8 tahun cerpenmu

Cerpen Whisper of Death (Bisikan Kematian)

Spread the love

Cerpen Whisper of Death (Bisikan Kematian)





Cerpen Karangan: Fajar Laudzza Malik Bahari
Kategori: Cerpen Penyesalan

Lolos moderasi pada: 31 July 2022

Hai, selamat pagi. Pagi ini masih sama dengan pagi-pagi sebelumnya pagi yang menyebalkan, pagi yang membosankan, pagi yang terkutuk, i don’t know why, I’m just hate morning. Buatku pagi sama saja awal hari menuju kesengsaraan, yah begitulah deskripsi pagi menurutku, aku harus bergegas mandi dan memakai pakaian rapi hanya untuk menghadapi kesengsaraan sepanjang hari. Eh lupa, let me introduce about my self my full name is danil, I’m 17 years old, i like to spend my time with new stories.. Oke gitu aja perkenalannya.

Tepat pukul delapan aku sudah sampai di sebuah kantor tempatku praktek kerja lapangan (PKL), mungkin para pelajar SMK sepertiku tidak asing lagi dengan kegiatan yang satu ini, di sini aku merasa menyesal telah mengambil tempat PKL di kota ini, aku begitu tersiksa melaksanakan PKL di kota, ini aku merasa aku berada di rumah, ya rumahku.

Situasi rumahku yang membuatku lari ke kota ini, di rumah papi sibuk dengan urusan kantornya sedangkan mami udah lama pergi ninggalin aku di dunia ini, aku merasa kesepian di rumah, hal ini lah yang membawaku ke kota, ini ternyata sama saja, aku merasa sangat kesepian juga ditambah lagi aku diemban tugas yang diluar kemampuan anak SMK sepertiku, tapi apalah daya demi nilai sekolahku agar aku bisa naik kelas dan menjadi orang sukses lalu pergi jauh keluar negeri meninggalkan tempat terkutuk ini.

Aku berjuang di sini sendirian melawan rasa bosan hidup ini, sempat aku berpikir untuk bunuh diri dengan memotong nadi, tapi sialnya aku tidak menemukan benda tajam satupun saat itu, kedua aku pernah mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari rooftop sebuah gedung tinggi, sialnya saat aku naik lift aku malah terjebak karena liftnya rusak, rencananya pun gagal, ketiga aku pernah mencoba bunuh diri dengan membakar tubuh, sialnya juga aku tidak kuat dengan bau bensin yang membuatku muntah-muntah, saat malam hari untuk terakhir kalinya aku mencoba berdiri di jalan raya dengan harapan akan tertabrak dan tewas, namun hal sial apa yang menimpa setiap kali hendak bunuh diri selalu saja ada halangan, kali ini halangannya tidak ada satupun kendaraan yang melintas di jalan itu, dan aku baru ingat betapa bodohnya aku jalan ini kan sedang dalam tahap renovasi dan jalurnya dibuat jadi memutar, sungguh sial sekali hidup penuh sial, mau mati pun masih mendapat kesialan. Aku berpikir mungkin tuhan sudah menakdirkan aku untuk tidak mati cepat.

Kulihat jam di dinding kantor ternyata masih pukul 11 am, aku berharap bisa pulang dan di perjalanan aku mati, hanya itu saja yang ada di pikiranku saat ini.

Setelah sekian lama akhirnya hari melelahkan ini telah berakhir, aku berjalan menuju kost-kostanku dengan sempoyongan. Kebetulan kostku dekat dengan sebuah lautan yang menjorok ke darat, apa sih namanya itu, selat apa teluk ya?, buat yang tau kasih tau ya, udah lupa soal namanya apaan itu, kan pelajaran SD wajar dong aku lupa.

Oke lanjut ke story, aku selalu menyempatkan untuk mengunjungi lautan itu dan menangis sejadi-jadinya di sana, meratapi hidupku yang sangat menyedihkan ini. Saat sudah gelap barulah aku kembali ke kostanku sambil berharap besok mataharinya bakalan telat bangun.

Namun entah kenapa malamnya aku bermimpi melihat tempat yang dipenuhi air dan sangat gelap, tak ada penerangan, aku merasa sesak napas dan semuanya menjadi hening. Aku terperanjat dari kasur kost dan melihat jam meunjukan pukul 3 am aku lantas berdiri, tiba-tiba aku mendengar ada yang memanggilku dari arah lautan, seperti tersihir aku mengikuti alunan suara itu hingga ke tengah lautan, tanpa aku sadari aku tenggelam dan mencoba meggapai apa saja yang bisa membantuku untuk mengapung sambil berteriak panik namun nihil tak ada hasil, karena suasananya masih sangat pagi jadi wajar tak ada orang yang mendengar teriakanku meminta tolong.

Semakin lama aku merasa kakiku kaku, hampir seluruh tubuhku kram hingga aku tidak kuat lagi untuk mencoba mengapung, aku tenggelam, perlahan semuanya hening dan sangat tenang, paginya aku telah terdampar di pantai, aku terbagun saat semua orang berteriak ada mayat di pingir pantai, aku yang kepo ini langsung ikut melihat korban itu namun hal aneh terjadi, orang-orang sekitarku tak ada yang melihatku mereka hanya lewat menembusku. Seketika aku melihat ke arah mayat tadi alangkah terkejutnya aku mayat itu adalah tubuhku.

Aku meyesal telah mati, ternyata mati membuatku lebih kesepian, tak ada orang yang melihatku seperti waktu aku hidup, aku jadi ingin hidup kembali dan memulai hidup baru, tapi semua sudah terlambat, aku telah mendapat keinginanku selama ini untuk mati.

Cerpen Karangan: Fajar Laudzza Malik Bahari
Ig: fajar_laudzza
hi nama ku fajar laudzza malik bahari
aku kelas 11 smk jurusan ku rpl (rekayasa perngkat lunak) ini cerpen pertamaku semoga kalian suka jangan lupa komen ya serta saran nya oh iya follow juga ya ig ku @fajar_laudzza buat yang ingin tau tentang aku liat aja instagram ku
happy reading


Cerpen Whisper of Death (Bisikan Kematian) merupakan cerita pendek karangan Fajar Laudzza Malik Bahari, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

WhatsApp



” Baca Juga Cerpen Lainnya! “





Oleh: Hastuti Mahmud

Desir angin yang lembut menenangkan jiwa, percikan air hujan yang menciptakan irama yang merdu, diikuti lantunan adzan yang menyejukkan kalbu, membuat perempuan paru baya itu enggan beranjak dari tempat




Oleh: Ilham Sullivan

Anya membuka pintu kamarnya, kemudian segera berjalan ke depan pintu kamar Axel. Anya menatapnya dengan kesal, kemudian memukul pintu itu dengan keras sampai tangannya sendiri terasa sakit. “Axel! Bisa




Oleh: Osilia Deva Firdaus

Penyesalan selalu datang di akhir bila di awal itu adalah pendaftaran. Seperti yang aku alami semua penyesalan ini seakan tiada arti. Selama ini aku selalu sibuk dengan dunia-dunia baruku




Oleh: Soviyatul Maskuroh

Fahrezi Paramitha dan Zee, nama akrabku. Seorang yang egois, menikmati hidup semaunya sendiri, mempermainkan cinta hanya demi kepuasan. Hidupku milikku, kata-kata itulah yang membimbing di setiap hari yang ku




Oleh: Sri Ambar

“Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu, selamat tinggal Arya” aku melangkah agak menjauhinya. “Jangan pergi, aku mohon. Jangan tinggalin aku In, aku benar-benar sayang sama kamu” terang Arya yang



8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”



Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: