepertinya Alin tak makan selama 4 hari terakhir. Karena itu Alin jadi lemas.” Jelas dokter Ruri tersenyum. Menatap Alin yang belum sadarkan diri. “Alin perlu istirahat. Beruntung, kandungannya baik-baik saja.”

“Kan dung an?” Mata Dera membulat. Terkejut. Begitu juga dengan kedua orangtua Dera. “Maksud dokter, Alin hamil?” Tanya Dera. Anggukan dokter Ruri membuat kaki Dera melemas. Katakan bahwa ini mimpi. Cepat katakan …

Cerpen Karangan: Da Azure
Biasa dipanggil Da
Dapat ditemui di Wattpad
Akun pribadi: @Daa_zure
Akun bersama bestie: @Filila_3

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 24 Mei 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen They Are Girls Too (Part 1) merupakan cerita pendek karangan Da Azure, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Robby C.A.

Bagai Vampire yang haus darah, di usiaku yang genap delapan belas tahun ini, aku sangat haus akan ilmu. Terutama ilmu keagamaan. Aku bukan orang yang mudah percaya begitu saja




Oleh: Latania Rokhim

Namaku Olivia Tam, tahun ini umurku menginjak lima belas tahun tepatnya di bulan desember. Aku bersekolah di SMA Harapan Nusa 1. Nama populerku adalah kacamata, karena memang aku memakai




Oleh: Nick G

Beginilah aku di sepanjang tahun, berkutat di meja belajarku dengan laptop di depan mataku. Kursi kantor yang bisa bergoyang itu betul-betul memanjakan tubuhku. Aku bisa seharian duduk berjam-jam bermain




Oleh: Aprilianju Kristesia Purba

Rerumputan menari-nari menyambut indahnya pagi. Burung-burung bernyanyi menjanjikan sejuta harapan. Embun menggumpal-gumpal bagaikan salju putih suci. Air yang melafalkan bunyi yang membentuk makna kata. Hentakan kaki yang membentuk sebuah




Oleh: Devi Anggelina

3 tahun bersama kini saatnya aku harus meninggalkan mereka. Putih biru yang ku banggakan dulu kini berganti menjadi putih abu-abu. Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMK. Tidak



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: