8 tahun cerpenmu

Cerpen Waktu Subuh

Spread the love

Cerpen Waktu Subuh





Cerpen Karangan: Cahya Ainu Rahman, Seila Nuzhatul Awwaliyah
Kategori: Cerpen Islami (Religi)

Lolos moderasi pada: 2 June 2022

Di malam yang sunyi, badan yang terbaring lemas di kasur, dan tatapan kosong yang mengarah ke atas atap. Mengingat kembali pada dirinya di masa lalu.

Ya, inilah aku, sang pendosa yang selalu mengharapkan ampunan dari Allah. Seorang ahli maksiat yang berbangga diri, beraksi dikala sepi, dan tak sadar atas dosa-dosanya saat itu. Yang terkadang sadar atas perilakunya, namun tak peduli seolah tak ada yang terjadi.

Gerimis menyambut malamku yang semakin larut, menitipkan ketenangan. Dengan lembut, kurapalkan kalimat istighfar dalam diam. Ketika otakku berhenti memproduksi kata, ketika itu pula tidak kudapati apapun selain istighfar. Karena hal yang paling kuingat pertama kali adalah dosaku kepada -Mu, ya rabb.

Kupaksakan mata ini untuk memejamkan mata, dan berharap masih bisa bernafas bebas esok pagi.

“asholatu khairum minannaum”
Suara lantunan adzan subuh yang berkumandang, mengetuk sang hati untuk segera menghampiri panggilan dari dirimu ya Rabb.

Tubuh ini yang masih lemas, mata yang masih tertutupi rasa kantuk. Namun, hal itu tak mengurangi rasa semangatku untuk menunaikan kewajibanku.

Aku beranjak dari ranjang empukku, mengarahkan kakiku ‘tuk berjalan ke arah kamar mandi menyiapkan diri ‘tuk bertemu dengan Rabb-ku. Berwudhu dan memakai pakaian, sekarang aku telah siap ‘tuk beribadah kepada Rabb-ku.

Aku kemudian berjalan ke masjid, rumah bak mahligai milik Rabb-ku. Di dalamnya terdapat banyak manusia yang dengan semangat melaksanakan sholat Qobliyah subuh. Ah, lihat paras daripada sang pendiri sholat itu, terlihat bersinar dengan cahaya yang sejuk dipandang.

Sebelum melaksanakan sholat subuh, aku menyempatkan diri ‘tuk melakukan sholat sunnah Qobliyah subuh. Semakin lama, semakin banyak makmum yang datang untuk beribadah kepada Allah. Aku menyelesaikan sholat sunnahku, setelahnya Muadzin segera mengumandangkan iqamah. Semua orang berdiri dari duduknya dan menyiapkan diri sebaik mungkin ‘tuk bertemu dengan Allah.

“Allahuakbar”
Imam melantunkan takbir, memulai sholat subuh berjamaah dengan para jemaat yang hadir. Aku kemudian membaca niat dan segera melaksanakan sholat.

Selepas solat, ku duduk sambil mengucap dzikir. Kutarik nafasku, lalu kubuang perlahan-lahan. Hawa yang dingin, membuat badanku gemetar serta bulu tanganku berdiri.

Kuucapkan istighfar sambil mengingat atas dosa-dosaku selama ini. Lalu, kuangkat kedua tangan ini. Dan berdoa seperti biasanya. Selesai melakukan semuanya, kemudian aku pulang.

Sesampainya di rumah, aku langsung memasuki kamar. Dan dengan terkejut, aku melihat diriku yang masih terbaring di kasur milikku,

“Tunggu,” kataku

Ku terdiam sesaat, terlalu bingung akan hal yang terjadi. Perasaanku terasa aneh, semuanya menjadi satu. Antara takut dan bingung menjadi satu.

Lalu kemudian aku dikejutkan kembali dengan suara adzan yang berkumandang.
“Hah? Apa maksud semua ini?!” spontan aku terkejut, semua ini terlalu membingungkan.
Diriku dibuat lebih bingung. Bagaimana mungkin sebuah adzan berkumandang lagi, sedangkan diriku baru saja sholat subuh berjamaah di masjid.

Merasa sudah tidak beres, akupun memberanikan diri untuk membangunkan ragaku itu. Saat kusentuh,

“Huuh”
Aku terbangun dari tidurku, detak jantung yang begitu berdebar debar. Membuatku heran,
kutarik napas yang panjang lalu kubuang dengan perlahan lahan. Aku pun mencoba menenangkan diri ini.

Selang beberapa waktu,
Adzan subuh pun berkumandang,

Ternyata selama ini itu hanyalah sebuah mimpi semata.
Hmm.. mungkin ini adalah peringatan Allah yang diberikan kepadaku.

Cerpen Karangan: Cahya Ainu Rahman feat. Seila Nuzhatul Awwaliyah

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Juni 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Waktu Subuh merupakan cerita pendek karangan Cahya Ainu Rahman, Seila Nuzhatul Awwaliyah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Aisyah Nur Hanifah

Setelah berkeliling memutari areal masjid, kemudian, Syabil selanjutnya mengajakku kembali menuju ke tempat sejarah yang kedua di Cordoba. Tempat tersebut, berlokasi di kota Zaragosa, dan bersebelahan dengan bukit sejuk




Oleh: Sabah Ashfiya A.S.P.

Senja sore tak menghalau badan kurus kecilnya, rintik anak hujanpun ia hiraukan, bahkan duri-duri putri malu yang mengenai kakinya pun tak ia rasakan. Sepatu yang dulunya putih perlahan-lahan menjadi




Oleh: Rasyad Fadhilah

Pagi telah datang. Matahari naik dari ufuk timur ketika aku bersama Abangku, berjalan ke telaga. Tempat ia seringkali berkisah, meski saban pagi hari minggu. Kami duduk di bawah trembesi,




Oleh: Muhammad Faizal

Adzan shubuh baru saja berkumandang, aku masih saja tak beranjak dari tempat tidurku, menarik selimut agar tak kedinginan, menutup kedua telinga dengan bantal agar tidak mendengar kebisingan orang yang




Oleh: Hayatun Sakinah

Umur 2 tahun kematian hampir menjemputnya, tapi Allah masih mengizinkan ia untuk merasakan bagaimana kehidupan. Ada seorang gadis yang berkelahiran tahun 1990. Dia memiliki impian yang sangat mulia, dia



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: