8 tahun cerpenmu

Cerpen Tribun

Spread the love

Cerpen Tribun





Cerpen Karangan: Aci Adi Iansah
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Romantis

Lolos moderasi pada: 28 June 2022

Aku dan dia memiliki kesamaan yang pertama sama-sama manusia, yang kedua memiliki perasaan yang sama dan yang ketiga sama mencintai klub yang bernama Arema Malang. Karena memiliki kecintaan yang sama kepada klub sepak bola aku dan dia memutuskan untuk datang langsung ke stadion untuk menyaksikan tim kebanggan berlaga. Aku dan dia mencintai sebuah klub yang bukan berasal dari daerah kami, tapi kami mencintainya dengan tulus dari hati yang paling dalam.

Aku diperkenalkan nama Arema sejak aku masih kecil oleh ayahku yang kebetulan asli orang Malang, dulu aku sering diajak untuk nonton ke stadion secara langsung. Dari situ lah mulai tumbauh rasa kebanggan dan panggilan jiwa untuk mendukung secara total Arema. Sedangkan dia mulai mengenal Arema ketika diajak mantannya untuk nonton bersama ke stadion, namun cintanya kepada pacarnya yang dulu sudah hilang karena ketahuan selingkuh, tapi itu tidak berlaku kepada cintanya kepada Arema yang akan selalu ada dijiwanya.

Panggilan jiwa untuk mendukung secara langsung mulai berkobar setelah dua tahun hanya bisa nobar lewat layar televisi saja. Aku dan dia memutuskan untuk secara langsung akan datang ke stadion untuk memberikan dukungan dan teriakanku yang selama dua tahun harus aku pendam.

Aku dan dia berangkat dari luar kota menuju ke Malang untuk menyaksikan tim kabanggan kita berlaga melawan tim yang harus dikalahkan. Kami berangkat ke Malang dengan menaiki kereta api yang menurut kita itu termasuk yang paling aman untuk mencegah terjadinya sesuatu di perjalanan seperti sweeping. Selama perjalanan aku duduk disampingnya untuk memastikan dia akan selalu aman. Setelah, menempuh perjalanan yang cukup melelahkan kami akhirnya sampai di stasiun dekat stadion tempat dimana tim kebanggan kita akan berlaga.

Aku dan dia memutuskan untuk mengisi perut yang sudah kosong dengan sepiring nasi pecel yang ada di dekat stasiun. Sesuai makan kami berangkat menuju ke stadion yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.

Pada saat perjalanan menuju stadion, tiba-tiba ada mobil hitam yang berhenti di depan kita untuk menawari tumpangan. Aku yang melihat wajahnya yang cukup kelelahan dengan sedikit keringat di dahinya, aku memutuskan untuk menerima tawaran itu. Selama di mobil aku dan orang yang memberikanku tumpangan ternyata juga berasal dari luar kota yang datang ke Malang untuk mengawal tim kebanggannya berlaga. Aku dan orang yang memberikanku tumpangan saling bercengkerama tentang tim kebanggan kita yang akan bertanding mulai dari pemain, prediksi skor dan isu pelatih yang minim taktik.

Setelah melakukan perjalanan beberapa menit akhirnya sampai di stadion yang sudah cukup ramai dengan orang-orang yang memakai baju biru bergambarkan singa mengepal.

“Mas makasih ya atas tumpanganya.” ucapku sambal memberikan tos tangan.
“Iya mas sama-sama, sesama Aremania harus saling membantu.” ujar orang yang memberikanku tumpangan dengan memberikan tos balik.

Aku dan dia berjalan menuju ke mushola dekat area stadion untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, jangan sampai lupa untuk beribadah kehidupan dunia dan akhirat harus seimbang. Selesai melakukan ibadah aku dan dia beranjak untuk pergi ke salah satu warang yang ada di area stadion untuk beristirahat sebentar sebelum memasuki stadion. Aku dan dia menikmati segelas es degan dengan ditemani berbagai macam tempura. Aku melihat suasana stadion yang sudah sangat ramai dengan lautan manusia untuk mendukung tim kebangganya berlaga.

“Aku beruntung bisa ketemu kamu.” ungkapku sambil memakan satu tempura.
Dia mengerutkan dahinya bingung dengan yang aku ucapkan “Maksudmu gimana?”
“Aku bisa menemukan seorang perempuan yang memiliki tim kebanggan yang sama. Apalagi mau nemani aku jauh-jauh datang kesini.”
“Itu mah udah panggilan jiwa.” ucapnya dengan menyeruput es degan.
“Garuda di dadaku, Arema di jiwaku, kamu di hatiku.” rayuku dengan tertawa kecil.
Wajahnya seketika berubah menjadi merah merona “Apa an sih alay.”
“Nggak papa alay, yang penting udah buat kamu baper.”

Aku dan dia beranjak berdiri dari warung lesehan untuk bergegas masuk ke dalam stadion untuk mencari tempat duduk yang enak untuk melihat tim kebanggaan. Aku dan dia mulai berjalan menuju ke pintu masuk stadion, yang mana sudah sangat antre dengan para suporter yang akan memasuki stadion.

Setelah antre cukup lama kini giliran aku dan dia masuk ke dalam stadion. Aku dan dia sudah masuk kedalam stadion yang sudah sangat rame dengan para suporter yang sudah siap untuk memberikan dukungan kepada tim kebangganya. Mataku mencari bagian kosong dari tribun yang untuk tempat duduk kami berdua.

Selama mataku terus mencari tampat duduk yang kosong, dia tiba-tiba memelukku dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Kamu kenapa?” tanyaku dengan sangat panik.
“Handphoneku kecopetan.” ucapnya dengan menangis sejadi-jadinya.
Disini aku merasa terlena yang mengakibatkan aku dan dia kecolongan oleh copet yang memanfaatkan keramaian untuk melakukan aksinya. Aku tidak bisa memberikan keamanan dan perlindungan kepadanya aku merasa sangat bersalah.

Segera aku menghampiri polisi yang kebetulan sedang ada di dekat kita. Aku mencoba untuk meminta bantuan kepada polisi, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena suasana stadion yang cukup ramai tidak memuninkan untuk bisa menemukan pelaku copetnya. Ternyata yang mengalami hal tersebut bukan hanya aku dan dia, tetapi banyak yang mengalami hal sama.

Aku langsung mengajaknya untuk duduk di tangga masuk ke dalam stadion untuk menenangkan dirinya, sedangkan aku berusaha untuk menghubunginya dengan handphoneku, tapi hasilnya sia-sia. Aku mencoba untuk menenangkannya yang sangat sedih dengan mengelus-elus bahunya, memeluknya dan merayunya untuk tidak mengeluarkan air mata lagi.

Setelah kejadian itu, moodku untuk menyaksikan pertandingan sudah tidak semangat lagi. Aku dan dia hanya duduk di tangga pintu masuk dengan termenung sambil mendengar suara dari penonton yang bersorak-sorak memberikan dukungan. Aku dan dia yang seharusnya bisa memberikan semangat dengan suara teriakan yang lantang, kini hanya bisa duduk dengan wajah lesu.

Pada akhirnya aku dan dia gagal menonton tim kebanggan kita berlaga karena memutuskan untuk keluar stadion lebih awal. Aku mengajaknya duduk di trotoar pinggir jalan sambil menikmati sempol dan cilok untuk sedikit membuatnya bisa tersenyum lagi. Aku dan dia hanya bisa mendengarkan suara riuh dari penonton yang ada di dalam stadion.

Cerpen Karangan: Aci Adi Iansah
Blog / Facebook: Aci Iansah
Seorang mahasiswa biasa yang sedang gabut danjomblo


Cerpen Tribun merupakan cerita pendek karangan Aci Adi Iansah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Lentera Langit Jingga

Pada hari itu, sekitar bulan oktober 2016, aku diajak oleh mars kabaret subang untuk mengikuti festival di karawang se-3 provinsi (jabar, dki, banten) aku terpilih bersama teman temanku mewakili




Oleh: Wachidatul Umah

Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh




Oleh: Fiona Christianni

Sudah beberapa bulan Risa mendapat selembar surat dalam lokernya. Surat-surat itu berisi tentang sebuah cerita tetapi romantis. Tidak seperti biasanya jika orang mengirimkan surat berupa kata-kata mutiara, puisi, ataupun




Oleh: Priska

Ini kisah nyata yang dialami olehku. Waktu itu sekitar tahun 2003, Papaku ditugaskan kerja di Yogyakarta di salah satu bank BUMN. Dan bertepatan dengan itu, merupakan tahun pertamaku kuliah




Oleh: Akang Basituo

“Tinong… tinong…” Notifier Eager, sebuah nada pesan baru BBM dari smartphone BlackBerry putih kesayangan saya. Gerakan ujung pulpen itu terhenti tepat di atas kertas yang masih belum selesai saya



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: